Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Ikut Pilkada kok Nebeng Nama Besar Keluarga, Ora Mashok

Muhammad Makhdum oleh Muhammad Makhdum
28 Oktober 2020
A A
pilkada monarki incumbent keluarga dinasti politik mojok

pilkada monarki incumbent keluarga dinasti politik mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Musim pilkada kembali tiba. Masing-masing paslon sedang menjual diri segencar-gencarnya, merayu dengan genit-genitnya, dan kampanye sebagus-bagusnya. Harapan semua paslon pastilah sama, yaitu agar pemilih terpikat dan memberikan suaranya. Kemudian merayakan kemenangan pilkada dengan hingar-bingar pesta.

Nah, di sinilah menariknya. Para paslon harus saling beradu strategi untuk memenangkan pertarungan. Terlebih di pilkada langsung yang konon banyak sekali biayanya. Menurut Pak Mendagri Tito Karnavian, untuk nyalon bupati saja, setiap paslon minimal harus merogoh kocek sekitar 25-30 miliar. Biaya itu dikeluarkan bukan untuk serangan fajar loh ya, tetapi “cuma” untuk biaya logistik saja. Misalnya untuk cetak kaos, stiker, cetak dan pasang banner, pembentukan posko, pemenangan tim, uang lelah saksi, dan tetek bengek lainnya.

Jika nyalon walikota apalagi gubernur, biaya yang dikeluarkan lebih fantastis lagi, bisa ratusan miliar hingga triliunan rupiah. Itu belum termasuk “mahar” untuk partai. Apalagi jika harus mengeluarkan jurus pamungkas, yaitu serangan fajar. Taraaa… Sobat misqueen ndak usah mbayangin ya. Duit segitu jika dibelikan hand sanitizer, mungkin bisa bikin DKI Jakarta banjir sebelum waktunya. Oleh karena itu, syarat pertama untuk maju pilkada harus kaya raya. Masalah kemampuan itu nomor tiga puluh dua.

Tapi, sayang, kekayaan rasa-rasanya juga tidak bisa membeli mahkota kemenangan. Maka dibutuhkan strategi lain, salah satunya adalah dengan memanfaatkan nama besar keluarga. Siapa tahu, dengan mendompleng nama besar keluarganya dapat mengerek tingkat elektabilitas dan efek elektoral lainnya. Bisa juga untuk memperoleh privilese berupa akses ke hal-hal yang strategis berkat jabatan yang masih dimiliki para kerabatnya. Tentunya, popularitas dan elektabilitas tetap sebagai muara akhirnya.

Ndilalah, dalam banyak kasus, beberapa paslon pilkada berasal dari keluarga para pejabat penting sebelumnya. Entah bupati, walikota, gubernur, bahkan juga presiden dan mantan presiden, Entah saudaranya, anaknya, menantunya, keponakannya, bahkan suami atau istrinya. Apakah faktor keturunan itu penting? Jelas penting, walau sama sekali tidak menentukan kualitas.

Sekali lagi, keturunan itu penting karena jika ayam Bangkok kelas petarung jalan-jalan di sudut desa dan “menghamili” betina dari jenis ayam kampung lokal, boleh jadi anak-anak yang dihasilkan akan pandai bertarung juga. Tetapi, bisa pula tidak lebih bagus dari ayam kampung lainnya.

Kalaupun itu anak ayam keturunan ayam Bangkok murni, juga tidak ada jaminan akan jago berkelahi. Jangan-jangan malah jadi ayam sayur belaka. Faktor genetik memang menentukan, tetapi latihan, perawatan, dan faktor lingkungan lainnya juga tidak boleh disepelekan. Itu baru ilustrasi tentang anak ayam, apalagi jika anak manusia.

Makanya saya begitu tergelak saat melihat di media sosial ada calon bupati Pacitan yang dengan pedenya memasang banner dengan keterangan “keponakan SBY” di bawah namanya. Apa iya jika keponakannya Pak SBY juga akan punya gaya kepemimpinan seperti Pak SBY? Wibawanya, sikap badan tegapnya, kehati-hatiannya dalam menata kata demi kata, juga curhatnya di depan para awak media? Saya kok ikut prihatin.

