Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jakarta Itu Menyebalkan dan Toxic, tapi Perantau Sulit Meninggalkannya

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
23 Mei 2025
A A
Jakarta Itu Menyebalkan dan Toxic, tapi Perantau Sulit Meninggalkannya Mojok.co

Jakarta Itu Menyebalkan dan Toxic, tapi Perantau Sulit Meninggalkannya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta selalu menarik, terutama di mata para perantau, karena memungkinkan mengubah mimpi menjadi kenyataan. Jakarta mungkin menyebalkan karena macet, sumpek, panas, kompetitif hingga bikin stres orang-orang yang tinggal di sana. Namun, Jakarta selalu menggoda siapa saja untuk datang dan bertahan di sana. 

Bagi para perantau tidak terkecuali saya, Jakarta itu seperti pasangan yang berisik, ucapan dan perilakunya kasar, serta tidak ada welas asih sama sekali. Toxic. Tapi, nggak bisa putus begitu saja karena kehadirannya penting untuk membuat para perantau seperti saya mandiri, hemat, dan nggak cengeng.

Dia mendorong kami para perantau untuk tidak malas dan disiplin agar siap ketika kesempatan mewujudkan mimpi itu datang. Itu mengapa, ketika memutuskan meninggalkan Jakarta beberapa waktu lalu, saya dan mungkin banyak dari perantau lain merasa sangat berat. Rasanya seperti dipaksa putus ketika sedang berjuang membuktikan diri. Paham nggak sih rasanya? Sakit lho itu.

Saya katakan sakit karena ada alasan-alasan emosional dan fundamental yang membuat Jakarta terasa amat berat untuk ditinggalkan. Dan, saya jamin alasan ini diaminkan oleh banyak orang.

#1 Jakarta dan kenang-kenangan kecil yang sulit tergantikan

Saya mulai dengan sesuatu yang mungkin terasa sepele yaitu kenangan-kenangan kecil seperti desak-desakan di KRL, macet-macetan di jalan, berjalan di trotoar Jakarta yang ramai lepas jam kantor, hingga ngobrol dengan penjual bebek goreng Madura. Saat akhir pekan, ketenagan Istiqlal atau di JAKLITERA (Jakarta Library and HB Jassin Literary Document Center) Cikini menjadi sumber penghiburan. Naik KRL menuju Bogor kemudian kembali lagi ke Jakarta sudah bisa jadi sarana healing.  

Semua itu adalah kenangan-kenangan kecil membuat Jakarta punya nilai emosional tersendiri di tengah statusnya sebagai kota yang padat dan semrawut. Tentu setiap perantau punya kenangan-kenangan kecil versi mereka sendiri, dan saya yakin itu akan melekat di ingatan sehingga membuat mereka ada kalanya rindu dengan Jakarta.

#2 Merasakan Jakarta yang tak pernah tidur

Saya tahu, hampir semua kota besar di Indonesia itu punya ciri tak pernah tidur. Surabaya, Jogja, Bandung, juga menunjukan diri sebagai kota yang selalu hidup. Tapi, Jakarta hadir dengan kesan yang berbeda. Warung Bubur ayam yang nonstop 24 jam, penjual gorengan gerobakan yang masih berkeliling meski sudah pukul 11 malam, atau para pedagang sayur yang mulai tumpah meski malam belum berganti ke dini hari. Gambaran itu sering saya lihat ketika membunuh waktu pada malam akhir pekan. Mengamati semua itu, membuat rasa syukur saya makin menguat sekaligus menjadi pelumas untuk membuat hati saya makin tangguh untuk terus berjuang.

#3 Harus rela meninggalkan fasilitas transportasi publik yang terintegrasi

Terlepas dari sisi kemacetannya yang sering bikin kepala pusing dan habis kesabaran, Jakarta adalah gambaran paling dekat bagi masyarakat Indonesia tentang transportasi publik terintegrasi. Ketika memutuskan pergi dari Jakarta, tentu kemewahan itu tidak akan dirasakan lagi.

Baca Juga:

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

Sekarang, di mana lagi masyarakat Indonesia merasakan fasilitas transportasi publik yang terintegrasi dan murah kalau nggak di Jakarta? Mulai dari KRL, MRT,  Transjakarta, hingga JakLingko yang kehadirannya membuat kami para perantau tidak perlu merasa minder kalau nggak punya kendaraan pribadi. Saya yang saat ini ada di Surabaya benar-benar merindukan Jakarta dengan KRL-nya yang membawa tiap orang di dalamnya ke manapun yang mereka mau.

#4 Koneksi yang tertinggal

Bagi perantau yang berstatus pekerja swasta atau di korporasi, meninggalkan Jakarta sama halnya meninggalkan jaringan yang sudah dibentuk selama merantau. Koneksi tentu jadi sesuatu yang berharga saat ini terlebih di tengah kondisi yang serba sulit. Sebab, banyak pekerjaan sampingan atau aktivitas pelepas penat seperti hobi, bisa datang dari para kolega yang dikenal saat di Jakarta.

