Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Honda Civic FD: Mobil Ganteng yang Dibayar dengan Pahitnya Harga Perawatan Mahal

Budi oleh Budi
21 Januari 2026
A A
Honda Civic Genio: Tampan, Nyaman, Harga 30 Jutaan, tapi Menuntut Kesabaran Mojok.co honda civic fd

Honda Civic Genio: Tampan, Nyaman, Harga 30 Jutaan, tapi Menuntut Kesabaran (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Honda Civic FD adalah salah satu mobil yang sejak kemunculannya langsung mencuri perhatian. Desainnya timeless, futuristis, dan terlihat “mahal” meski usia tak lagi muda. Garis bodinya tegas, lampu sipit, serta interior yang terasa berbeda dari mobil Jepang kebanyakan di zamannya. Tak heran jika banyak orang—termasuk Adi—menjadikan Civic FD sebagai mobil impian.

Adi bukan tipe orang yang asal membeli mobil. Bertahun-tahun ia memendam keinginan memiliki Civic FD, sambil membaca forum, menonton review, dan mendengarkan cerita para pemiliknya. Ia tahu mobil ini tak semata jadi alat transportasi, tapi juga simbol pencapaian.

Namun seperti banyak mimpi lain, ada harga yang harus dibayar. Dan pada Honda Civic FD, harga itu datang dalam bentuk konsumsi bahan bakar yang boros dan biaya perawatan yang tak ramah kantong.

Mimpi yang akhirnya terwujud

Saat akhirnya Adi membeli Honda Civic FD bekas, perasaannya campur aduk. Senang, bangga, sekaligus waswas. Senang karena mobil idaman akhirnya terparkir di garasi. Bangga karena Civic FD masih punya aura prestise. Tapi waswas karena ia tahu cerita-cerita pahit soal perawatan mobil ini bukan isapan jempol semata.

Di bulan-bulan awal, Civic FD memang terasa sempurna sekali. Suspensi empuk tapi tetap stabil, handling mantap, dan mesin i-VTEC terasa halus saat dipacu. Setiap kali diparkir, selalu ada rasa puas saat menoleh ke belakang. Namun kebahagiaan itu perlahan diuji saat jadwal perawatan rutin datang.

BACA JUGA: Honda Civic Genio: Tampan, Nyaman, Harga 30 Jutaan, tapi Menuntut Kesabaran

Pahitnya merawat Civic FD: sparepart mahal dan tak bisa asal

Masalah utama Civic FD bukan karena mobilnya rewel, melainkan karena standar perawatannya tinggi. Banyak komponen yang harganya jauh di atas mobil Jepang sekelasnya. Adi mulai merasakan “tamparan” pertama saat harus mengganti kaki-kaki depan.

Shockbreaker depan Civic FD, misalnya. Untuk unit original, harganya bisa menyentuh Rp3–4 juta per buah. Jika diganti satu set depan-belakang, biayanya bisa menembus Rp12–15 juta. Alternatif aftermarket memang ada, tapi tetap tak bisa dibilang murah, apalagi jika ingin kenyamanan mendekati standar pabrik.

Baca Juga:

Honda Odyssey: Mobil Indah, tapi Jalan Nasibnya Tak Mudah

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

Belum selesai di situ. Lower arm, ball joint, dan bushing kaki-kaki juga jadi penyakit umum Civic FD, terutama yang sudah berumur di atas 10 tahun. Satu set lower arm depan bisa menghabiskan Rp4–5 juta. Bushing trailing arm belakang sekitar Rp1–2 juta, belum termasuk ongkos pasang yang juga tidak murah karena pengerjaannya rumit.

Masuk ke sektor mesin, Adi kembali mengelus dada. Engine mounting Civic FD terkenal cepat aus. Untuk satu buah engine mounting original, harganya berkisar Rp1,5–2,5 juta. Total ada beberapa titik mounting, dan jika diganti semua, dana Rp6–8 juta bisa melayang.

Sistem pengereman juga tak kalah mahal. Kampas rem depan original Civic FD bisa berada di kisaran Rp1,2–1,8 juta. Piringan cakramnya? Sekitar Rp2–3 juta per buah. Bagi Adi, ini bukan biaya kecil, apalagi jika dibandingkan dengan mobil lain yang kampas remnya bisa diganti dengan setengah harga.

Belum lagi soal sensor-sensor. Civic FD dikenal “manja” soal sensor. Sensor O2, misalnya, harganya bisa mencapai Rp2–3 juta. Jika throttle body kotor dan perlu servis atau penggantian sensor TPS, biaya kembali membengkak.

Di titik ini, Adi sadar kalau Civic FD bukan mobil untuk orang yang ingin hidup tenang tanpa dana cadangan.

BACA JUGA: Niat Hati Beli Mobil Honda Civic Genio buat Nostalgia, Malah Berujung Sengsara

Honda Civic FD boros BBM!

Jika perawatan mahal adalah satu luka, konsumsi bahan bakar adalah luka lainnya. Civic FD, terutama varian 1.8 dan 2.0, terkenal boros di dalam kota. Dengan kondisi macet, konsumsi BBM bisa berada di angka 1:6 hingga 1:8 km per liter. Bahkan dengan gaya berkendara santai, sulit berharap angka lebih irit.

