Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Indonesian Idol Harusnya Ubah Nama Jadi Indonesian Pop

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
16 Desember 2020
A A
Indonesian Idol Harusnya Ubah Nama Jadi Indonesian Pop terminal mojok.co

Indonesian Idol Harusnya Ubah Nama Jadi Indonesian Pop terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Ada yang unik di Indonesian Idol saat audisi peserta bernama Cynantia Pratita. Ketika blio sedang audisi dengan khusyuk, bahkan menutup matanya, menampilkan sesuatu yang dirasa baik untuknya, sayup-sayup dewan juri tertawa. Mereka tertawa karena Cynantia Pratita mengeluarkan scream ketika bernyanyi.

Mak rawr, gitu sekiranya. Ekspresi kaget Anang Hermansyah mungkin masih bisa masuk di pikiran saya. Namun, Rossa yang terus haha hihi dan Judika yang bahkan mengatakan, “Suaramu itu kayak tetangga saya lagi berantem,” bikin saya mak nyeg bingung sendiri. Kok, ya bisa i lho dielek-elek.

Sebenarnya bodo amat dengan Cynantia Pratita dan audisinya. Mau diterima atau nggak, itu nggak urusan. Yang bikin saya geleng-geleng, kok ya genre musik yang saya suka, yakni post-hardcore, blas nggak ada wibawa di hadapan para dewan juri.

Tentu kapasitas mereka sebagai dewan juri nggak perlu ditanyakan lagi. Siapa yang nggak tahu Rossa. Pun siapa yang nggak kenal Judika, produk wahid jebolan Idol. Namun, ketika muncul sebuah genre musik—yang barangkali—jauh dari telinga mereka, ketawa dan ngenyek guyon itu sesuatu yang bikin saya garuk-garuk kepala.

Saya yakin, jika yang berada di sana adalah saya, kemudian mbengok-mbengok nyekrim menyanyikan lagu “A Prophecy” milik Asking Alexandria, mungkin masuknya bakal dalam segmen peserta lucu-lucuan. Sejajar dengan peserta yang menyanyikan lagu “Numb” yang diputar tiap saat.

Ada juga peserta yang menyanyikan lagu “Ngamen 2″. Peserta itu yang belakangan kini jadi artis televisi. Bahkan bermain dalam sinetron Tukang Ojek Pengkolan memainkan tokoh bernama Sekar.

Maksud saya adalah kenapa yang muncul di Indonesian Idol adalah para bibit artis yang—selain cantik dan tampan—warna suara mereka kalau nggak pop, ya R&B-R&B. Lihat saja juara beberapa musim belakangan. Bosan sih nggak, tapi ya kembali lagi, mereka terlalu mengikuti selera pasar.

Apakah ngikutin selera pasar adalah sebuah kesalahan? Bos, namanya buka lapak dagangan, ya pasti cari cuan. Itu nggak bisa disalahkan. Toh, artis-artis yang akan masuk beberapa besar, bakal dapat kontrak.

Baca Juga:

Alumni Indonesian Idol X, Generasi Terbaik Indonesian Idol Sejauh Ini

Penyanyi Jebolan Indonesian Idol Lagunya Gitu-gitu Aja

Buat tipikal warna suara yang nggak masuk kriteria pihak penyelenggara, ya lebih baik bikin band atau bergerilya dari bawah. Toh, mereka bakal dapat pasar yang kuat. Lha pasar itu diciptakan je, bukan dibuat. Kalau dibuat, ya contoh Indonesian Idol yang katanya melahirkan sebuah kutukan, juara pertama nggak bisa tenar.

Lha gimana nggak tenar, belum juga satu tahun peserta nyeblung di industri musik, sudah ada kompetisi baru lagi. Jika dikatakan juara satu sampai lima bisa memiliki massa yang kuat. Lalu bagaimana dengan nasib juara enam ke bawah? Bahkan, ada yang masih ingat juara delapan atau sembilan Indonesian Idol musim lalu?

Mangkanya, Lur, pemilihan arena musik ditetapkan. Pilihannya yang digemari oleh para penonton Indonesia kebanyakan. Misal genre post-hardcore atau metalcore masuk, didengar oleh simbah-simbah di ujung Mbantul, yang ada ya mbatin, “Astagfirullah, kesurupan kok malah di-syuting terooos!”

Pop dan R&B, atau yang katanya rock modelan Firza, masih masuk dalam industri. Inilah sasaran empuk Indonesian Idol. Seperti yang saya katakan tadi, Indonesian Idol ini “masuk pasar”, bukan “membuat pasar”.

Dalam hal ini, jebolan Indonesian idol disusui oleh rumah produksi FremantleMedia. Kenapa Kunto Aji tidak dinaungi oleh mereka? Kan padahal blio ini anak kandung kompetisi bernyanyi paling wahid seantero negeri, sama seperti Mas Judika? Ya begitulah, dengarkan saja wawancaranya bersama Gofar Hilman di Ngobam.

