Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Jalur Pedestrian Kian Menyempit, Kambing-Kambing pun Ikut Mengekspansi

Atanasius Rony Fernandez oleh Atanasius Rony Fernandez
6 Agustus 2019
A A
kambing-kambing

kambing-kambing

Share on FacebookShare on Twitter

Banyak kota di Indonesia masih tidak ramah bagi pedestrian atau pejalan kaki. Kondisi itu bisa dilihat dari jalur pedestrian seperti trotoar yang mulai menyempit. Jika pun trotoar cukup lapang, malah diisi oleh pedagang kaki lima atau pengendara sepeda motor yang nyelonong seenaknya di jalur pedestrian. Bahkan, akhir-akhir ini menjelang hari raya Iduladha, kambing-kambing pun ikut-ikutan mengekspansi jalur khusus bagi pejalan kaki itu.

Setidaknya itu yang saya rasakan di sebagian jalan raya di kota tempat saya tinggal. Kondisi jalur pedestrian yang sungguh tidak layak, memang berada di jalan raya yang bukan merupakan jalan protokol. Kalau di jalan-jalan protokol apalagi yang merupakan daerah perkantoran pemerintah, jalur pedestrian dibikin tetap steril dari gangguan. Tentu saja, tidak elok kan jika ada tamu penting melihat trotoar di depan kantor pemerintah berantakan.

ADVERTISEMENT

Menjadi seorang pejalan kaki di Kota Mataram, NTB—tempat saya tinggal—memang  penuh tantangan, kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kota lain. Saya beberapa kali berkunjung ke beberapa kota di luar daerah, kondisi hampir serupa juga terjadi, di mana pejalan kaki tidak mendapatkan ruang yang lapang dan nyaman ketika berada di jalur pedestrian.

Di wilayah yang merupakan pusat perekonomian terutama pertokoan, jalur pedestrian malah dijadikan sebagai tempat parkir sepeda motor dan mobil. Jika saya berjalan kaki di sana pada siang hari, saya harus mengalah dan menyingkir melewati pinggiran jalan aspal. Karena tidak ada jalan untuk melangkah, seluruh ruas jalur pedestrian diambil alih menjadi lahan parkir. Itu pun saya mesti ekstra hati-hati untuk menghindari terserempet atau tertabrak kendaraan bermotor di jalan raya. Padahal jalur pedestrian dibikin untuk membuat pedestrian nyaman melangkahkan kakinya.

Ketika ingin berjalan kaki pada malam hari, ternyata tidak kalah repotnya. Tenda-tenda pedagang kaki lima yang menjajakan beraneka ragam kuliner mengambil alih jalur pedestrian. Terpaksa saya harus mengalah. Parahnya, parkir para pembelinya pun ditempatkan di bahu jalan. Kondisi itu bikin saya mau tidak mau berjalan di jalan raya dan berusaha menghindari kendaraan bermotor yang lalu lalang.

Keresahan ini semakin menjadi ketika menjelang Iduladha seperti saat ini. Banyak peternak kambing yang menjajakan kambing mereka di pinggir-pinggir jalan. Parahnya, tidak sedikit dari mereka yang menggunakan jalur pedestrian atau trotoar untuk menaruh kambing-kambing itu. Kambing-kambing itu seakan mengekspansi jalur pedestrian.

Penjual kambing itu membuat tenda untuk menaungi belasan hingga puluhan ekor kambing, beserta dedaunan dan kotoran kambing di jalur pedestrian. Bagi pejalan kaki tentu saja kesulitan berjalan di trotoar jika ada kambing-kambing yang makan dan tiduran di sana. Kekhawatiran diseruduk kambing mau tidak mau bikin saya dan pejalan kaki lainnya turun ke jalan aspal, membiarkan kambing-kambing itu leha-leha di trotoar.

Sebenarnya, saya tidak masalah pedagang kaki lima berjualan atau peternak kambing memamerkan kambing mereka di pinggir jalan. Tidak hanya kambing, jika pun ada ultraman atau Thanos nongkrong di pinggir jalan pun, saya tidak masalah. Yang penting mereka tidak menggunakan jalur pedestrian atau trotoar untuk berjualan atau melakukan kegiatan selain berjalan kaki, seperti memarkir kendaraan.

