Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Meski Saya Arek Surabaya, tapi bagi Saya, Jalan Tunjungan Kalah Menarik ketimbang Kayutangan Malang. Aura Wisatanya Lebih Terasa!

Bella Yuninda Putri oleh Bella Yuninda Putri
12 Maret 2024
A A
Meski Saya Arek Surabaya, tapi bagi Saya, Jalan Tunjungan Kalah Menarik ketimbang Kayutangan Malang. Aura Wisatanya Lebih Terasa!

Meski Saya Arek Surabaya, tapi bagi Saya, Jalan Tunjungan Kalah Menarik ketimbang Kayutangan Malang. Aura Wisatanya Lebih Terasa! (M. Harits Fadli via Shutterstock)

Share on FacebookShare on Twitter

Mohon maaf, arek Surabaya, bagi saya Jalan Tunjungan Surabaya kalah menarik ketimbang Kayutangan Malang. 

Destinasi wisata di kalan kini tidak melulu berupa tempat wisata besar yang berisi taman, wahana, dan jajanan yang terkumpul dalam 1 pujasera besar. Saya rasa destinasi wisata sekarang bisa diartikan secara lebih sederhana dan tidak harus mengacu pada gambaran seperti Taman Safari atau Dufan. Misalnya, kawasan kafe dan foodcourt untuk nongkrong cantik saja sudah bisa dikatakan sebagai tempat wisata.

Atau yang lebih sederhana lagi, satu tempat dengan spot-spot foto estetik juga menjadi kawasan wisata, terutama bagi ibu-ibu. Dua karakteristik tersebut sebetulnya saya temukan pada 2 tempat wisata viral di Kota Surabaya dan Malang, yaitu Jalan Tunjungan Surabaya dan Kayutangan Malang.

Keduanya sama-sama membawa konsep tempat wisata anak muda yang kekinian. Ciri khasnya tentu saja banyak kafe estetik, live music, seni, dan banyak lagi. Kebetulan, keduanya juga sama-sama memiliki kampung wisata. Di Jalan Tunjungan misalnya, ada namanya Kampung Ketandan. Sementara di Kayutangan namanya Kayutangan Heritage Village. Meski begitu, sebagai warga Surabaya entah kenapa saya lebih sreg kalau Kayutangan lebih pantas disebut sebagai destinasi wisata.

Jalan Tunjungan tidak punya daya tarik lebih

Terus terang saya sebagai warga Surabaya merasa hampa setiap kali ke Jalan Tunjungan. Boleh jadi karena saya sedang berada di kota kelahiran sehingga atmosfernya terasa biasa aja. Tapi kalau dipikir-pikir, saya juga sering kok merasa senang kalau jalan-jalan di Kota Pahlawan ini.

Oleh karena itu, saya mengambil kesimpulan kalau yang nggak beres ini bukan saya, tapi Jalan Tunjungan-nya aja yang nggak menarik. Bagi saya, Jalan Tunjungan itu mek ngono tok alias cuma gitu doang. Dia tak lebih hanyalah sebuah jalan satu arah yang berisi deretan kafe estetik dan 2 ikon sejarah yaitu Hotel Yamato dan Kampung Ketandan. Dia diromantisasi karena ada lagu yang berbunyi Rek ayo rek mlaku-mlaku nang Tunjungan. Padahal, jalan ini tuh betul-betul sulit diromantisasi karena memang biasa aja.

Sementara Kayutangan, mereka punya banyak sekali daya tarik. Di sekitarnya saja ada Gereja Hati Kudus Yesus, Sarinah, Masjid Agung Jami’, Alun-alun Malang, dan Kampung Kayutangan sendiri juga menyimpan banyak sejarah dan dipenuhi spot foto yang bagus.

Yaaa meski Kayutangan Malang kerap dihujat karena meniru Malioboro, tapi, ya gimana, lebih mendingan ketimbang Tunjungan je.

Baca Juga:

Malang Bukan Lagi Kota yang Dingin dan Asri, Kini Ia Menjelma Jadi Kota Panas dan Tak Menyenangkan

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya-Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya

Kayutangan punya jalan yang lebih besar dan menarik

Bagi saya yang pendatang, saya merasa kalau Kayutangan ini punya jalan yang lebih lebar dan rute yang lebih panjang daripada Jalan Tunjungan. Kalau soal panjang rute memang betul, tapi kalau soal lebar ini saya kurang tahu apakah bisa disebut lebar atau tidak. Buat orang Malang asli mohon koreksinya, ya.

Tapi yang jelas, saya sangat tertarik dengan Kayutangan yang memiliki rute lebih panjang. Ini sepele tapi pengaruh, lho. Rute panjang itu bisa bikin pengunjung jadi benar-benar merasakan wisata jalan-jalan dan sightseeing. Nggak kayak Jalan Tunjungan yang baru jalan berapa meter sudah habis aja.

Selain itu, banyak juga hal-hal menarik yang saya temukan di setiap sudut Kayutangan. Seperti kafe estetik, live music, orang melukis, dan atribut pendukung seperti lampu jadul, telephone ala-ala Inggris, dan masih banyak lagi. Jalan Tunjungan Surabaya jelas lewat, deh.

