Yang paling parah adalah, spakbor belakang motor ini nggak sejajar dengan ban. Sudah, saya sudah komplain ke bengkel resmi. Tapi nggak ada tanggapan sama sekali. Kasus ini pernah ramai juga di medsos, dan saya adalah salah satu korbannya.
Apakah berhenti di bodi yang ampas saja? Oh tidak. Tentu saja mesinnya juga bermasalah.
Servis rutin, ganti oli nggak pernah telat, tapi…
Mesin Vario ini jujur saja bandel, kuat. Tetapi setelah pemakaian 1 tahun, motor ini semakin lama suaranya menjadi kasar, berisik, diikuti juga dengan CVT yang punya masalah “gredek’ saat tarikan awal yang membuat tidak nyaman saat stop and go di kemacetan. Padahal ganti oli ya nggak pernah telat, servis juga rutin. Salahnya di mana sih?
Selain itu komstir pada motor ini rawan sekali rusak. Di awal pembelian pun saya mendapati motor ini stangnya berat, yang ternyata karena komstirnya rusak. Meski begitu, saya sih nggak kaget-kaget amat. Bengkel depan rumah saya tiap bulan bisa menangani 3-5 Vario yang komstirnya rusak. Cara menanganinya gimana? Gampang, beli komstir aftermarket. Kelar. Jauh lebih bagus ketimbang bawaan pabrik. Aneh? Ya iyalah.
Honda Vario 125 generasi keenam bisa jadi motor terbaik yang pernah ada. Tapi ya, gading retak ini disumbang oleh bodi tipis, kualitas mesin yang questionable, dan masalah-masalah lain yang jujur saja, tak perlu. Faktanya memang, motor ini masih ramai pembeli. Cuma ya, kalau kalian salah satu pemilik Honda Vario, sabar-sabar ya. Paling masalah yang saya alami bakal kalian alami juga. Semoga saja tidak, sih.
Penulis: Imanuel Joseph Phanata
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













