Informasi
ADVERTISEMENT

Indahnya hidup ketika tinggal di kos khusus karyawan, tenang dan tidak banyak drama

Indahnya hidup ketika tinggal di kos khusus karyawan, tenang dan tidak banyak drama Mojok.co

Saat dahulu mencari kos di Jakarta, kata-kata “kos khusus karyawan/pekerja” beberapa kali saya jumpai. Awalnya saya nggak paham, kenapa pemilik atau pengelola mencantumkan kata-kata tersebut di platform pencarian kos atau gerbang depan kosan. Namun, semua itu terjawab ketika saya tinggal di sana. 

Sebagai informasi, sebelum tinggal di kos khusus karyawan ini, saya tinggal di kos-kosan dengan latar belakang penghuni yang beragam. Sejauh pengamatan saya, kebanyakan penghuni masih berstatus mahasiswa. Banyak keluhan saya rasakan ketika tinggal di sana, mulai dari berisik, dapur bersama sering kotor, hilangnya makanan di kulkas bersama, dan banyak drama kehidupan lain. 

Pengalaman itu mendorong saya cari kos lain. Dan, ketemulah dengan salah satu kos-kosan pekerja/karyawan ini.

Kos khusus karyawan relatif lebih tenang

Tenang adalah kesan pertama yang saya rasakan ketika tinggal di kosan pekerja. Bukan berarti tidak ada suara sama sekali ya. Suara-suara penghuni kos tetap ada kok, tapi di saat-saat tertentu seperti pagi hari di jam-jam berangkat kerja dan malam hari di jam pulang kerja. 

Selain itu di akhir pekan, sangat jarang saya mendengar suara penghuni lain beraktivitas. Paling pol suara buka dan tutup pintu kos saja. 

Pengalaman ini sungguh berbeda ketika tinggal di kos sebelumnya yang berisi mahasiswa. Hampir tiap hari berisik suara penghuni, terutama di malam hari ketika penghuni mengajak teman-temannya ke kamar entah untuk kerja kelompok atau sekadar makan bersama. Di akhir pekan tidak jauh berbeda, suara obrolan dan cekikikan terdengar dari kamar mereka. 

Satu hal yang tidak saya tahan, di tanggal tua atau akhir bulan, sering sekali saya dengar “tut-tut-tut” suara token listrik habis bersahutan.Kadang saya sampai keluar kamar dan menekan asal angka meteran listrik mereka saking berisiknya. Dengan cara ini meteran biasanya akan tidak berbunyi selama beberapa jam. 

Minim drama

Hal lain yang bikin betah tinggal di kos karyawan adalah lebih minim drama. Mungkin, karena penghuninya sudah disibukkan dengan pekerjaan, mereka tidak punya energi lagi untuk meributkan hal-hal kecil ya. Makanan di kulkas hilang, bisa beli lagi. Dapur bersama kotor, langsung lapor pengelola untuk membersihkan atau menegur pelaku. Semua selesai dengan adem ayem. 

Dan, jujur saja, drama-drama seperti itu jarang terjadi ketika tinggal di kos karyawan. Tiap orang seolah sudah punya kesadaran bahwa mereka menggunakan ruang bersama, sehingga kenyamanannya pun harus diupayakan dan dijaga bersama-sama pula. 

Jelas, situasi seperti ini sangat cocok dengan orang-orang yang hanya ingin istirahat di kos setelah menghadapi hari yang panjang di kantor. 

Sayangnya, tidak banyak kenal tetangga

Tinggal di kos khusus karyawan memang nyaman. Namun, ada satu hal yang disayangkan, penghuninya tidak saling kenal satu sama lain. Saya tidak berharap satu kos menjadi guyub, tidak ya. 

Saya hanya merasa, akan lebih baik rasanya kalau penghuni satu dengan yang lain saling kenal. Sebab, di tanah rantau di mana kita hidup sendiri jauh dari keluarga, perkawanan semacam ini bisa begitu membantu di saat-saat penting. 

Itulah beberapa pengalaman saya tinggal di kos khusus karyawan. Apakah kalian pernah merasakan cerita yang serupa? 

Penulis: Kenia Intan
Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Suka duka jadi pengelola kos-kosan di Jogja: harga murah belum tentu mudah terisi, justru bisa sebaliknya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Kenia Intan

Kontributor aktif media opini dan satir.

Exit mobile version