Informasi
ADVERTISEMENT

In this economy, sekadar bengong sambil merenungi nasib saja butuh uang

In this economy, sekadar bengong sambil merenungi nasib saja butuh uang

Kemarin sore, saya merasa beban hidup sedang berat-beratnya. Otak rasanya penuh oleh rentetan agenda skripsi, batin yang mulai minta perhatian, dan berita-berita absurd di lini masa. Resolusi paling masuk akal saat itu cuma satu: saya butuh bengong. Sekadar menatap kosong ke suatu titik tanpa memikirkan apa-apa, sebuah pelarian paling purba bagi manusia yang sedang kelelahan.

Namun, niat mulia ini langsung menabrak tembok kenyataan. Di mana saya bisa bengong dengan tenang? Di kamar kos? Sumpek. Di teras? Pasti diajak basa-basi oleh tetangga, atau minimal disangka sedang diganggu jin. Pilihannya tentu saja mencari angin di luar. Dan di titik inilah saya sadar kalau di masa sekarang kota-kota kita sama sekali tidak dirancang untuk orang bokek yang cuma butuh ruang untuk melamun.

Taman kota yang menguji iman

Secara teori, kita punya yang namanya ruang publik. Alun-alun, taman kota, atau apalah sebutannya, kita bisa bengong di situ. Tapi mari kita bicara realitas. Cobalah Anda datang ke taman kota jam dua siang. Kalau tidak pingsan terkena heatstroke karena pohonnya lebih sedikit dari jumlah tiang lampu taman, Anda hebat.

Malam hari? Ceritanya beda lagi. Baru mau duduk santai di bangku semen yang desainnya sangat tidak ergonomis itu, kita harus siap mendonor darah gratis buat nyamuk-nyamuk sekitar. Bukannya tenang, pikiran malah tambah runyam dan bentol-bentol. Ruang publik kita sering kali tidak memberi ruang untuk sendirian. Ia terlalu bising, terlalu silau, atau terlalu tidak terawat.

Harga sebuah ketenangan

Ujung-ujungnya, kaki ini melangkah mencari suaka paling aman untuk bengong, yaitu café atau coffe shop. Begitu membuka pintu, embusan AC menyambut bak bisikan malaikat penyelesai masalah. Tapi ingat, surga pasti ada tiket masuknya. Mbak barista di balik mesin espresso langsung tersenyum ramah, senyum yang secara implisit berkata, “Selamat datang, silakan beli sesuatu kalau mau numpang duduk di sini.”

Mau pesan air mineral saja rasanya kok tidak tahu diri. Akhirnya, demi menjaga martabat dan mengamankan satu kursi kayu di pojokan, saya memesan segelas kopi susu seharga Rp25 ribu.

Coba pikirkan sejenak. Dua puluh lima ribu rupiah. Dengan kondisi ekonomi yang sedang serba mencekik ini, saya harus mengeluarkan uang setara harga seporsi nasi padang dengan lauk rendang hanya untuk menyewa hak guna pakai kursi. Bengong, yang dulunya adalah hiburan paling demokratis dan gratis bagi seluruh umat manusia dari masa pra-aksara, kini telah menjelma menjadi gaya hidup mewah.

Komersialisasi waktu luang, jadi sulit untuk sekadar bengong

Tentu saja ini bukan salah café atau coffe shopnya. Mereka berbisnis, bukan yayasan panti sosial. Masalah utamanya ada pada tata kota kita yang mengidap penyakit komersialisasi akut. Entah kenapa, segala hal yang tidak menghasilkan perputaran uang seolah tidak pantas diberi ruang.

Trotoar sekadar formalitas, taman nggak nyaman, perpustakaan daerah tutup jam 4 sore, dan alun-alun disulap menjadi pasar malam yang memaksa Anda jajan. Semua sudut kota seolah berteriak serempak: “Kalau kamu nggak bawa duit, mending tidur aja di rumah!”

Dulu, nenek moyang kita bisa duduk berjam-jam di pos ronda atau pinggir lapangan tanpa keluar sepeser pun. Sekarang, sekadar mengambil jeda untuk bernapas dan menenangkan isi kepala saja sudah masuk dalam pos pengeluaran bulanan.

Yah, segitu saja keluhan saya. Saya mau lanjut menyeruput kopi susu yang esnya sudah mulai mencair dengan rasanya yang mulai hambar. Sehambar kenyataan bahwa untuk menjadi manusia utuh di kota ini, atau sekadar bengong saja, kita harus terus-terusan menggesek uang dari dompet lucu ini.

Penulis: Zain Ahdan
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kasta Tempat Melamun Terbaik di Tengah Hiruk-Pikuk Jakarta Pusat

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 September 2026 oleh .

Zain Ahdan

Mahasiswa semester akhir yang mempunyai motto hidup “di-edankeun, kagok edan”.