Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Jangan Anggap Enteng Urusan Sampah di Jepang

Primasari N Dewi oleh Primasari N Dewi
6 Oktober 2021
A A
Salon de thé François industri musik jepang mojok

industri musik jepang mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Jepang merupakan salah satu negara yang bersih. Kesadaran warga Jepang untuk menjaga kebersihan sepertinya sudah menguat dan mendarah daging. Malu buang sampah sembarangan. Pekewuh kalau sampai membuat orang lain tidak nyaman. Pemerintah Jepang juga sangat ketat mengawasi soal persampahan ini.

Bagi orang asing yang akan tinggal di Jepang dalam jangka waktu lama, tentu saja pengetahuan tentang pemilahan sampah itu penting. Sampah organik (bisa dibakar), sampah anorganik (tidak bisa dibakar), sampah bisa didaur ulang (pet botol, kaleng), dan sebagainya. Pet botol saja, tutupnya harus diambil dulu sebelum dibuang, lho. Wow.

Ada beberapa fakta unik soal persampahan Jepang ini, yang sebaiknya kalian ketahui.

Susahnya mencari tempat sampah

Banyak yang bilang katanya susah mencari tempat sampah di tempat wisata Jepang. Bukan berarti tidak ada sama sekali sih, hanya saja memang tempat sampah itu sangat sulit ditemukan di tempat umum. Ada sih, tetapi mungkin digembok. Artinya tidak semua orang boleh membuang sampah di situ.

Alasannya bisa jadi karena tempat sampah itu mengganggu pemandangan. Berdasar pengalaman, tempah sampah di tempat umum biasanya diisi pemilahannya ngawur dan penuh berjejalan. Padahal jelas ada pemilahan sampah yang harus dilakukan. Tapi, karena di tempat umum dan tidak ketahuan siapa yang membuang, maka para oknum pun seenak perut sendiri. Kalau sudah begini, petugas sampah mau tidak mau harus memilahnya dan hal itu sangat ribet merepotkan.

Bagi wisatawan asing, sulitnya menemukan tempah sampah ini memang agak bikin keki juga, sih. Mau dibuang sembarangan tentu akan kena tegur, terus harus diapain dong? Mereka pun akan secara otomatis membawa sampah itu sampai mereka menemukan tempat sampah. Di stasiun tertentu, kadang ada tempat sampah juga dan kita bisa membuangnya di situ. Tetapi, biasanya hanya sampah pet botol atau kaleng sih. Kalau sampah organik dan anorganik jarang tersedia karena agak ribet memilahnya seandainya salah buang.

Kebiasaan mengantongi sampah

Sejak kecil anak Jepang dibiasakan membuang sampah pada tempatnya. Bukan slogan semata, tetapi benar-benar dipraktikkan. Selain itu, mereka diajari juga cara memilah sampah.

Saat kegiatan di luar sekolah, anak-anak kecil dibiasakan harus membawa kantong plastik sebagai tempat sampah mereka. Kalau punya sampah ya harus dimasukkan ke kantong plastik tersebut, kemudian dibawa pulang. Bisa dibuang kalau menemukan tempat sampah atau di rumah sekalian. Termasuk ketika anak-anak bermain di taman atau di tempat umum, biasanya bungkus jajanan mereka akan otomatis dimasukkan ke saku celana mereka. Sedetail itu anak dibiasakan untuk tidak menyampah sembarangan.

Baca Juga:

Pulang dari Jepang Bikin Sadar Betapa Bobrok Daerah Asal Saya

Mencoba Memahami Alasan Orang-orang Kabur dari Magang di Jepang

Akhirnya ketika sudah dewasa, mereka tidak akan kebingungan saat tidak menemukan tempat sampah di tempat umum. Orang Jepang akan otomatis memasukkan sampah mereka ke tas atau saku celana dan akan membuangnya ketika menemukan tempat sampah. Hanya saja, kalau di saku dan lupa mengeluarkannya juga malah bikin berabe, sih. Tetapi, bagaimanapun juga, oleh-oleh sampah sepulang dari bepergian adalah hal yang sangat lumrah di Jepang.

Tempat sampah “berjalan”

Saat ada event apa pun di Jepang, seperti festival, konser, atau pertandingan olahraga, panitia harus bertanggung jawab secara keseluruhan acara dan pasca-acara. Panitia juga harus membersihkan sampah setelah event berakhir. Biasanya akan ada panitia khusus yang bertanggung jawab soal sampah ini.

Saat pertandingan olahraga di stadion, misalnya. Di pintu keluar akan berjejer para panitia membawa kantong sampah. Penonton yang keluar bisa membuang sampahnya di situ. Festival pun demikian. Akan ada korner khusus untuk persampahan ini.

Pengalaman saat salat id yang diselenggarakan oleh KJRI di gedung yang disewa, pihak gedung juga membantu dengan menyediakan kantong sampah ini. Sisa makanan, sumpit, dan tisu kotor dibuang di sampah organik, tray plastik dibuang di sampah anorganik, dan pet botol dibuang di sampah daur ulang.

