Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Jangan Abaikan Peran Bapak-bapak dalam Tradisi Rewangan di Hajatan Tetangga

Adhitiya Prasta Pratama oleh Adhitiya Prasta Pratama
12 Agustus 2021
A A
Jangan Abaikan Peran Bapak-bapak dalam Tradisi Rewangan di Hajatan Tetangga terminal mojok.co

Jangan Abaikan Peran Bapak-bapak dalam Tradisi Rewangan di Hajatan Tetangga terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Bapak-bapak memiliki peran sentral dalam tradisi rewangan saat hajatan di desa. Jika bapak-bapak nggak ada, ya, wassalam, ibu-ibu pasti akan kebingungan. Maka dari itu, monggo dipunsayangi maleh bapak-bapakke, nggeh, Bu.

Di daerah terpencil seperti desa saya, tradisi rewangan dalam hajatan tampaknya masih kental. Saya sendiri menyaksikan langsung, betapa solidnya masyarakat di perdesaan dengan tradisi ini. Ngomong-ngomong, kenapa saya memikirkan tradisi rewangan ini? Pasalnya, kemarin di akhir bulan Besar/Dzulhijah, tetangga saya telah selesai mengadakan hajatan pernikahan.

Bagi yang belum tahu istilah rewang, mungkin definisi paling tepat adalah aktivitas gotong royong para tetangga dalam menyukseskan acara yang diselenggarakan tetangga lainnya. Uniknya, tetangga yang rewang nggak mengharap imbalan apa pun. Dengan kata lain, mereka datang dengan ketulusan mereka bersama.

Nggak usah jauh-jauh, ibu saya merupakan salah satu atlit perewang yang andal. Pasalnya, blio ini sering mendapat pesanan kue untuk acara hajatan, entah itu mantu, sunatan, slametan, dan lain sebagainya. Ibu saya memang ahli dalam membuat kue, dan menempati kasta tertinggi di dunia perewangan. Sebab, nyatanya dalam rewangan pun peran ibu-ibu memiliki beberapa tingkatan atau kasta. Di antarannya, kasta adang (bagian ibu-ibu yang menanak nasi), kasta njangan (bagian ibu-ibu yang memasak sayur), dan kasta ibu saya, kasta jajan (bagian yang ditunjuk membuat jajan/kue).

Namun, di sini saya nggak akan membahas peran ibu-ibu dalam dunia perewangan, sebab itu sudah umum. Yang saya mau bahas adalah peran si bapak-bapak dalam dunia perewangan itu sendiri. Pasalnya, istilah rewang acap kali identik dengan ibu-ibu. Akan tetapi, sebenarnya peran bapak-bapak dalam dunia perewangan juga cukup signifikan pengaruhnya, dan itu harus diapresiasi bersama-sama.

Nah, di bawah inilah, saya akan menjelaskan sekaligus menguraikan peran apa saja yang dilakukan bapak-bapak dalam dunia perewangan. Nggak usah kelamaan, ini dia uraiannya.

#1 Membuat pawonan

Istilah pawonan mengacu pada jenis tungku api tradisional di kalangan masyarakat desa. Hal ini memungkinkan bahwa masyarakat desa seperti daerah saya, sering menggunakannya dalam acara-acara yang besar. Sebab, para ibu-ibu yang berada di kasta adang dan njangan nggak mungkin memakai kompor untuk menjalankan tugasnya. Pasalnya, hal itu terbilang boros dan nggak mengenakkan.

Selain itu, biasanya, bapak-bapak yang bertugas membuat pawonan membutuhkan waktu yang cukup lama. Sampai-sampai, dalam setiap acara hajatan di desa saya, bapak-bapak bisa membuat pawonan dari tiga hingga lima buah sekaligus. Hal ini menurut saya adalah wajar karena ibu-ibu nggak mungkin menempati satu pawonan yang sama. Misalnya, dalam penggunaannya, dua pawonan terkadang hanya digunakan untuk menanak nasi saja, dan sisannya untuk njangan (memasak sayur), beserta keperluan lainnya.

