Di era gempuran motor matic dengan model dan warna yang lucu-lucu, motor bebek semakin ditinggalkan banyak orang. Saya rasa mulai jarang orang yang merawat motor bebek hingga lebih dari 5 tahun seperti yang saya lakukan pada Honda Revo. Saya juga heran bisa selama itu bertahan dengan motor bebek satu ini.
Bapak saya menawari saya untuk beli motor. Saya ingat betul itu terjadi 2018 saat masih kuliah di Malang. Motor itu akan digunakan untuk kuliah di Malang dan mudik ke Lamongan. Bapak saya tanya motor seperti apa yang diinginkan. Dengan mantap saya jawab motor yang BBM-nya irit. Saya trauma dengan motor sebelumnya yang menyedot begitu banyak bahan bakar. Dompet mahasiswa seperti saya jadi mengkis-mengkis.
Ibu saya menambahkan saran untuk tidak membeli motor yang mencolok supaya aman dari pencurian. Itu mengapa, kriteria motor yang saya cari adalah, irit, sederhana, tidak keren secara visual, tidak jadi pusat perhatian. Bahkan, kalau bisa, tidak dilirik sama sekali oleh maling.
Menimbang banyak hal itu, pilihan jatuh pada Honda Revo. Setelah dipakai agak lama, saya mulai sadar betapa tangguhnya motor ini. Selain irit bensin dan servis, Honda Revo juga tidak terlalu besar, alhasil bisa dipakai di segala kondisi. Termasuk melibas jalan raya yang penuh kemacetan atau gang-gang kecil yang brasak-brasak itu.
Soal BBM irit, Honda Revo adalah ahlinya
Konsumsi BBM irit jadi salah satu alasan kuat saya bertahan dengan Honda Revo. Dalam pemakaian harian, berangkat kerja, keliling kota, kadang perjalanan agak jauh, isi bensin terasa jarang. Tangki kecilnya tidak terasa merepotkan karena pemakaiannya benar-benar hemat.
Dibanding beberapa motor lain yang pernah saya pakai, Honda Revo ini paling masuk akal urusan perbensinan duniawi. Saya pernah sengaja membandingkan. Rute sama, gaya berkendara sama, beban kurang lebih setara. Hasilnya? Honda Revo tetap paling irit.
Perawatan nggak bikin pusing
Jika dilihat secara visual, bentuk Honda Revo memang kalem. Suaranya tidak menggelegar. Tarikannya biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Seiring berjalannya waktu, saya mulai merasakan satu hal yang penting: motor ini tidak pernah minta aneh-aneh.
Berbeda dengan pengalaman saya dulu saat menghadapi motor yang rutin “minta jajan”, Honda Revo ini justru kalem. Servis berkala ya standar saja: ganti oli rutin, cek rantai, bersihkan karburator (karena memang masih karbu), dan sesekali ganti kampas rem. Tidak ada hal-hal horor seperti turun mesin, mogok, bahkan tidak ada bunyi getaran motor yang mengganggu itu. Kalau pun ada kendala, biasanya tipis-tipis saja.
Tangguh dan tidak manja
Saya pernah membawa Honda Revo ke beberapa tanjakan mulai dari Bromo, Cangar, sampai Telaga Sarangan. Saya tidak menemui kendala berarti. Pun ketika sering saya bawa perjalanan jauh dari Malang ke Semarang, atau dari Lamongan ke Jogja, saya tetap merasa nyaman saja.
Bahkan, motor ini baik-baik saja ketika melalui jalanan Lamongan yang penuh dengan tambal sulam, aspal retak, bahkan tidak jarang harus melalui genangan air. Bahkan, motor ini kuat melewati banjir yang tidak begitu dalam. Suspensinya memang tidak selembut motor mahal, tapi cukup. Tidak memanjakan, juga tidak menyiksa. Motor ini seperti fokus pada satu tujuan utamanya, yakni mengantar sampai tujuan. Dan, itu Honda Revo lakukan dengan konsisten.
Saya kira tidak ada kendaraan tanpa kekurangan. Pun Honda Revo juga demikian. Selain visualnya yang biasa-biasa saja, untuk dipakai boncengan dengan jarak jauh memang kurang nyaman. Iya, motor bebek ini memang tidak lahir untuk itu. Tapi, untuk urusan efisiensi, keawetan, dan biaya perawatan yang bersahabat, ia sangat rasional. Dan kadang, menjadi rasional jauh lebih penting daripada terlihat mempesona di mata banyak orang.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
