Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Ingin Jadi Polymath, Jatuhnya Malah Nggak Punya Keahlian Apa pun

Adhy Nugroho oleh Adhy Nugroho
19 Januari 2021
A A
Ingin Jadi Polymath, Jatuhnya Malah Nggak Punya Keahlian Apa pun terminal mojok.co

Ingin Jadi Polymath, Jatuhnya Malah Nggak Punya Keahlian Apa pun terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Saya pertama kali mengenal Leonardo da Vinci sebagai pelukis Mona Lisa. Hingga di kemudian hari, saya menemui fakta bahwa Leonardo da Vinci bukan hanya seorang pelukis, melainkan juga seorang ilmuwan anatomi, fisiologi, bahkan fisikawan yang tak terbatas pula pada penemuan-penemuan praktis. Pada saat itulah saya membayangkan diri saya di masa depan menjadi seorang seperti Leonardo, seorang polymath.

Ketika kita mengetik nama Leonardo da Vinci di mesin pencari Google, mesin ini akan memberi label “Polymath” kepada Leonardo; seperti halnya “American singer-songwriter” untuk Billie Eilish, ataupun “Supreme Leader of North Korea” untuk Kim Jong-un.

Etimologi dari polymath merujuk pada bahasa Yunani polumathes yang berarti “yang telah belajar banyak” atau “udah belajar banget, lah”. Merriam-Webster mendefinisikan polymath sebagai seorang pembelajar ensiklopedik, sementara Oxford mendefinisikan ini sebagai orang dengan pengetahuan atau pembelajaran yang luas.

Menengok Leonardo da Vinci juga definisi dari kata polymath, kita bisa membayangkan bahwa seorang polymath adalah mereka yang telah mempelajari dan mengerti banyak hal multidisiplin ilmu, dan yang penting adalah mampu memanfaatkan semua itu untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan. Seperti Leonardo. Dan cita-cita saya.

Saya datang dari keluarga kelas menengah yang tidak begitu kaya, tapi cukup punya privilese untuk mendapat sumber-sumber belajar dengan baik. Keluarga saya moderat dan orang tua saya tidak banyak menuntut anak-anaknya. Sebagai contoh, ketika ibu merekomendasikan saya untuk les sempoa, saya ikut dan hanya berangkat dua kali. Ketika saya minta untuk main di Sekolah Sepak Bola, ibu memberi saya sepatu. Ketika ibu menyuruh saya belajar bahasa Inggris dan saya menolak, saya tidak dikutuk menjadi batu.

Saya tumbuh seperti anak kampung tengah kota pada umumnya. Saya punya teman, dan di sekolah pun saya cukup gemilang. Mungkin saya terlalu sering berkelahi, tapi di sisi lain, bagi saya matematika itu bukan pelajaran sulit.

Namun beranjak remaja, saya berubah dari yang tadinya seorang anak kampung tengah kota menjadi anak dunia maya. Di tempat ini saya menemukan banyak hal menarik yang tidak bisa saya temukan di dalam gang. Saya mulai tertarik dengan media sosial dan blogging, juga mencari tahu bagaimana itu bisa bekerja. Dari blogging, saya belajar menulis termasuk juga prosa fiksi dan puisi. Saya juga mulai menekuni minat di bidang seni rupa baik tradisional maupun digital, hingga pada animasi dua dimensi dan produksi video, bahkan musik dan produksi musik.

Ketika SMA, saya makin nyeleneh dengan ikut dalam kelompok teater. Saya belajar jadi aktor, juga belajar menulis naskah. Pada saat ini saya mulai bimbang untuk menentukan arah masa depan saya. Sejak kecil, saya ingin menjadi guru. Namun semakin banyak belajar, saya sempat berpikir untuk menjadi programmer web, desainer grafis, penjual obat, bahkan dokter. Hingga saya tercerahkan, atau mungkin dibutakan, pada satu istilah keren: polymath.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Saya yakin bahwa saya mau kuliah apa saja, ketika saya bisa belajar apa saja, itu tidak menjadi masalah bagi saya. Benar saja, saya akhirnya melanjutkan studi di program yang hampir tidak ada tantangannya sama sekali. Asli gabut. Pelajarannya terlalu mudah dan hampir tidak pernah diberi tugas.

