Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Bengawan Solo: Sungai Legendaris yang Kini Jadi Tempat Pembuangan Sampah

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
2 Desember 2025
A A
Bengawan Solo: Sungai Legendaris yang Kini Jadi Tempat Pembuangan Sampah

Bengawan Solo: Sungai Legendaris yang Kini Jadi Tempat Pembuangan Sampah (Midori via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Bengawan Solo, sungai terpanjang di Pulau Jawa yang membentang sepanjang 600 kilometer, telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lagu “Bengawan Solo” ciptaan Gesang bahkan mendunia, melukiskan keindahan sungai yang mengalir tenang melewati kota-kota bersejarah.

Akan tetapi ironi pahit kini menyelimuti sungai legendaris ini. Bengawan Solo yang dulu jernih dan menjadi sumber kehidupan, kini berubah menjadi tempat pembuangan sampah raksasa yang tercemar parah.

Bengawan Solo tercemar limbah domestik dan industri

Kondisi Bengawan Solo saat ini sungguh memprihatinkan. Data dari Badan Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa kualitas air sungai ini telah melampaui batas ambang pencemaran yang diperbolehkan. Limbah domestik dari rumah tangga mengalir bebas ke sungai tanpa melalui pengolahan yang memadai. Detergen, sabun, minyak goreng bekas, hingga limbah kakus langsung mencemari air sungai yang dulunya menjadi sumber air bersih bagi jutaan penduduk di sepanjang alirannya.

Lebih parah lagi, puluhan industri di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo membuang limbah produksi mereka tanpa pengolahan maksimal. Pabrik tekstil, pengolahan makanan, hingga industri kimia menjadikan sungai sebagai pembuangan akhir limbah berbahaya. Warna air sungai sering berubah-ubah, kadang kehitaman, kadang kemerahan, bergantung pada jenis limbah yang dibuang hari itu. Bau busuk menyengat tercium dari jarak puluhan meter, menjadi pertanda betapa tercemar air yang mengalir.

Ikan-ikan yang dulu melimpah kini hampir punah. Petani dan nelayan tradisional yang menggantungkan hidup dari sungai kehilangan mata pencaharian. Sawah-sawah yang diairi Bengawan Solo menghasilkan panen dengan kualitas menurun karena air irigasi yang tercemar. Siklus kehidupan yang bergantung pada sungai mulai terputus.

Kesadaran rendah warga dalam membuang sampah

Perjalanan menyusuri bantaran Bengawan Solo menyajikan pemandangan yang menyedihkan. Tumpukan sampah plastik, botol bekas, kantong kresek, hingga kasur dan perabotan rumah tangga menumpuk di tepian sungai. Warga dengan santai membuang sampah langsung ke sungai, seolah-olah itu adalah tempat sampah umum yang disediakan gratis.

Kesadaran lingkungan masyarakat yang masih rendah menjadi akar permasalahan. Banyak warga yang tinggal di bantaran sungai menganggap membuang sampah ke sungai adalah hal wajar dan sudah menjadi kebiasaan turun-temurun. Mereka tidak memahami atau tidak peduli bahwa sampah yang mereka buang hari ini akan mencemari air yang mereka sendiri gunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Edukasi lingkungan yang minim dan tidak merata memperparah kondisi ini. Program-program penyuluhan yang dilakukan pemerintah sering kali bersifat seremonial, tidak menyentuh akar perubahan perilaku masyarakat. Tanpa kesadaran kolektif, upaya membersihkan sungai akan sia-sia karena pencemaran terus berlangsung setiap hari.

Baca Juga:

Pekalongan (Masih) Darurat Sampah: Ketika Tumpukan Sampah di Pinggir Jalan Menyapa Saya Saat Pulang ke Kampung Halaman

Tangsel Dikepung Sampah, Aromanya Mencekik Warga, Pejabatnya ke Mana?

Kolaborasi stakeholder yang belum efektif

Penanganan pencemaran Bengawan Solo melibatkan berbagai pihak, di antaranya pemerintah pusat, pemerintah daerah, industri, masyarakat, hingga organisasi lingkungan. Namun, kolaborasi di antara mereka masih jauh dari efektif. Ego sektoral dan perbedaan kepentingan membuat koordinasi tersendat.

Pemerintah daerah di sepanjang aliran sungai sering kali tidak sinkron dalam membuat kebijakan pengelolaan sungai. Apa yang dilakukan di hulu tidak sejalan dengan program di hilir. Penegakan hukum terhadap industri yang membuang limbah sembarangan juga lemah. Sanksi yang dijatuhkan tidak membuat jera karena lemahnya pengawasan berkelanjutan.

Partisipasi masyarakat dalam program-program pembersihan sungai masih sporadis dan tidak berkelanjutan. Kegiatan bersih-bersih sungai sering dilakukan hanya saat ada peringatan hari lingkungan atau ketika ada kunjungan pejabat. Setelah itu, sungai kembali menjadi tempat pembuangan sampah seperti biasa.

Ironi Bengawan Solo: sungai yang menjadi ikon malah tercemar

Ironi terbesar dari kondisi Bengawan Solo adalah statusnya sebagai ikon budaya yang diagungkan namun diperlakukan dengan sangat buruk. Lagu “Bengawan Solo” terus dinyanyikan di berbagai acara sebagai simbol kebanggaan lokal, tetapi sungai yang menjadi inspirasi lagu tersebut diabaikan dan dibiarkan sekarat.

