Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Jadi Anak Pendakwah Itu Nggak Selalu Menyenangkan

Clean Qurrota Ayun oleh Clean Qurrota Ayun
24 Juni 2021
A A
lembaga dakwah kampus

Meluruskan Soal Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang Sering Disebut Sarang Radikalisme

Share on FacebookShare on Twitter

Lahir sebagai anak dari seorang pendakwah, membawa pengalaman tersendiri dalam kehidupan saya. Memang sih banyak sekali pengalaman menyenangkan yang saya alami, dari mulai disegani di masyarakat sampai mendapat perlakuan istimewa saat acara tertentu. Bagian paling saya sukai sih, ketika setiap habis berdakwah, bapak selalu membawa pulang oleh-oleh, mulai dari berbagai jenis makanan, buah-buahan, hingga pakaian, semua bisa kami dapatkan secara cuma-cuma.

Eits tapi kali ini saya nggak mau bahas deh yang menyenangkan, karena ya pastinya sudah banyak orang yang tahu. Boleh kali ya saya menceritakan sedikit pengalaman yang berbeda, meski ya nggak bisa dibilang menyedihkan juga.

Kebiasaan saya menjadi anak seorang pendakwah adalah mengikuti kemana pun bapak saya pergi. Mulai dari ngisi kajian mingguan, ngisi ceramah salat tarawih, atau kajian hari besar, saya dan bapak bak perangko dan amplop. Awal-awal sih saya senang saja, mendengarkan bapak berceramah, bertemu teman baru, disalami banyak orang macam pejabat negara. Eh tapi setelah menginjak dewasa, saya kemudian ditodong untuk ikut memberi ceramah.

Kalau sudah dibilang dari awal sebelum berangkat, saya pasti siap-siap. Tapi tidak, bapak saya suka sekali memberi kejutan layaknya undian berhadiah. Di sela-sela ceramahnya, dengan santainya memanggil nama saya dan menyuruh saya memberikan sepatah dua patah kata. Tanpa persiapan apa pun, saya dengan degup jantung yang tak karuan harus bersuara karena berpuluh pasang mata menghujam ke arah saya. Sebenarnya yang keluar dari mulut saya ya materi keislaman biasa sih, tapi karena sudah punya titel anaknya pak ustad (panggilan jamaah untuk bapak saya), ya jadi orang-orang mengangguk seakan-akan kata-kata yang saya berikan adalah informasi yang maha penting. Ya begitulah, menjadi anak seorang pendakwah berarti harus siap berceramah kapan pun dan dimana pun.

Selain ikut kemana pun bapak saya pergi, saya juga merangkap jadi manajer pribadi. Kalau di hari biasa sih saya masih bisa atur waktunya ya. Yang jadi masalah adalah ketika mendekati bulan Ramadan, dan banyak sekali sodoran menjadi penceramah tarawih. Nggak jarang, saking banyaknya sampai jadwalnya bertabrakan. Bapak saya sih nggak masalah, cuma saya suka nggak enak sama takmir masjid yang sudah menghubungi saya. Merasa jadi orang yang amanah, padahal memang bapak saya sudah terlanjur menyanggupi acara lain sebelumnya.

Belum lagi karena nomer telepon saya tersebar dengan luasnya, saya jadi sering dihubungi nomer yang nggak dikenal. Sering banget ada yang menghubungi saya, awalnya sih tanya soal jadwal bapak eh tapi ya ujungnya tanya “lagi apa?” kaya orang lagi PDKT. Suka kaget, tapi lama-lama maklum juga, paling nanti saya cuekin.

Oiya, sepanjang pengalaman saya menjadi anak seorang pendakwah, saya merasa sekali kalau perilaku saya disorot masyarakat. Saya harus bersikap lemah lembut bak putri kerajaan. Jangan sekali-kali melakukan kesalahan di depan banyak orang kalau nggak mau jadi bahan omongan. Kadang, saya merasa kurang bebas kalo pas mau menertawakan sesuatu tapi nggak bisa leluasa. Padahal kan ya saya tetap manusia, jadi kalau ada sesuatu yang lucu pasti ya tertawa, kadang ngakak juga.