Baca Juga:

Dosa Penjual Tongseng Kambing yang Merusak Rasa dan Mengecewakan Pembeli

Pulang dari Jepang Bikin Sadar Betapa Bobrok Daerah Asal Saya

Bolehlah mereka menempatkan dagangan mereka di mana saja sesuai aturan, tapi jangan mengganggu jalur pedestrian. Terkait trotoar sudah diatur melalui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pada pasal 131 ayat 1 tertulis bahwa Pejalan Kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung yang berupa trotoar, tempat penyeberangan, dan fasilitas lain.

Pedestrian mulai jarang dijumpai, apalagi di kota-kota kecil di mana sistem transportasi massal masih belum baik. Mereka lebih memilih mengendarai sepeda motor. Selain dianggap lebih praktis, memakai sepeda motor juga membuat mereka tidak harus kerepotan berjalan di jalur pedestrian yang masih belum ramah bagi pedestrian.

Dampaknya, jalan raya menjadi semakin padat. Pada jam-jam tertentu seperti saat jam pergi dan pulang kantor terjadi kemacetan di beberapa titik. Parahnya lagi, dengan semakin banyaknya pengguna kendaraan bermotor, bisa saja membuat kualitas udara di satu wilayah menjadi menurun.

Oleh karena itu, ketegasan pemerintah daerah untuk melindungi pedestrian seharusnya dilakukan. Aturan bagi pedagang kaki lima atau tempat parkir mestinya dipetegas dan dilakukan pengawasan yang ketat. Selain untuk memberikan kenyaman dan memenuhi hak pedestrian, jalur pedestrian yang lapang dan nyaman akan membuat tampilan kota menjadi kian menarik. Semakin banyak pedestrian, potensi kemacetan menurun dan udara menjadi kian segar.

Terakhir diperbarui pada 9 Februari 2022 oleh

Tags: Hari RayaiduladhakambingPedestrianpejalan kakiPelanggaran Lalu LintasPengguna Jalantrotoar
Atanasius Rony Fernandez

Atanasius Rony Fernandez

Jurnalis yang tinggal di Mataram, Lombok. Sesekali menulis karya sastra. Tertarik pada isu kesenian, sosial, dan kuliner. Penggemar AS Roma dan musik metal.

ArtikelTerkait

Besok-besok, kalau Jadi Panitia Kurban, Jangan Aji Mumpung

Besok-besok, kalau Jadi Panitia Kurban, Jangan Aji Mumpung

11 Juli 2022
Menguak Penyebab Orang Melawan Arus Lalu Lintas Terminal Mojok

Menguak Penyebab Orang Melawan Arus Lalu Lintas

3 Desember 2020
3 Resep Rahasia yang Bikin Pariwisata Jogja Sukses trotoar

Jogja Istimewa: Ketika Trotoar Lebih Penting dari Rumah Rakyat

11 Januari 2023
pengendara merokok

Wahai Pengendara yang Baik, Merokok Sambil Berkendara Itu Cupu

29 Mei 2019
Panduan Membeli Susu Kambing Etawa Bubuk biar Nggak Salah Pilih

Panduan Membeli Susu Kambing Etawa Bubuk biar Nggak Salah Pilih

23 Agustus 2023
Orang Surabaya Ramah terhadap Pejalan Kaki, tapi Kotanya Tidak

Orang Surabaya Ramah terhadap Pejalan Kaki, tapi Kotanya Tidak

2 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Saya Gemar Berjalan Kaki di Bandar Lampung kendati Rasanya seperti Uji Nyali

Alasan Saya Gemar Berjalan Kaki di Bandar Lampung kendati Rasanya seperti Uji Nyali

24 Juni 2026
4 Kuliner Ayam Panggang Favorit di Klaten: Enak, Murah, dan Bikin Nagih!

4 Kuliner Ayam Panggang Favorit di Klaten: Enak, Murah, dan Bikin Nagih!

26 Juni 2026
Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku “32 Tahun Menjarah Alam” Mojok.co

Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku 32 Tahun Menjarah Alam

25 Juni 2026
Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini  Terminal

Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini 

29 Juni 2026
Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja Mojok.co

Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja

25 Juni 2026
Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Gandus Palembang, Bau Pabrik Karet hingga Berasa Dipanggang Matahari Terminal

Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Gandus Palembang, Bau Pabrik Karet hingga Berasa Dipanggang Matahari

30 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.