Baca Juga:

Realitas Pahit di Balik Hajatan: Meriah di Depan, Menumpuk Utang dan Derita di Belakang

Derita 3 Tahun Bertetangga dengan Pemilik Sound Horeg, Rasanya seperti Ada Hajatan Tiap Hari

#2 Membuat payon

Kemudian, peran bapak-bapak dalam rewangan adalah membuat payon (tenda). Sebab, di dalam acara hajatan, nggak mungkin para perewang terpaku di dalam rumah saja. Misalnya, seperti ibu-ibu kasta adang dan njangan tadi, pasti selalu outdoor. Nah, untuk mengatasi cuaca panas maupun hujan yang nggak bisa diprediksi, bapak-bapak dengan segala keterampilannya saling gotong royong membuat payon.

Biasanya, payon yang dibuat pun, ya, payon sederhana, bukan payon dari asbes atau perkemahan pramuka, yakni sebuah payon yang hanya terbuat dari terpal bekas penutup padi dan jagung. Namun, wong namanya bapak-bapak, selalu jenaka dalam setiap aktivitasnya. Sesekali nyelethuk, “Piye, Yu Sri? Payone wes enak opo durung? Lak kurang tak gawekno soko baliho Kepak Sayap Kebhinakaan, kae, lho.” (Gimana, Yu Sri? Tendanya sudah pas apa belum? Kalau kurang aku tambahi dari baliho Kepak Sayap Kebhinekaan itu, lho). Hehehe.

#3 Nonjok

Eits, jangan salah. Nonjok di sini bukan bermaksud meninju atau memukul. Tetapi, istilah nonjok berarti mengirimkan undangan dalam bentuk nasi kotak. Biasanya, di dalamnya terdiri dari nasi, mi, sambel goreng, daging ayam/sapi, dan aneka jajanan buatan ibu saya. Memang, dalam masyarakat tradisional di desa saya, aktivitas tonjok-menonjok sangat lazim dilakukan.

Nah, jika tadi para ibu-ibu memiliki tugas membuat makanan, si bapak-bapaklah yang bertugas membagikan makanan. FYI aja, nih, Gaes, biasannya, untuk orang-orang di desa saya yang sedang menggelar hajatan, bisa mengundang 600-1500 undangan/tonjokkan. Dan, berarti, si bapak-bapak kaum nonjok ini harus mengundang ke 600-1500 rumah juga.

#4 Ngudeg jenang

Selanjutnya, untuk bagian ini, biasa dilaksanakan pada rewangan khusus acara mantu (pernikahan) saja. Sebabnya, kehadiran jenang memiliki makna filosofis tersendiri di kalangan masyarakat tradisional. Plisss, jangan tanya saya, soalnya saya juga nggak tahu apa makna filosofis jenang itu.

Ngudeg jenang atau mengaduk jenang, dalam hal ini pasti dilakukan oleh bapak-bapak. Bagaimana tidak, jenang yang dimasak dengan kuwali jumbo dengan waktu berjam-jam nggak mungkin dilakukan oleh ibu-ibu. Kadang-kadang, setiap udeg-an jenang pun terdiri dari dua sampai tiga bapak-bapak. Dan, setiap 15-20 menit sekali, bapak-bapak ini pasti rolling.

Selain dimasak dengan porsi yang besar dan waktu yang lama, perubahan tekstur jenang yang semakin mengental juga memberikan effort lebih bagi bapak-bapak. Maka dari itulah, kenapa aktivitas ini memilih bapak-bapak sebagai aktornya, sebab kalau saya yang disuruh, palingan hanya 3 menit saja saya bertahannya.

#5 Nyembelih pitik

Peran bapak-bapak berikutnya adalah sebagai eksekutor. Cukup menarik, bukan? Yup, geng bapak-bapak ini selalu dicari ibu-ibu bagian pawon sekadar untuk menyembelih ayam. Eits, kegiatan ini nyatanya nggak main-main, lho. Setiap acara, tuan rumah biasa menyiapkan 10 ekor ayam kampung atau lebih untuk dijadikan ingkung (ayam panggang tradisional). Dan, yang mungkin bikin malas bapak-bapaknya, bukan terletak pada banyaknya ayam, tetapi ketidak-efisiensi waktunya.