Baca Juga:

Jogja dan Lamongan Itu Saudara Kembar: Sama-sama Punya Masalah Upah Rendah, dan Sama-sama Susah Jadi Pemimpin!

Pilkada, Momen Favorit para Begal di Probolinggo Beraksi: Sebuah Irama Kriminal yang Selalu Berulang

Eh, bukankah di belahan daerah lain juga sama? Di Solo dan Medan, Mas Gibran anak Pak Jokowi dan Mas Bobby menantunya juga ikut nyalon Pilkada. Apakah mereka berdua juga akan mewarisi kualitas kepemimpinan bapak dan mertuanya? Apakah nanti setelah terpilih juga akan suka ngasih tebakan nama-nama ikan dan bagi-bagi sepeda? Wallahu a’lam.

Tak mau kalah, Mbak Siti Nur Azizah putri Wapres Kyai Ma’ruf Amin juga ikut berlaga di Pilkada Tangsel. Begitu juga dengan anak Mensesneg Pak Pramono Anung, Mas Ditho yang maju di Pilkada Kediri. Ini gejala apa sih? Nyalon pilkada memang hak politik setiap warga negara, apalagi di negara demokrasi. Tapi, nyuruh-nyuruh anak turun yang belum teruji kualitasnya untuk maju pilkada, kok malah mirip model monarki ya? Kalo bapaknya jadi raja, anaknya juga harus menjadi raja. Tak peduli apakah dia linglung atau bahkan setengah gila. Jangan-jangan ini model baru. Demokrasi, tapi berasa monarki.

Yang jelas, para kontestan pilkada yang berasal dari jalur keluarga telah menjamur di mana-mana. Di Banyuwangi, salah satu calon bupati adalah istri dari incumbent. Bahkan di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) Sulawesi Selatan, terdapat tiga paslon yang memiliki hubungan keluarga dengan bupati petahana saat ini.

Pasangan Andi-Rismayani punya hubungan khusus dengan Syamsuddin Hamid yang saat ini masih aktif menjabat sebagai Bupati Pangkep dua periode. Rismayani sendiri adalah Istri dari bupati Syamsuddin, sedangkan Andi adalah ipar dari Syamsuddin. Sementara pasangan Muhammad Yusran-Syahban Samana juga tak bisa dilepaskan dari Bupati Pangkep Syamsuddin Hamid. Sebab, Yusran dikenal sebagai keponakan dari Syamsuddin. Nah, alangkah mulia melihat paslon yang sedarah daging bersepakat ingin menjadi pemimpin dan memperjuangkan nasib rakyat. Indah sekali bukan?

Di daerah saya, Tuban, Jawa Timur, juga begitu. Anak bupati incumbent juga nyalon, sementara anak ibu bupati dua periode sebelumnya juga ikut nyalon. Nah, bupati incumbent adalah rival berat ibu bupati dua periode sebelumnya. Untungnya hanya satu nama yang mendapat rekomendasi dari DPP partai pengusungnya. Jika saja keduanya lolos jadi pasangan calon, akan jadi preseden buruk bagi rakyat. Bahwa suksesi kepemimpinan bupati hanya akan menjadi milik dua keluarga besar mereka. Seolah-olah tidak ada calon lain saja.

Seperti diduga, calon yang satu ini juga memanfaatkan nama besar ibunya. Di banner yang dipasang, dengan pedenya ia menyebut “anak ibu bupati” di bawah namanya dan memasang foto ibunya di belakang foto dirinya. Bukankah ini justru melegitimasi bahwa saya adalah “anak mami”? Lha masih anak mami kok, mau nyalon bupati. Apa jadinya nanti? Dalam bentuk lain, ada juga yang nebeng popularitas dan kharisma kiainya, nama besar ormasnya, atau kemuliaan nasabnya, dan lain-lain, dan sebagainya.

