Jalan Dipatiukur, Titik Kumpul Permasalahan Kota Bandung, Semuanya Ada!

Jalan Dipatiukur, Titik Kumpul Permasalahan Kota Bandung, Semuanya Ada!

Jalan Dipatiukur, Titik Kumpul Permasalahan Kota Bandung, Semuanya Ada! (Unsplash)

Jalan Dipatiukur atau yang lebih sering disingkat DU (dibaca De U) merupakan salah satu titik vital Kota Bandung sejak saya kanak-kanak, atau tepatnya, tiga dekade yang lalu. Jalan ini dihuni tiga kampus besar, yakni Universitas Padjadjaran, Universitas Komputer Indonesia dan Institut Teknologi Harapan Bangsa. Juga, jalan ini pun hanya berjarak kurang dari dua kilometer dari Institut Teknologi Bandung dan Universitas Islam Bandung.

Strategis sekali bukan? Makanya nggak usah heran, kawasan ini hidup terus selama 24 jam. Butuh fotokopi atau ngeprint jam tiga subuh? Banyak fotokopian yang buka 24 jam di sini. Cari makanan? Tinggal pilih aja, ada puluhan titik kuliner kaki lima sampai restoran di jalan ini. Cari tempat ngopi? Ada beberapa warmindo, minimarket macam Indomaret dan Circle K, coffee shop kekinian, sampai Starbucks. Pilih aja sesuai budget yang ada.

Tak ada gading yang tak retak. Sebagai orang yang tinggal di kawasan ini sejak tiga puluh tahun yang lalu, makin kesini, Jalan Dipatiukur alias DU makin semrawut.

#1 Makin hari makin macet

Mungkin orang luar Bandung yang baca tulisan ini dan belum pernah ke Jalan Dipatiukur membayangkan jalanannya lebar dan infrastrukturnya bagus. Sayangnya, bayangan kalian salah. DU jalannya sempit, hanya sekitar 6–8 meter saja atau cuma dua jalur mobil, plus berlubang lagi. Makanya nggak usah heran jalanan ini selalu macet terutama sore hingga malam hari.

Kebayang kan jalan sesempit itu dihuni tiga kampus besar, pusat fotokopian, puluhan tempat kuliner, coffee shop, hingga minimarket? Ah iya, ada yang belum saya sebutkan. Di DU terdapat satu unit SPBU, lima unit pool travel dengan berbagai destinasi luar Bandung, beberapa toko bangunan, hingga beberapa hotel.

Kebayang macetnya kan? Yang mau ngampus, yang mau fotokopi, yang mau kulineran, yang mau ngopi, yang mau ke minimarket, yang mau isi bensin, yang mau ke pool travel, yang mau ke toko bangunan dan yang mau ke hotel antre jadi satu. Udah gitu, minim parkiran sehingga nggak sedikit mobil atau sepeda motor yang parkir di bahu jalan padahal udah ada rambu dilarang parkir. Jangan tanya kalau Unpad lagi wisuda, wah tambah chaos itu sampai malam!

BACA JUGA: 4 Hal Nggak Enaknya Jadi Mahasiswa Unpad

Ini pasti dilema yang dirasakan pebisnis yang buka bisnis di Kota Bandung. Mau buka bisnis apa pun, space parkirannya terbatas sehingga mau nggak mau mobil dan sepeda motor offside parkir di bahu jalan. Pihak pengelola bisnisnya kewalahan, dan akhirnya muncul juru parkir dadakan.

Nah, dulu pernah ada Wali Kota Bandung yang sempat menjabat jadi Gubernur Jawa Barat juga. Beliau punya konsep bikin gedung parkir terpanjang di Bandung untuk mengurangi kemacetan akibat kendaraan yang parkir di pinggir jalan. Tapi sampai akhir jabatannya, nggak terealisasi. nggak usah tanya namanya siapa, inisialnya Ridwan Kamil.

#2 Nggak ada transportasi publik

Nggak ada bosan-bosannya saya bilang, Kota Bandung ini nggak punya sistem transportasi publik yang proper. Ada sejumlah trayek angkot atau bus Damri yang melintasi Jalan Dipatiukur, tapi kuantitas dan kualitasnya jauh dari layak.

Sebagian besar masyarakat Kota Bandung bepergian menggunakan kendaraan pribadi. Mentok-mentok pakai ojek online atau taksi online. Sebab, jumlah bus, angkot, apalagi keretanya minim banget. Jadi ya nggak heran kawasan ini selalu macet. Orang asli Bandung atau wisatawan yang kesini pada pake kendaraan pribadi semua atau mentok-mentoknya pakai kendaraan online berbasis aplikasi.

#3 Sampah menggunung di Jalan Dipatiukur

Coba tebak, apa dampak nyata selain kemacetan dari dua poin yang sudah saya sebutkan di atas? Tentu saja masalah sampah, terutama sampah organik kuliner.

Setiap pagi, saya melihat tumpukan sampah bekas pedagang kaki lima menggunung begitu saja di bahu jalan. Sampah makanan ini sebagian besar dalam keadaan basah akibat hujan semalam dan sudah diacak-acak tikus. Kebayang bau dan joroknya kan?

Ya tentu sampah nggak jadi soal. Yang jadi persoalan, sampah-sampah ini sering kali telat diangkut. Bukan karena petugas kebersihannya malas atau lalai. Saya sempat ngobrol dengan beberapa petugas kebersihan, dan mereka banyak yang bilang TPS-nya penuh. Truk pengangkut sampah jadi bingung mau buang sampah kemana.

Wali Kota Bandung come and go. Entah karena habis masa jabatan atau kena tangkap KPK. Tapi permasalahan sampah Kota Bandung ini terus berlarut-larut tanpa solusi yang nyata. Padahal Kota Bandung punya World-Class University macam ITB yang pasti bisa dimintai solusi pengelolaan sampah ini kan? Apalagi jaraknya deket banget dari Jalan Dipatiukur.

Jalan Dipatiukur juga diapit kampus-kampus besar lain yang sudah saya sebutkan di atas. Isinya orang pintar-pintar semua, tapi tetap nggak bikin DU tertata rapi. Sekalipun ada solusi nyata dari para akademisi tersebut, saya rasa Pemkot Bandung atau Pemprov Jawa Barat nggak bisa langsung eksekusi. Entah karena nggak punya political will yang kuat atau emang benar-benar susah buat ditata kecuali DU dan Kota Bandung bisa diratakan dengan tanah dan dibangun dari nol.

Penulis: Raden Muhammad Wisnu
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jalan Dipati Ukur Bandung Bener-bener Nggak Keurus. Udah mah Semrawut, Kumuh, Ada yang Jualan Amer Pula

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version