 

Pihak FremantleMedia juga memberikan kontrak recording single atau album dari recording company ternama untuk tiap jawara. Sedangkan seluruh kontestan akan di-manage talent agency besar dari grup MNC. Bisnis tercipta, ya mereka nggak mau rugi. Indonesian Idol adalah paket lengkap, bukan media memperkaya warna musik Indonesia.

Selain suara yang bagus, kategori bakal laku atau nggak di pasaran ya jadi bahan perhitungan. Semisal ada yang membawakan sub-genre punk, yakni anarko punk dalam audisi, suaranya bagus dan bisa mentransferkan energi khusus kepada para pendengar, nek nggak bakal laku di pasaran, ya buat apa melaju jauh di kontestasi ini?

Lha wong Onadio Leonardo, mantan pentolan band bergenre post-hardcore, Killing Me Inside, berkata mereka membuang harga diri dengan membuat lagu nggak banget berjudul “Biarlah”. Gunanya buat nembus industri.

Memang sudah baik Cynantia Pratita berjuang bersama Stereowall ketimbang digeguyu sama Mbak Rossa. Memang sudah benar Cynantia Pratita cover-cover saja di kanal YouTube-nya, dinikmati para pecinta musik yang menghargainya ketimbang dikatai suaranya mirip tetangga Mas Judika yang lagi berantem.

Terkenal sih ya terkenal, tapi tahulah taraf terkenal musisi cover itu bagaimana. Namun, setidaknya di sana bebas untuk membawakan ideologi musik yang dijunjungnya. Para penonton bebas, mau lihat ya dipentelengi, mau dengar ya dirungokne, mau nggak suka ya tinggal dislike. Mudah.

“Idola Indonesia,” begitu jargon mereka tiap tahun. Tembang yang dinyanyikan tiap acara mau selesai, dinyanyikan bersama oleh peserta yang masih bertahan. Namun, sampai sekarang masih nggak paham. Idola Indonesia, jebul merujuk kepada satu hal, yakni genre pop yang sedap mewangi sepanjang masa.

Indonesian Idol adalah saduran acara Pop Idol yang pertama naik di televisi Inggris. Pun jelas bahwa mereka mencari bakat-bakat pop—atau setidaknya yang sedang populer saat itu.

Ketimbang membawa nama Indonesian Idol dan memberikan gimmick-gimmick kedaerahan dan nggak memberikan ruang bagi genre yang “kurang terdengar pop”, lebih baik Indonesian Idol ganti nama saja jadi Indonesian Pop. Pasalnya, idola Indonesia bukan orang yang bernyanyi dengan cara itu-itu saja.

BACA JUGA Daniel Mananta Adalah Wajah Indonesian Idol yang Sebenarnya dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 Desember 2020 oleh

Tags: bakatindonesian idolpop
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Menelusuri Acara Pencarian Bakat yang Paling Sukses di Indonesia terminal mojok.co

Indonesian Idol: Selebritis Hasil Produk Demokratis

8 Oktober 2019
musik haram backST 12 indonesian idol menyanyi konser mojok

Seandainya Jadi Peserta Indonesian Idol, Saya Pilih Jadi Runner Up Saja

25 November 2020
benci produk luar backstreet boys Cynantia Pratita Perlu Membawakan Lagu Post-Hardcore Ini di Indonesian Idol terminal mojok tita idol tita indonesia idol vokalis band metal

Cynantia Pratita Perlu Membawakan Lagu Post-Hardcore Ini di Indonesian Idol

3 Desember 2020
vj daniel mananta mojok

Daniel Mananta Adalah Wajah Indonesian Idol yang Sebenarnya

29 November 2020
musik haram backST 12 indonesian idol menyanyi konser mojok

Rahasia Dominasi Batak di Indonesian Idol

21 Desember 2020
musik haram backST 12 indonesian idol menyanyi konser mojok

Berhenti Jadikan Agama sebagai Label Seseorang Pandai Menyanyi

9 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli terminal

5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli

24 Februari 2026
Dosa Penjual Oseng Mercon, Makanan Khas Jogja Paling Seksi (Wikimedia Commons)

Dosa Penjual Oseng Mercon Menghilangkan Statusnya Sebagai Kuliner Unik, padahal Ia Adalah Makanan Khas Jogja Paling Seksi

23 Februari 2026
Turkiye Burslari, Beasiswa Pemerintah Turki yang Layak Diperebutkan, Lolosnya Gampang dan Nggak Ada Kewajiban Mengabdi Mojok.co

Turkiye Burslari, Beasiswa Pemerintah Turki yang Lolosnya Gampang dan Nggak Ada Kewajiban Mengabdi

28 Februari 2026
Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya Mojok.co

Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Jadi Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya

23 Februari 2026
Manis Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Tetangga Mojok.co

Manisnya Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu yang Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Saudara

26 Februari 2026
4 Penyesalan yang Akan Kalian Rasakan jika Kuliah di Bangkalan Madura, Pikir-pikir Lagi

Pemkab Bangkalan Madura Diisi oleh Pejabat Lebay, Banyak Ritual Cuma Pengen Dapat Pujian!

1 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.