Saya jadi teringat pepatah Arab dalam kitab Idhotun Nasyi’in yang berbunyi “Laisal fata man yaqulu kana abiy, walakinnal fata man yaqulu ha ana dza”. Artinya, “Bukan kesatria orang yang mengatakan inilah ayahku, melainkan (kesatria yang sesungguhnya) adalah orang yang berkata inilah aku.” Dalam bahasa pesantren, orang demikian disebut “manusia idhomi”, yaitu selalu mengantungkan dirinya pada kehebatan para leluhur atau keluarganya.

Rasa-rasanya tak perlu kita mendalami teori hereditasnya Gregor Mendel, baca A Study of British Genius-nya Havelock Ellis, atau menganalisis Study Genius-nya Francis Galton untuk mengambil kesimpulan bahwa faktor keluarga bukanlah segala-galanya. Melainkan pendidikan, kerja keras, habituasi lingkungan, dan pengalamanlah yang ikut memegang peranan penting.

Lewat perspektif orang awam pun, kita bisa maklum bahwa keturunan bukanlah apa-apa dan tidak dominan seratus persen. Tidak selamanya berlaku pepatah bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sebab, bisa jadi, buah jatuh tidak akan jauh-jauh dari keranjang yang dibawa oleh penjual buah.

Taruhlah Anda punya hubungan silsilah dengan Raja Pasundan Prabu Siliwangi yang kesohor hebat itu, tapi adakah yang lebih penting dari siapakah Anda sekarang ini? Anda tak lebih hanya mendompleng kebesarannya, sementara Anda bukanlah siapa-siapa. Anda tetaplah Anda, habislah perkara. Dan yang pasti Anda bukanlah saya.

BACA JUGA 5 Cara yang Membuatmu Kelihatan Kaya di Mata Orang Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2022 oleh

Tags: dinasti politikmonarkiPemiluPilkada
Muhammad Makhdum

Muhammad Makhdum

Guru SMP di Tuban. Menaruh perhatian terhadap isu-isu pendidikan, pesantren, dan sosial.

ArtikelTerkait

Solusi agar Poster para Calon Bupati Bantul Nggak Membosankan terminal mojok.co

Solusi agar Poster para Calon Bupati Bantul Nggak Membosankan

15 November 2020
survei elektabilitas 2024

Survei Elektabilitas Capres, Berita Penting di Waktu yang Salah

11 Oktober 2021
Pilkada, Momen Favorit para Begal di Probolinggo Beraksi: Sebuah Irama Kriminal yang Selalu Berulang

Pilkada, Momen Favorit para Begal di Probolinggo Beraksi: Sebuah Irama Kriminal yang Selalu Berulang

25 November 2024
jadi presiden selama sehari lambang negara jokowi nasionalisme karya anak bangsa jabatan presiden tiga periode sepak bola indonesia piala menpora 2021 iwan bule indonesia jokowi megawati ahok jadi presiden mojok

Jokowi Layak Dinobatkan sebagai Kepala Keluarga Terbaik di Indonesia

12 Desember 2020
Repotnya Jadi ASN di Tahun Politik, Pose Foto Nggak Leluasa Seperti Dulu Mojok.co

Repotnya Jadi ASN di Tahun Politik, Pose Foto Nggak Leluasa Seperti Dulu

17 November 2023
Jogja dan Lamongan Itu Saudara Kembar: Sama-sama Punya Masalah Upah Rendah, dan Sama-sama Susah Jadi Pemimpin!

Jogja dan Lamongan Itu Saudara Kembar: Sama-sama Punya Masalah Upah Rendah, dan Sama-sama Susah Jadi Pemimpin!

14 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Piyungan Isinya CEO Pakai Sandal Jepit Bawa Karung Rongsokan (Unsplash)

Saya Belajar Tentang Kebahagiaan di Piyungan, Tempat Para CEO Pakai Sandal Jepit dan Pegang Karung Rongsokan

7 Februari 2026
Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil Mojok.co

Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil

7 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat
  • Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!
  • Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata
  • Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 
  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.