Dengan keadaan seperti itu, ditambah uang saku yang terlalu banyak, masa perkuliahan saya penuh dengan eksplorasi. Saya belanja buku-buku, saya belanja peralatan ini-itu, dan di akhir bulan saya masih sempat untuk makan pizza dan bersedekah. Belum lagi, saya malah menjadi wartawan mahasiswa yang membuat saya semakin banyak belajar dan mendapat banyak pengetahuan, termasuk informasi-informasi trivial yang tidak begitu penting untuk kehidupan.

Dulu, saya pikir saya keren. Saya bisa menjadi wartawan, menjadi ilustrator, membuat motion graphic, hingga benerin website sekaligus. Ketika KKN saya dikata Wikipedia berjalan, ketika magang saya dikatain profesor. Dulu, saya pikir ini pujian, jack of all trades.

Maksudnya seperti ini. Kita bisa sama-sama setuju bahwa orang-orang paling kaya di dunia saat ini adalah polymaths, sebut saja Bill Gates, Jeff Bezos, ataupun Elon Musk. Begitu pula menjadi seorang polymath pada era ini bukanlah hal yang 1500-ish. Kondisinya telah berbeda. Inovasi hari ini dan masa depan akan selalu mengintegrasikan disiplin-disiplin ilmu yang berbeda untuk memecahkan satu persoalan. Katakanlah, Elon Musk yang mengintegrasikan teknik, desain, dan ilmu pemasaran yang baik.

Di sisi lain, dalam pasar kerja, angkatan muda juga memiliki kecenderungan untuk menjalani slash career untuk memenuhi kebutuhan hidup dari sumber pemasukan yang berbeda. Dalam beberapa kasus, dua hal di antara “garis miring” dalam jenis karier ini berasal dari disiplin ilmu yang berbeda.

Yang lucu adalah, jack of all trades, master of none, ibarat kita memiliki sepuluh pisau dan tidak satu pun pisau tajam. Inilah yang terjadi pada saya. Saya punya banyak “pisau” tapi tidak ada yang tajam. Maksudnya, tidak masalah untuk saya tidak punya expertise melihat bahwa saya masih punya banyak “pisau” yang meski tidak tajam, tapi tetap fungsional.

Saya disuruh mengerjakan ini-itu bisa. Jadi? Bisa. Bagus? Bisa. Expert? Belum tentu.

Ketika dulu saya pikir saya keren, ini bukan karena atribut yang ada dari dalam diri saya sendiri. Hal ini karena lingkungan saya berada berisi anak-anak yang jauh lebih tidak jago daripada saya dalam perkara-perkara tertentu, alias saya salah gaul. Alih-alih mendapat kritik dan dukungan, saya hanya mendapat pujian. Sehingga ketika saya bawa “pisau” saya keluar dari lingkungan itu dan saya jadikan bekal untuk terjun ke pasar kerja, nggak ada kelasnya.

Meskipun demikian, saya tetap percaya diri dalam menyongsong hari esok. Ya, ntar, deh, liat aja!

ACA JUGA Penyesalan Jadi Master of None: Punya Banyak Hobi tapi Nggak Ada yang Ahli

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2021 oleh

Tags: keahlianpolymath
Adhy Nugroho

Adhy Nugroho

Pekerja kreatif lintas disiplin. Menaruh perhatian pada isu-isu budaya remeh-temeh. Suka BLACKPINK.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa (Unsplash)

7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa, Jangan Dibeli daripada Kamu Kecewa dan Menderita

13 Maret 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Tinggal di Wonogiri Menyadarkan Kenapa Saya dan para Perantau yang Lain Memilih Mengadu Nasib di Kota Lain

19 Maret 2026
Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya Mojok.co

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya

16 Maret 2026
KA Sri Tanjung, Juru Selamat yang Bikin Menderita para Pekerja (Wikimedia Commons)

KA Sri Tanjung Adalah Juru Selamat Bagi Kaum Pekerja: Tiketnya Murah dan Nyaman tapi Bikin Menderita karena Sangat Lambat

18 Maret 2026
Toyota Etios Valco, Mobil Incaran Orang Paham Otomotif yang Nggak Gampang Termakan Isu Produk Gagal Mojok.co

Toyota Etios Valco, Mobil Incaran Orang Paham Otomotif yang Nggak Gampang Termakan Isu Produk Gagal

14 Maret 2026
5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-Mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

17 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya
  • Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi
  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa
  • Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin
  • Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.