Pasalnya, ibu-ibu selalu menyuruh bapak-bapak untuk menyembelih ayam secara nyicil. Kadang, bapak-bapak hanya disuruh menyembelih satu hingga hanya dua ekor saja. Sampai-sampai, bapak-bapak kadang mangkel juga, “Mbok, ya, disembelih kabeh, ngunu, lho. Bene nggak celuk-celuk wae.” (Mending disembelih semua jadi satu gitu, lho. Biar nggak panggil-panggil saja).

#6 Njagong tamu

Terakhir, adalah bapak-bapak bagian penjagong (penerima tamu). Pada saat ‘dong’-nya (hari H-nya) biasanya bapak-bapak ditempatkan tuan rumah untuk menerima tamu. Pasalnya, ya, tugas mereka memang seperti itu di dalam rewang. Setelah siangnya repot dengan segala macam aktivitasnya, baru malam harinya mereka dandan ganteng. Yakni, pakai setelan batik, songkok, celana kain, dan parfum isi ulang.

Bapak-bapak penjagong pun nggak cuma menerima tamu, tapi dibagi lagi ke dalam beberapa bagian. Ada yang menyambut tamu di gapura, ada yang mempersilakan tamu menuju ke prasmanan, dan yang terakhir adalah bapak-bapak yang bertugas mengajak ngobrol (njagongi) tamu undangan. Gokil, nggak?

Nah, untuk saya, kalangan anak muda, dalam rewang memang punya tempat tersendiri, yang nggak berat-berat amat tentunya. Biasanya, anak muda kalau nggak disuruh nyatet amplop, ngangkat piring kotor, ya, jaga parkir. Itu saja wes.

Namun, itulah yang sangat saya apresiasi dari tradisi rewangan ini. Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, tradisi seperti ini harus tetap dilestarikan. Sebab, solidaritas harus tetap perlu antar tetangga. Bahkan, guru pondok saya saja sempat membuat guyonan seperti ini,

“Kamu nanti kalau meninggal, nggak mungkin orang Indonesia yang bantu nggotong dan nguburin jenazah kamu.”

“Terus, siapa, Kiai?” tanya saya.

“Ya, tetanggamu dhewe, lah, pasti.”

BACA JUGA Tradisi Rewangan Adalah Ajang Kompetisi MasterChef Indonesia Versi Local Pride dan tulisan Adhitiya Prasta Pratama lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 September 2021 oleh

Tags: Gaya Hidup TerminalHajatantradisi rewangan
Adhitiya Prasta Pratama

Adhitiya Prasta Pratama

Seorang mahasiswa yang hobi baca apa aja di depannya.

ArtikelTerkait

Disumbang Duit Gede Pas Hajatan Itu Nggak Selamanya Menyenangkan terminal mojok.co

Disumbang Duit Gede Pas Hajatan Itu Nggak Selamanya Menyenangkan

2 November 2021
3 Alasan Banyak Orang Suka Baca Prediksi Skor Bola terminal mojok.co

3 Alasan Banyak Orang Suka Baca Prediksi Skor Bola

29 Juni 2021
ilmu titen fenomena alam mojok

Ilmu Titen: Sebuah Usaha untuk Memahami Alam yang Sering Dianggap Mistis

10 Juli 2021
3 Syarat Utama yang Harus Dimiliki jika Ingin Menjadi Barista terminal mojok

3 Syarat Utama yang Harus Dimiliki jika Ingin Menjadi Barista

24 Juni 2021
freshcare minyak angin mojok

Freshcare, Minyak Angin Terbaik yang Pernah Ada

17 Juni 2021
Salon de thé François industri musik jepang mojok

Mengenal Salon de thé François, Kafe Sarang Aktivis Legendaris di Jepang

31 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

31 Januari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026
Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.