Izinkan Saya Bertemu Idola Saya: SpongeBob SquarePants

“Yang benar saja kamu ngefans sama Spongebob?” Lho memangnya salah kalau saya ngefans sama tokoh kartun kuning dan kotak itu?

Artikel

Avatar

“Yang benar saja kamu ngefans sama SpongeBob?”

Lho memangnya salah kalau saya ngefans sama tokoh kartun kuning dan kotak itu? Apa karena KPI jadi ketat soal sensor perfilman, lantas batasan usia penonton film kartun pun juga ditentukan—bahkan untuk penonton setia kartun Spongebob seperti saya yang sudah tidak anak-anak lagi? Kalau boleh terus terang, saya akan protes kalau ada yang melarang saya karena nonton kartun SpongeBob.

Saya bukan menyuarakan kebencian kepada KPI karena aksi berlebihannya soal penyiaran film yang bahkan film kartun pun terdampak aksi itu. Ini murni berasal dari lubuk hati saya yang terdalam—saya ngefans SpongeBob. Iya, SpongeBob. Yang gigi depannya renggang, berhidung panjang, dan tinggal di rumah nanas bersama Gary, siputnya. Biarlah saya dikatain aneh karena ngefans sama tokoh fiksi, sing penting SpongeBob sak nomer!

Tentunya bukan tanpa alasan saya ngefans sama makhluk kuning ini. Ada banyak hal yang justru bisa saya dapatkan dari menonton film kartun SpongeBob ketimbang program acara reality show yang banyak settingannya. Menurut saya, film kartun ini pantas-pantas saja ditonton oleh semua usia, karena beberapa episode SpongeBob justru berisi sarkas yang ditujukan bagi orang dewasa.

Saya secara pribadi melihat tokoh utama dalam film kartun itu—SpongeBob, sebagai tokoh yang unik. Awalnya saya pikir dia adalah sosok orang dewasa karena seringkali ia ditampilkan sebagai pekerja di sebuah rumah makan yaitu Krusty Krab. Namun, setelah beberapa episode memperlihatkan kegemarannya bermain gelembung, menangkap ubur-ubur, dan bersikap kekanak-kanakan, maka saya pun kebingungan.

SpongeBob ditampilkan sebagai tokoh dengan sifat yang polos, setia, tidak pendendam, dan dapat dipercaya. Sungguh sifat yang sangat baik untuk kita teladani sebagai orang dewasa. Kita pun (sesama penggemar kartun ini) pasti tahu, pada satu episode, ia telah berjanji pada ketiga sahabatnya yaitu Krab, Sandy, dan Patrick, untuk menghadiri acara ketiganya. Tanpa sengaja, ia menjanjikan kedatangannya dalam waktu yang bersamaan dalam ketiga acara itu.

Baca Juga:  Gara-Gara Medsos, Mengapa Kita Malah Terasing?

Tapi apa daya. SpongeBob yang terlanjur berjanji pada ketiga sahabatnya berusaha sebisa mungkin menepati janji. Akhirnya dengan sangat susah payah ia berusaha hadir dalam sekali waktu di tempat dan acara yang berbeda. Dari episode ini saya sungguh memahami benar, bagaimana dia menjadi representasi makhuk dewasa yang setia dan tidak mudah mengingkari janji. Darinya, saya dapat belajar untuk menghargai janji—dan juga teman.

Lalu pada sebuah episode lain, SpongeBob ditampilkan sebagai tokoh yang tanpa dendam. Suatu kali, Krab pernah menjadikannya sebagai bahan judi dengan musuh bebuyutannya—Plankton. Karena kekalahannya dalam perjudian, Krab pun menyerahkan koki andalannya yaitu SpongeBob kepada Plankton untuk bekerja di Chum Bucket.

Setelah menjadi bahan pertaruhan, SpongeBob justru kangen suasana bekerjanya dengan Krab. Hingga akhirnya dia dikembalikan oleh Plankton kepada Krab karena kesetiaannya pada Krab dan Krusty Krab. Hebatnya, ia bisa dalam sekejap memafkan kesalahan fatal temannya—yaitu Krab.

Bayangkan, ketika kita sendiri dipertaruhkan oleh orang lain. Atau dalam satu masalah yang relevan di masa kini adalah penilaian subjektif kita yang salah tentang seseorang, secara tidak langsung kita telah mempertaruhkan nama baik seseorang atau sebaliknya ketika orang lain melakukan hal tersebut kepada kita. Lalu dengan mudah melupakan kesalahan seseorang kepada kita. Saya yakin, ini akan menjadi hal terberat untuk manusia dewasa sekalipun.

Soal ini, tentu saya belajar dari SpongeBob yang tumbuh jadi tokoh tanpa dendam dan mudah memaafkan. Sebuah sifat yang akan sangat sulit dilakukan orang dewasa memang ada pada diri SpongeBob.

Belum lagi, tentang bagaimana saya dapat meneladani sifat tanpa suuzan ala SpongeBob. Pada sebuah episode, ia ditampilkan sebagai sosok yang polos dan sama sekali tidak menaruh pikiran yang buruk pada sahabatnya—Squidward. Meskipun Squidward sendiri telah melakukan kesalahan yang membuatnya harus dipermalukan oleh banyak orang. Squidward membongkar rahasia Spongebob dalam buku hariannya.

Jika saya mengalami kejadian serupa, sebelum kejadian memalukan itu benar-benar saya alami, saya bahkan lebih dulu akan suuzan pada teman terdekat saya. Seperti SpongeBob yang sebelum dipermalukan sempat memerhatikan gelagat mencurigakan pada Squidward, jika saya mendapati kejadian yang serupa, saya pasti akan suuzan. Tapi suuzan itu tidak dilakukan oleh SpongeBob. Ia tetap menyapa Squidward dengan ramah dan beraktivitas seperti biasa.

Baca Juga:  Rasulullah Iseng Ngeprank? Afwan Akh @Hawaariyyun, Nabi Muhammad Bukan Atta Halilintar

Hingga pada akhirnya, semua orang di Bikini Bottom mengetahui semua rahasia yang ada di buku harian SpongeBob. Melihat ia dipermalukan oleh banyak orang, lalu ia hanya bisa menangis dan berlari mengurung diri ke rumah dan legowo-legowo saja diperlakukan sedemikian rupa. Rupanya, saya akan kesulitan untuk mengaplikasikan kelegowoan itu pada diri saya, seandainya saya mengalami hal serupa seperti yang dialami SpongeBob.

Namun rupanya, lagi-lagi SpongeBob secara tidak langsung memberikan stimulus yang baik bagi diri saya sendiri terlepas dia hanyalah tokoh fiktif. Saya melihat kartun ini lebih berbobot banyak ketimbang kartun Shinchan, Doraemon, atau Tom n Jerry yang kebanyakan hanya menampilkan unsur imajinasi berlebihan dan kurang menyiratkan pesan pada setiap tokohnya. Eh tapi bukan berarti saya diskriminasi, ini asli pendapat saya sebagai seorang fans.

Lalu pikir saya, dari pada ngefans sama boy band Korea, penyanyi solo Hollywood atau bahkan seleb asli Indonesia yang banyak cari sensasi prestasi. Kalau SpongeBob bisa ditemui di dunia nyata, maka dia akan masuk dalam daftar ‘idola yang harus saya temui’ di dunia ini. Pokok’e SpongeBob thok sak nomer, liyane mboten! Beritahu saya kalau KPI mencekal penyiaran film kartun ini, maka saya akan bikin petisi. Hidup SpongeBob! (*)

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.
---
531 kali dilihat

23

Komentar

Comments are closed.