Jakarta yang heterogen membuat para perantau seperti saya bisa punya koneksi dari beragam latar belakang dan karakter. Ada yang bekerja di agensi, marbot di masjid besar, pekerja swasta yang digaji rendah, dan karyawan ritel yang harus sabar dieksploitasi tenaganya sepanjang tahun. Ada pula yang berakater ambisius, individualistik, apatis, tapi tetap mau untuk berkoneksi. Tentu dengan kepentingan masing-masing.

Dari mereka, para perantau seperti saya mendapat cerita dan pengalaman sehingga memperkaya point of view tentang hidup dan rasa sabar. Bukankah rasa sabar adalah ramuan paling mujarab untuk menjalani hidup di negara yang makin ngawur ini?

Tapi serius, selain soal yang saya sampaikan di atas, koneksi juga membuat saya punya banyak cerita yang saya bagikan kepada kalian melalui tulisan-tulisan saya yang terbit di Mojok, bukan? Itu hanya contoh sederhana.

#5 Kehilangan peluang karier yang luas

Sekali lagi, terlepas dari gambaran Jakarta yang sering berisi banyak masalah, tapi Jakarta menyambut para pendatang dengan banyak peluang karir dan kesempatan. Di Jakarta banyak event dan komunitas yang bisa dimanfaatkan untuk mencari celah karir agar lebih berkembang. 

Hati akan terasa begitu berat ketika seorang perantau harus meninggalkan Jakarta sementara dia belum menemukan celah karir yang dicari-carinya di Jakarta. Tapi, ini khusus bagi mereka yang punya mindset bertumbuh ya. Soalnya lain cerita kalau konteksnya orang yang memang kalah dalam bertarung atau sudah nggak berdaya melawan buasnya belantara rimba yang disebut Jakarta ini.

Melihat alasan-alasan di atas, saya menyadari satu hal penting. Jakarta memang tidak ramah, lembut, dan menyakitkan seperti pasangan yang menyebalkan. Tapi, kota ini sulit ditinggalkan karena terlalu banyak memori dan harapan yang dititipkan. Ketika saya pun harus meninggalkannya, saya kemudian teringat dengan sebait lirik dalam lagu Duka dari Last Child, “pada Indahnya duka dalam kenangan kita”. Perih, tapi ada rasa ingin kembali.

Boleh jadi, setiap perantau punya makna Jakarta dengan versinya sendiri. Soal rasa sakit, perjuangan, dan peradaban di dalamnya. Terlepas dari itu, Jakarta bukan hanya Ibu kota yang semrawut, tapi tempat bagi orang seperti saya pernah merasakan hidup meski menahan sesak dan luka di dada. Ketika suatu hari nanti kaki saya kembali berjalan di stasiun Tebet, makan bebek goreng madura tengah malam atau duduk menikmati akhir pekan di JAKLITERA, mungkin saya akan tersenyum getir, lalu menggerutu dengan satu lirik Last Child “Ah, ternyata saya masih mencintai Duka ini.”

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Stasiun Gondangdia Damai, Beda dengan Stasiun KRL Jabodetabek Lain yang seperti Neraka

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 Mei 2025 oleh

Tags: ibu kota JakartaJakartaperantau
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

11 Kuliner Legendaris di Jakarta yang Wajib Dicicipi Terminal Mojok

11 Kuliner Legendaris di Jakarta yang Wajib Dicicipi

25 Januari 2022
Dufan Jakarta Menjadi Sumber Kesedihan Keluarga Saya (Unsplash)

Katanya Dufan Jakarta Adalah Tempat Wisata Terbaik, tapi Malah Menjadi Sumber Kesedihan Kami

5 Oktober 2023
Pentol di Banjarmasin Bikin Syok Perantau dari Jawa Mojok.co

Pentol Banjarmasin Bikin Syok Perantau dari Jawa

1 Februari 2024
5 Menu Warmindo Jogja yang Saya Harap Ada di Warmindo Jakarta Mojok.co burjo angkringan

5 Menu Warmindo Jogja yang Saya Harap Ada di Warmindo Jakarta

11 September 2024
Di Mata Saya, Kebiasaan Orang Jakarta Sarapan Mie Ayam Nggak Terlalu Aneh Mojok.co

Di Mata Saya, Kebiasaan Orang Jakarta Sarapan Mie Ayam Nggak Terlalu Aneh

17 Juni 2024
4 Alasan Saya sebagai Orang Jakarta Kecewa dengan Penjual Nasi Uduk di Jogja Mojok.co

4 Alasan Saya sebagai Orang Jakarta Kecewa dengan Penjual Nasi Uduk di Jogja

12 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

PTC Surabaya dan PCM Surabaya, 2 Mall di Surabaya yang Kompak Menganggap Pengguna Motor sebagai Anak Tiri

PTC dan PCM, Dua Mall di Surabaya yang Kompak Menganggap Pengguna Motor sebagai Anak Tiri

30 Januari 2026
Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib Mojok.co

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

1 Februari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Solo Baru Sebelum Mangkrak seperti Sekarang Mojok.co

Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Sukoharjo sebelum Mangkrak seperti Sekarang

30 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam
  • Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.