Informasi
ADVERTISEMENT

Kebiasaan naruh piring kotor di bawah kursi saat kondangan itu meresahkan

Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal kondangan jawa tengah

Beberapa waktu lalu saya kondangan ke perkawinan saudara jauh. Setelah sekian lama tidak menghadiri pesta pernikahan, momen ini tentu menjadi kesempatan yang menyenangkan untuk bersilaturahmi. Tentunya, kondangan tidak bisa kita lepaskan dengan kegiatan makan-makannya.

Namun, ada pengalaman tidak mengenakkan dari kegiatan itu. Saya masih banyak menemukan piring-piring bekas makanan di bawah kursi tamu. Kebiasaan lama ini ternyata masih sering dilakukan banyak orang. Hal tersebut bukan hanya bikin tidak nyaman, tapi juga membahayakan.

Kondangan, selain kegiatan melihat pengantin berduaan di pelaminan, agenda sampingan tapi tak boleh dilewatkan adalah makan-makan. Pilihan hidangan yang disajikan biasanya sangat beragam dan menggugah selera. Dari sate-satean yang dibakar hangat, hingga sop atau bakso berkuah pun tersaji lengkap untuk disantap para tamu undangan yang hadir.

Paham sekali, di saat seperti itu, pikiran kita hendak makan dengan cepat, supaya tidak kehabisan menu yang belum dicoba. Suasana acara yang ramai membuat kita ingin mencicipi semua pondokan makanan yang ada. Seperti halnya, sedang makan nasi sop dan ayam balado, pikiran kita sudah sampai ke antrean es selendang mayang dan es krim yang mengular di sudut ruangan.

Biasanya, karena pikiran yang meledak dalam menginginkan banyak hal seperti ini, setelah makan usai, kita hendak main cepat saja, dengan menaruhkan piring kotor bekas makan kita di bawah kursi kondangan. Rasanya malas untuk berjalan melangkah mencari tempat penampungan. Boro-boro melihat tempat menaruh piring kotor, orang lalu lalang saja kita abaikan untuk turut mengantre menu lain yang terlihat menarik.

Piring kotor bikin lantainya ikutan kotor

Lebih lagi, resepsi yang diadakan oleh saudara saya konsepnya sederhana, begitu juga dengan kursi tamunya, dengan kursi plastik yang dikenakan kain penutup supaya cantik. Kursi model ini memang praktis dan sering digunakan di berbagai acara kondangan. Minusnya, kursi tersebut terlalu ringan dan mudah terpeleset jika lantai sekitarnya kotor atau basah oleh tumpahan makanan.

Nah, ketika kebanyakan tamu setelah makan menaruh piring kotornya di bawah kursi, maka makanan yang biasanya tersisa air juga rawan tumpah. Sisa kuah bakso atau sop yang tersenggol kaki akan langsung membasahi area sekitar. Ini bikin lantainya jadi basah dan mudah tergelincir bagi orang yang nggak tahu kalau di bawah kursinya ada piring kotor. Itu pun, perkawinannya sudah diadakan di gedung yang lantainya datar. Bagaimana jika hanya di lapangan atau jalanan biasa yang permukaannya tidak rata? Bukankah akan menjadi semakin bahaya untuk keselamatan para tamu?

Bantu pemilik kondangan makin nyaman

Yang jadi masalah, kursi dan meja kondangan itu biasanya disertai dengan kain penutup, yang kalau basah, mudah lembab dan bau. Noda kuah yang terserap kain tentu sulit dibersihkan dalam waktu singkat. Ini tentu bikin pekerjaan lebih untuk para wedding organizer dan tim katering. Yah, walaupun itu memang sudah termasuk bahaya dan konsekuensinya, bukankah lebih baik kalau kita turut memudahkan pekerjaan mereka?

Sebenarnya, sudah ada tempat khusus untuk piring kotor yang disediakan oleh panitia. Tapi kebiasaan menaruh piring di bawah kursi memang sudah terlalu mendarah daging. Seolah, tempat penampungan tersebut hanya pajangan saja yang tidak pernah tersentuh oleh para tamu.

Yah, begitulah realitas yang masih terjadi dan saya lihat di kondangan masa kini. Kebiasaan ini sudah harus dihentikan dari sekarang. Mari kita sama-sama meningkatkan kesadaran, kepedulian, dan keamanan bersama saat kondangan dengan tidak meneruskan budaya buruk tersebut. Hanya dengan menaruh piring kotor di tempatnya yang benar, kita sudah sangat memudahkan pekerjaan orang lain, menjaga keamanan seluruh hadirin, dan pastinya melanggengkan kenyamanan pengantin serta seluruh keluarga besar yang punya hajat.

Penulis: Bunga Gracella Ardimay
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Seni Bertahan Hidup di Musim Kondangan: Panduan Strategis agar Dompet Tak Sekarat dan Berakhir Melarat

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 September 2026 oleh .

Bunga Gracella Ardimay

Perempuan berdarah Minangkabau yang lahir besar di Jakarta. Pencinta nasi tahu tempe dan cah kangkung. Suka cerita apa aja yang lagi gelisahin hati.