Nggak sampai di situ, pakaian saya juga tak luput dari sorotan masyarakat. Saya bahkan harus menghabiskan banyak waktu demi memastikan kalau pakaian yang saya kenakan itu “pantas”. Ibu saya jadi juri yang paling cerewet masalah ini. Jangan harap bisa pakai jilbab yang disampirkan macam tren anak jaman sekarang, nggak bisa, nggak masuk kriteria “pantas” ibu saya.

Baca Juga:

Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan

UIN Adalah Universitas Paling Nanggung: Menjadi Sumber Rasa Malu, Serba Salah, dan Tidak Pernah Dipahami

Ya begitulah, banyak sekali pengalaman hidup yang berbeda yang saya dapatkan sebagai seorang anak pendakwah. Meski begitu, saya tetap bersyukur dengan bagaimanapun kehidupan saya saat ini karena semua sudah takdir dari yang di atas. Betul?

BACA JUGA Di Situbondo, Sabung Ayam Bisa Jadi Sarana Dakwah yang Efektif

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 26 Oktober 2021 oleh

Tags: dakwahGaya Hidup Terminalkesalehankiaimuslimsantri
Clean Qurrota Ayun

Clean Qurrota Ayun

Digital writer yang menulis isu, membaca dunia, dan membaginya kembali lewat cerita.

ArtikelTerkait

Saya Lebih Memilih Tablet Ketimbang Laptop untuk Bekerja dan Kuliah terminal mojok

Bukan buat Gaya-gayaan, Ini Alasan Saya Lebih Memilih Tablet Ketimbang Laptop untuk Bekerja dan Kuliah

27 Mei 2021

Jadi Pegawai Astra Honda Motor Adalah Kebanggaan bagi Kebanyakan Orang Tua di Desa Saya

14 Juni 2021
Menghindari Perilaku Tsundoku, Membeli Banyak Buku Namun Tidak Dibaca terminal mojok

Menghindari Perilaku Tsundoku, Membeli Banyak Buku Namun Tidak Dibaca

10 Juli 2021
3 Tipe Calon Pembeli Toko Keperluan Muslim yang Bikin Jengkel terminal mojok

3 Tipe Calon Pembeli Toko Keperluan Muslim yang Bikin Jengkel

7 Agustus 2021
Tiga Kado Pernikahan Useless yang Bisa Diestafetkan untuk Bertemu Jodohnya terminal mojok.co

Tiga Kado Pernikahan Useless yang Bisa Diestafetkan untuk Bertemu Jodohnya

2 Juli 2021
4 Alasan Sulitnya Berteman dengan Penutur Asli Bahasa Korea terminal mojok

4 Alasan Sulitnya Berteman dengan Penutur Asli Bahasa Korea

27 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor Supra, Motor Super yang Bikin Honda Jaya di Mata Rakyat (Sutrisno Gallery/Shutterstock.com)

Tanpa Motor Supra, Honda Tidak Akan Menjadi Brand Motor Terbaik yang Pernah Ada di Indonesia

16 Januari 2026
Saya Berpaling dari Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru Mojok.co

Saya Meninggalkan Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru

18 Januari 2026
Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

16 Januari 2026
Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan Pembayaran QRIS ke Pembeli  Mojok.co

Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan QRIS ke Pembeli 

17 Januari 2026
UT, Kampus Terbaik Tempat Mahasiswa Tangguh yang Diam-diam Berjuang dan Bertahan Demi Masa Depan

UT, Kampus Terbaik Tempat Mahasiswa Tangguh yang Diam-diam Berjuang dan Bertahan Demi Masa Depan

19 Januari 2026
8 Istilah Bahasa Jawa yang Orang Jawa Sendiri Salah Paham (Unsplash)

8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham

18 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.