Panitia dari pihak Indonesia juga mengingatkan para diaspora agar mematuhi aturan persampahan ini. Kalau kotor, jorok, dan terlalu merepotkan, bisa jadi tidak diizinkan menyewa lagi tahun depan. Padahal event salat id bersama KJRI ini termasuk event tahunan yang ditunggu-tunggu sebagai ajang silaturahmi sesama diaspora Indonesia, juga mendapat box makanan Indonesia gratis.

Kepo dari sampah

Memang bisa ya kepo dari sampah?

Bisa banget lah. Saat jadwal pembuangan sampah, biasanya orang Jepang akan membuang sampah pada malam sebelumnya atau pada pagi hari sekalian keluar berangkat kerja. Sampah yang dibuang dibungkus dengan plastik/kresek warna putih atau transparan, tergantung daerahnya.

Sampah seperti kertas bungkus burger McD, potato chip dan kue kesukaan, merek baju dan tagnya, serta barang-barang yang dibelinya bisa saja terlihat dari plastik sampah itu. Kalau ada yang stalking, akan mudah sekali kepo dari isi sampahnya ini. Bisa jadi si stalker ini mengambil dan mengorek sampahnya. Kemudian, ia bisa mulai pedekate dengan membelikan barang kesukaan karena ia tahu barang apa saja yang digunakan oleh sang gebetan tersebut. Sebuah metode stalking yang nggak banget ya.

Kisah ngeri lainnya, ada juga cowok yang mengoleksi sampah si cewek. Sampah yang ia ambil, dibersihkan, dan disimpan. Agak ngeri sih ini kalau dilakukan kepada perempuan single yang tinggal sendirian. Makanya untuk mengantisipasi beginian, biasanya perempuan single akan menyewa apartemen yang agak mahalan dikit agar si pemilik apartemen yang mengurus soal sampah ini. Selain pembuangan sampah yang tertutup dan terbatas bagi penghuni apartemen saja, kasus kepo dan pencurian sampah ini bisa dicegah. 

Meski ribet dan jelimet, bagaimanapun juga perihal sampah ini merupakan salah satu manner orang Jepang. Jadi ya mau tidak mau kita ikut menyesuaikan kalau mau tinggal di sana. Termasuk soal suporter sepak bola Jepang yang membantu membersihkan sampah di stadion setelah timnya berlaga di Piala Dunia adalah salah satu cerminan bahwa orang Jepang sudah tidak bisa abai terhadap sampah. Mungkin semacam geregetan ya lihat sampah dibuang sembarangan. Tidak heran kan kalau Jepang menjadi negara yang bersih.

Indonesia kpn y.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Oktober 2021 oleh

Tags: jepangKebersihanOlimpiadeSampah
Primasari N Dewi

Primasari N Dewi

Saat ini bekerja di Jepang, menjalani hari demi hari sebagai bagian dari proses belajar, bertahan, dan berkembang.

ArtikelTerkait

okaeri mone

Okaeri Mone: Pencarian Jati Diri, Bencana Alam, dan Ramalan Cuaca

22 Desember 2021
Suzuki Avenis 125 Nggak Belajar dari Pengalaman. Apakah Suzuki Sengaja Memproduksi Sepeda Motor yang Nyeleneh biar Dibilang Rare di Masa Depan?

Suzuki Avenis 125 1999, “Nenek Moyang” Yamaha NMAX, Bukti bahwa Suzuki Sebenarnya Peramal Ulung!

17 Juli 2024
Kamera Ponsel Jepang Wajib Ada Bunyi Cekrek-nya dan Ini Alasannya terminal mojok.co

Kamera Ponsel Jepang Wajib Ada Bunyi Cekrek-nya dan Ini Alasannya

2 Oktober 2021
Hutan Aokigahara dan Mitos Ubasuteyama di Jepang

Hutan Aokigahara dan Mitos Ubasuteyama di Jepang

24 Februari 2022
Di Jepang, Belanja Baju di Uniqlo dan GU Itu Biasa Aja Terminal Mojok.co

Di Jepang, Belanja Baju di Uniqlo dan GU Itu Biasa Aja

18 April 2022

Ketika Tonari no Totoro Ambil Setting di Indonesia

27 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026
Pronosutan Kulon Progo, Tujuan Baru para Pelari dan Pencari Ketenangan

Pronosutan Kulon Progo, Tujuan Baru para Pelari dan Pencari Ketenangan

26 Januari 2026
Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang

27 Januari 2026
Tol Trans Sumatera Kayu Agung–Palembang Bikin Istigfar: Jalan Berlubang, Licin, Minim Penerangan Padahal Tarif Mahal, Bukan Bebas Hambatan Malah Jadi Terhambat

Tol Trans Sumatera Kayu Agung–Palembang Bikin Istigfar: Jalan Berlubang, Licin, Minim Penerangan padahal Tarif Mahal~

30 Januari 2026
6 Waktu dan Cara yang Tepat Membunyikan Klakson di Jogja, Sebuah Panduan untuk Pengendara Luar Mojok.co

6 Waktu dan Cara yang Tepat Membunyikan Klakson di Jogja, Sebuah Panduan untuk Pengendara Luar

26 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.