Bengawan Solo seharusnya menjadi aset wisata dan budaya yang bisa mendatangkan manfaat ekonomi. Sungai yang sehat bisa menjadi destinasi wisata sungai, spot fotografi, lokasi olahraga air, hingga sumber air bersih yang berkelanjutan. Namun, kondisinya saat ini malah menjadi aib yang memalukan.

Generasi muda yang mendengar lagu tentang keindahan Bengawan Solo merasa tertipu ketika melihat kondisi riil sungai yang penuh sampah dan berbau busuk. Kesenjangan antara narasi romantis di lagu dengan kenyataan di lapangan menciptakan disonansi kognitif yang membuat orang semakin apatis terhadap nasib sungai ini.

Pemerintah lebih suka bikin patung daripada bersihkan sungai

Kritik tajam layak dialamatkan kepada pemerintah daerah yang lebih memprioritaskan proyek-proyek fisik yang terlihat megah namun tidak menyelesaikan masalah mendasar. Alokasi anggaran untuk membangun patung-patung raksasa, taman-taman yang tidak terawat, dan proyek mercusuar lainnya jauh lebih besar dibandingkan anggaran untuk pengelolaan sungai yang komprehensif.

Pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal yang sangat dibutuhkan berjalan sangat lambat. Fasilitas pengolahan sampah di bantaran sungai minim. Kampanye kesadaran lingkungan tidak mendapat pendanaan yang memadai. Pengawasan terhadap industri yang mencemari sungai tidak diperkuat dengan teknologi dan sumber daya manusia yang cukup.

Pemerintah tampak lebih tertarik pada proyek-proyek yang bisa diresmikan dengan pemotongan pita dan foto bersama, dibandingkan dengan kerja keras pembersihan dan pemulihan ekosistem sungai yang hasilnya tidak instan dan tidak glamor. Prioritas pembangunan yang keliru ini mencerminkan absennya political will yang serius untuk menyelamatkan Bengawan Solo.

Sudah saatnya bergerak serius

Bengawan Solo tidak bisa menunggu lebih lama. Kerusakan yang terjadi sudah sangat parah dan jika dibiarkan akan mencapai titik tidak bisa dipulihkan. Diperlukan komitmen bersama dari semua pihak, yaitu pemerintah harus mengalokasikan anggaran memadai dan menegakkan regulasi dengan tegas, industri harus berinvestasi pada pengolahan limbah yang proper, dan masyarakat harus mengubah perilaku dalam membuang sampah.

Bengawan Solo adalah warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Sungai yang sehat adalah sungai yang memberikan kehidupan, bukan mengancam kesehatan. Sudah saatnya kita semua bertindak, sebelum lagu “Bengawan Solo” hanya tinggal kenangan tentang sungai yang dulu pernah indah.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 3 Fakta Menarik tentang Kota Batu yang Jarang Dibicarakan Orang, Salah Satunya Pernah Terkenal dengan Perkebunan Kina.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Desember 2025 oleh

Tags: bengawan solobuang sampah sembaranganmasalah sampahpinggir sungaiSampahsungai
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

para pencari takjil

Himbauan Kepada Para Pencari Takjil Gratis : Jangan Cuma Pikirkan Makanannya, Pikirkan Juga Sampahnya

16 Mei 2019
5 Kerugian Punya Rumah di Pinggir Sungai

5 Kerugian Punya Rumah di Pinggir Sungai

16 Maret 2023
Adakah Dana Istimewa untuk Sampah yang Tidak Istimewa? TPST Piyungan, ASEAN Tourism Forum, Jogja krisis sampah di jogja bantargebang

Buat Piyungan, kalo Mau Jadi Wisata Gunung Pertama di Dunia, Lewati Dulu Bantargebang

16 Agustus 2023
Pengantin Baru Tebar Benih Ikan di Sungai, Ide Bagus yang Salah Eksekusi

Pengantin Baru Tebar Benih Ikan di Sungai, Ide Bagus yang Salah Eksekusi

6 Desember 2023
Salon de thé François industri musik jepang mojok

Jangan Anggap Enteng Urusan Sampah di Jepang

6 Oktober 2021
Desa Bebas Polusi Itu Hoaks: Perkara Sampah, Desa dan Kota Sama-sama Pemula

Desa Bebas Polusi Itu Hoaks: Perkara Sampah, Desa dan Kota Sama-sama Pemula

15 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang "Kalah" dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar Mojok.co

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang “Kalah” dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar

11 Januari 2026
Made, Desa Hidden Gem di Wilayah Paling Barat Surabaya. Masih Asri dan Hijau!

Made, Desa Hidden Gem di Wilayah Paling Barat Surabaya. Masih Asri dan Hijau!

10 Januari 2026
Alasan Orang Lebih Memilih Menu Kopi Susu Gula Aren daripada Menu Kopi Lain di Kafe Mojok.co

4 Alasan Orang Lebih Memilih Kopi Susu Gula Aren daripada Menu Kopi Lain di Kafe

12 Januari 2026
Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

15 Januari 2026
Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

15 Januari 2026
Banyu Urip, Kelurahan Paling Menderita di Surabaya (Unsplash)

Banyu Urip Surabaya Kelurahan Paling Menderita, Dibiarkan Kebanjiran Tanpa Menerima Solusi Sejak Dulu

10 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 
  • Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya
  • Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis
  • Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota
  • Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.