Makanan beragam dan harganya terjangkau

Terakhir, saya sangat menyukai Kayutangan Malang karena memiliki beragam pilihan makanan. Makanannya itu nggak harus beli di kafe dan nggak Cuma kafe. Ada banyak opsi makanan di sekitar sana, misalnya angkringan bagi yang suka ngopi dengan harga terjangkau. Banyak juga tuh penjual yang menawarkan jajanan murah.

Selain itu, nggak jauh dari Kayutangan juga ada Alun-Alun Malang. Nah, di sana kalian bisa menemukan jajanan sampai makanan berat dengan harga terjangkau. Kalau cuma pengen jajan siomay nggak harus beli mahal-mahal di Kayutangan kan? Sementara di Jalan Tunjungan Surabaya, cukup sulit untuk mencari makanan murah karena jalan ini merupakan jalan penting untuk menuju pusat kota. Sehingga jarang ada warung-warung di pinggir jalan.

Destinasi wisata saat ini memang cenderung disederhanakan. Kalau dulu kita mengenal Taman Safari dan Dufan sebagai tempat wisata, kini tempat-tempat spot foto yang penuh kafe saja juga bisa memperoleh kedudukan yang sama dengan mereka. Bahkan jauh lebih ramai. Nah, tempat wisata yang model seperti ini saya temukan di Jalan Tunjungan Surabaya dan Kayutangan Malang.

Tapi, terus terang sebagai warga Surabaya saya lebih suka Kayutangan Malang karena banyak sekali daya tariknya. Kalau ada orang Malang yang nggak setuju, ya saya minta maaf karena ini pendapat saya dari sisi pendatang.

Penulis: Bella Yuninda Putri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Orang-orang yang Datang ke Kayutangan Malang Itu Sebenernya Mau Main atau Nyinyirin Kinerja Wali Kota Malang, sih?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Maret 2024 oleh

Tags: Destinasi Wisatajalan tunjungankayutanganMalangpilihan redaksiSurabaya
Bella Yuninda Putri

Bella Yuninda Putri

Seorang Gen Z. Doyan menulis nonfiksi, fiksi, sampai puisi. Suka membahas topik seputar budaya, bahasa, dan keseharian di masyarakat.

ArtikelTerkait

Rekomendasi Tempat Wisata Jogja yang Romantis dan Penuh Ketimpangan terminal mojok.co

Rekomendasi Tempat Wisata Jogja yang Romantis dan Penuh Ketimpangan

4 November 2021
Modul Gratis Ini Bantu Pengusaha UMKM Bikin Laporan Keuangan Sederhana (Shutterstock)

Modul Gratis Ini Bantu Pengusaha UMKM Bikin Laporan Keuangan Sederhana

30 Mei 2022
ranggalawe bendera majapahit berdiri tahun 1293 M bonek bondho nekat mentalitas asal-usul surabaya sejarah madura menakjingga mojok

Mentalitas Bonek Sudah Ada Sejak Awal Berdirinya Majapahit

22 April 2020
6 Alasan Our Beloved Summer Wajib Kamu Tonton Terminal Mojok.co

6 Alasan Our Beloved Summer Wajib Kamu Tonton

6 Januari 2022
Terminal Bungurasih Surabaya Bukan Milik Calo dan Tukang Palak (Unsplash)

Tips Menghindari Calo di Terminal Bungurasih bagi Newbie agar Tidak Terjebak dan Tertekan

1 Maret 2025
Dulu, Seorang Anak Perempuan Bisa Dinilai Cantik Jika Pernah Menjadi Pengapit Manten terminal mojok

Dulu, Seorang Anak Perempuan Dinilai Cantik Jika Pernah Menjadi Pengapit Manten

27 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Debu Jalur Pantura Kendal Makin Meresahkan Pengendara Motor, Sebaiknya Sedia Masker kalau Nggak Mau Sesak Napas Terminal

Debu Jalur Pantura Kendal Makin Meresahkan Pengendara Motor, Sebaiknya Sedia Masker kalau Nggak Mau Sesak Napas

9 Juni 2026
4 Catatan untuk Pemkab Bangkalan Madura agar Program Satu Desa Satu Sarjana Tidak Sia-Sia Mojok.co

4 Catatan untuk Pemkab Bangkalan Madura agar Program Satu Desa Satu Sarjana Tidak Sia-Sia

10 Juni 2026
Warteg, Gambaran Soal Tegal Paling Ideal yang Ada di Kota-Kota Besar Mojok.co

Warteg, Representasi Tegal Paling Ideal yang Ada di Kota-Kota Besar

9 Juni 2026
6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang Terminal

6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang

8 Juni 2026
Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal kondangan jawa tengah

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

7 Juni 2026
Panduan Mengenali Bakso Malang yang Asli dari Kera Ngalam, biar Kalian Nggak Kena Tipu

Susahnya Jadi Arek Malang di Jakarta: Berniat Mengobati Homesick Lewat Bakso Malang, eh yang Jual Malah Orang Tasik

4 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.