Sejujurnya, ada semacam jebakan Batman yang sering kali nggak disadari oleh para pejuang skripsi. Bimbingan berjalan begitu mulus, revisi minim, dan dosen pembimbing tampak selalu mengangguk setuju dengan segala isi naskah terdengar seperti durian runtuh bagi sebagian mahasiswa tingkat akhir. Mereka pikir, mereka adalah mahasiswa teladan yang sedang melenggang santai menuju kelulusan.
Kenyataannya, fakta di lapangan kerap kali lebih jahat. Kelancaran yang tampak luar biasa ini justru menjadi alarm bahaya yang terabaikan. Bukan nggak mungkin, dosen pembimbing nggak sedang memberi restu. Namun, bisa jadi hal tersebut adalah sinyal kalau bom waktu yang selama ini nggak terbayangkan, bakal meledak saat sidang pendadaran.
Jarang beri koreksi, dosen sebenarnya sedang menghemat energi, dan jadi bahaya di sidang skripsi
Sebaiknya, stop dulu euforia saat melihat naskah skripsi yang dikembalikan tanpa banyak coretan. Kadang, dosen pembimbing yang terlalu irit koreksi itu bukan karena skripsi tersebut sudah sempurna. Tapi karena dosen sudah lelah menghadapi gaya tulisan dan alur berpikir mahasiswa yang susah dicerna.
Toh, dosen juga manusia biasa yang punya rasa lelah. Ada fase di mana dosen merasa pasrah dan membiarkan mahasiswa tertentu buat maju sidang dengan segala cacat bawaan. Realitasnya, mereka bukan sedang mendukung mahasiswa jenis itu.
Sebaliknya, dosen cuma sedang menghemat sisa energi yang ada untuk nggak berdebat dengan logika yang sejak awal sudah melenceng tapi menolak diluruskan. Apalagi, kalau mahasiswa tersebut adalah jenis yang suka ngeyel tanpa dasar akademis yang kuat. Maka, jangan kaget kalau di ruang sidang nanti, dosen penguji justru yang akan menghabisi apa yang dulunya dianggap aman-aman saja oleh dosen pembimbing.
Data yang terlalu sempurna adalah bahaya di depan mata
Percayalah, dalam dunia penelitian, data yang terlihat terlalu rapi atau terlalu indah untuk menjadi kenyataan itu sebenarnya mencurigakan. Terlebih, kalau jumlah sampelnya terbilang fantastis. Malah, hasil analisis yang mendukung hipotesis penelitian 100% tanpa anomali sedikit pun sering kali menjadi red flag bagi penguji yang berpengalaman. Nah, sidang skripsi bisa jadi bahaya di sini.
Sebab, mereka tahu betul kalau penelitian di lapangan itu penuh kotoran, kerumitan, dan kesulitan memperoleh data. Jadi, kalau hasil olah data seorang mahasiswa tampak terlalu mulus seperti kulit bayi, penguji akan dengan sangat mudah curiga. Pasalnya, memang nggak sedikit mahasiswa yang coba-coba menantang dosen dengan melakukan manipulasi kreatif tanpa memahami data yang diproses sendiri.
Daftar pustaka yang boleh asal comot dari jurnal mana saja
Salah satu masalah klasik mahasiswa adalah memperoleh artikel jurnal rujukan untuk memperkuat landasan teori mereka. Masalahnya, akses jurnal bereputasi itu terbatas. Kadang, harus membayar mahal. Makanya, banyak mahasiswa yang pasrah mengacu pada artikel jurnal yang mungkin saja abal-abal.
Di sisi lain, banyak mahasiswa mengira daftar pustaka yang tebal dan berisi barisan artikel jurnal itu bakal terlihat oke. Padahal, reputasi jurnal yang diambil justru lebih penting ketimbang jumlahnya. Pun, daftar pustaka yang hanya sekadar asal tempel tanpa relevansi yang kuat dengan pembahasan bakal jadi lubang besar buat jebakan diri sendiri. Sebab, mahasiswa cuma bisa bengong saat ditanya lantaran nggak paham isi artikel yang dikutip.
Judul skripsi yang terlalu idealis, tapi isi minimalis
Judul skripsi yang terdengar sangat megah, filosofis, dan ambisius mungkin terlihat keren dan pas buat pamer. Namun, terkadang hal ini justru jadi masalah saat sidang. Soalnya, judul yang terlalu visioner justru seringnya nggak diimbangi dengan isi yang berbobot pula.
Misalnya, ada mahasiswa yang berkhayal mau mengubah dunia dengan penelitian yang terlalu luas. Sementara, metodologi yang digunakan ecek-ecek. Kalau sedang sial dan bertemu model penguji yang suka menginterogasi mahasiswa empunya judul tinggi melangit tapi pembahasannya jatuh ke dasar bumi, mereka malah bisa berpotensi nggak lulus.
Intinya, sidang skripsi bukanlah ajang pamer kecerdasan yang berakhir dengan tepuk tangan meriah seperti di film-film. Justru, sidang itu jadi meja bedah intelektual buat menguliti setiap argumen, mempertanyakan data, dan mengorek asumsi hingga ke akarnya. Maka, kalau pendakian menuju tanggal sidang terlalu mulus, bersiaplah untuk dibabat habis ketika hari itu tiba.
Yang pasti, sidang skripsi ada bukan untuk menjatuhkan mahasiswa. Melainkan, sebagai panggung pembuktian kalau seseorang memang pantas bergelar sarjana. Bukan modal keberuntungan lantaran tenggat waktu masa kuliah atau dosen yang kadung menyerah.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













