Informasi
ADVERTISEMENT

Instrumen investasi terbaik ala warga desa adalah domba garut

Instrumen investasi terbaik ala warga desa adalah domba garut

Kripto, reksa dana, apalah itu, bakal kalah sama domba garut, investasi paling oke yang orang tak pernah kira

Lini masa YouTube saya akhir-akhir ini sering muncul podcast anak muda yang ngomongin tentang instrumen investasi terbaik yang aman dan tahan guncangan. Setiap kali mendengar obrolan semacam itu, saya cuma bisa tersenyum kecut.

Mereka sepertinya belum tahu kalau instrumen investasi paling mutakhir, tahan banting, dan anti-inflasi itu sebenarnya tidak ada di aplikasi ponsel pintar. Instrumen investasi itu ada di desa-desa. Mamang saya adalah salah satu contohnya, beliau memiliki instrumen investasi yang bernama “Domba Garut”.

Bukan sembarang aset

Bagi orang kota, domba garut mungkin sekadar bahan baku sate. Tapi bagi warga desa, memelihara domba garut adalah wealth management kasta tertinggi. Perlu dicatat, ini domba garut, bukan domba sayur biasa. Dengan tanduk melingkar yang gagah dan postur tubuh berotot, domba garut adalah Harley Davidson-nya dunia ternak. Ada harga diri dan prestise yang dipertaruhkan di sana.

Mamang saya tidak pernah membaca buku Rich Dad Poor Dad atau ikut kelas perencana keuangan yang tiketnya seharga UMR itu. Ia tidak tahu apa itu cut loss atau average down. Modal utamanya cuma arit, karung, dan ketelatenan mencari rumput. Namun, portofolio investasinya terbukti secara empiris jauh lebih sehat daripada portofolio saham netizen yang tiap hari mengeluh di media sosial.

Dividen yang bisa mengembik

Mari kita bicara soal return of investment. Anda beli saham blue chip, lalu harus sabar menunggu dividen setahun sekali—itu pun kalau perusahaannya tidak mendadak merugi.

Bandingkan dengan mamang saya yang membeli sepasang domba garut. Dalam setahun, “dividen” yang ia dapatkan bisa berupa satu hingga tiga anak domba yang menggemaskan. Grafik pertumbuhannya tidak berupa lilin merah yang bikin jantungan, melainkan wujud fisik domba yang perlahan membesar berkat asupan nutrisi dari rumput segar.

Bahkan kotorannya pun bernilai ekonomis. Pupuk kandang ini adalah passive income yang laku dijual di mana pun dengan kegunaan menyuburkan segala jenis tanaman. Coba sebutkan, saham perusahaan apa yang kotorannya bisa bikin tanaman tumbuh subur?

Domba garut: likuiditas tinggi, bebas biaya admin

Bukti paling nyata dari kehebatan investasi domba garut ini adalah konversinya yang sangat cair. Saat investor kripto menangis karena asetnya mendadak tidak berharga dan gagal withdraw, kandang mamang saya justru membiayai peradaban rumah tangganya.

Istri mamang butuh kulkas dua pintu biar es batu tidak bercampur bau ikan peda? Gampang, tinggal ikut kontes domba. Ingin TV LED supaya bisa menonton sinetron dengan resolusi tajam? Tinggal ikut kontes domba lagi.

Yang paling epik, tentu saja, barisan domba-domba ini berhasil menguliahkan anaknya sampai sah menyandang gelar sarjana. Coba bayangkan, berapa banyak orang yang stres karena portofolio sahamnya nyangkut tepat ketika butuh uang untuk bayar UKT anak? Mamang saya tidak pernah mengalami krisis itu. Ia tinggal menjual asetnya, transaksi over the counter dengan pembeli terjadi, dan uang tunai gepokan berpindah tangan hari itu juga. Semuanya bebas biaya admin aplikasi.

Saya kadang merasa kasihan melihat teman-teman di media sosial yang tiap hari melototi layar sampai matanya mirip panda, panik hanya karena situasi geopolitik yang entah di mana. Sementara mamang saya, investor paling bahagia, beliau sering kali tersenyum mendengar aset-asetnya mengembik bersahutan.

Uang memang tidak tumbuh di pohon, Saudara-saudara. Tapi di desa, uang tumbuh dari rumput yang dikunyah oleh domba garut.

Penulis: Zain Ahdan
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mengenal Tradisi Adu Domba, Tradisi Khas Masyarakat Kota Garut

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 September 2026 oleh .

Zain Ahdan

Mahasiswa semester akhir yang mempunyai motto hidup “di-edankeun, kagok edan”.