Untuk perjalanan luar kota memang sedikit lebih baik. Namun tetap saja, angka ini kalah jauh dibandingkan sedan lain yang lebih bersahabat di dompet.

Adi sering berkelakar, “Civic FD itu gantengnya mahal, minum BBM-nya banyak.” Setiap kali mengisi bensin, ia sadar bahwa mobil ini menuntut kompromi. Bukan hanya uang perawatan, tapi juga uang harian.

Menyerah?

Pada satu titik, Adi sempat berpikir untuk menjual Civic FD. Rasanya lelah. Setiap bunyi aneh membuatnya waswas. Setiap jadwal servis membuatnya menghitung ulang saldo rekening. Namun ada satu hal yang membuatnya bertahan: perasaan saat mengemudi.

Civic FD memberinya sensasi berbeda. Setiap kali gas diinjak, ada kepuasan tersendiri. Setiap kali melewati tikungan, handling-nya seperti mengingatkan bahwa mobil ini memang diciptakan untuk pengemudi, bukan sekadar penumpang.

Lebih dari itu, Civic FD justru menjadi cambuk bagi Adi. Mobil ini mengajarkannya tentang tanggung jawab. Tentang mimpi yang memang tak selalu murah. Tentang kenyataan bahwa gengsi dan kenyamanan sering datang bersama konsekuensi.

Alih-alih menyesali pilihannya, Adi menjadikan Civic FD sebagai motivasi. Ia bekerja lebih keras, mencari penghasilan tambahan, dan lebih disiplin mengatur keuangan. Setiap biaya servis bukan lagi keluhan, tapi pengingat bahwa ia pernah berani bermimpi dan berani membayar harganya.

Civic FD bukan sekadar mobil bagi Adi. Ia adalah pelajaran hidup. Tentang keinginan yang tercapai, lalu diuji. Tentang tampilan luar yang memukau, tapi menyimpan tuntutan di baliknya. Tapi bagi Adi, semua itu sepadan. Karena dari mobil inilah ia belajar bahwa mimpi tak pernah gratis. Dan justru karena mahal itulah, mimpi terasa lebih berarti.

Penulis: Budi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mobil Bekas di Bawah 100 Juta yang Sebaiknya Nggak Dibeli Pemula

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2026 oleh

Tags: harga honda civic fdhonda civichonda civic fdMobil Honda
Budi

Budi

Seorang montir tinggal di Kudus yang juga menekuni dunia kepenulisan sejak 2019, khususnya esai dan fiksi. Paling suka nulis soal otomotif.

ArtikelTerkait

Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
Niat Hati Beli Mobil Honda Civic Genio buat Nostalgia, Malah Berujung Sengsara

Niat Hati Beli Mobil Honda Civic Genio buat Nostalgia, Malah Berujung Sengsara

18 Agustus 2025
Honda Civic Genio: Tampan, Nyaman, Harga 30 Jutaan, tapi Menuntut Kesabaran Mojok.co honda civic fd

Honda Civic Genio: Tampan, Nyaman, Harga 30 Jutaan, tapi Menuntut Kesabaran

6 Januari 2026
Honda Odyssey: Mobil Indah, tapi Jalan Nasibnya Tak Mudah

Honda Odyssey: Mobil Indah, tapi Jalan Nasibnya Tak Mudah

11 April 2026
Honda HRV : Simbol Status Anak Muda Masa Kini yang Dihujat oleh Kaum Mendang-Mending. Overhated?

Honda HRV : Simbol Status Anak Muda Masa Kini yang Dihujat oleh Kaum Mendang-Mending. Overhated?

14 Mei 2025
Alasan Honda Brio Bisa Dapat Julukan Mobil Jamet Mojok.co

Alasan Honda Brio Bisa Dapat Julukan Mobil Jamet

15 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Kelemahan Punya Rumah Dekat Sawah yang Jarang Disadari Orang Kota Mojok.co

5 Kelemahan Punya Rumah Dekat Sawah yang Jarang Disadari Orang Kota

10 Mei 2026
6 Pelatihan untuk Awardee LPDP yang Lebih Penting Dibanding Pembekalan dari TNI, Ada Academic Writing hingga Literasi Finansial Mojok.co

6 Pelatihan bagi Awardee LPDP yang Lebih Penting Dibanding Pembekalan dari TNI, Ada Academic Writing hingga Literasi Finansial 

11 Mei 2026
Jangan (Pernah) Percaya Kabar Kylian Mbappe (Akhirnya) Pindah ke Real Madrid, Pokoknya Jangan

Ketika 30 Juta Orang Ingin Kylian Mbappe Angkat Kaki dari Real Madrid

8 Mei 2026
Warga Lokal Bersyukur Salatiga Nggak Punya Stasiun, Biarlah Kota Ini Dinikmati oleh Orang-orang yang Mau Effort Mojok.co

Warga Lokal Bersyukur Salatiga Nggak Punya Stasiun, Biarlah Kota Ini Dinikmati oleh Orang-orang yang Mau Effort

6 Mei 2026
Predikat Cumlaude Kini Basi dan Tidak Prestisius Lagi karena Terlalu Banyak Mahasiswa Memilikinya Terminal

Predikat Cumlaude Kini Basi dan Tidak Prestisius Lagi karena Terlalu Banyak Mahasiswa Memilikinya

10 Mei 2026
Orang Jakarta Baperan: Panggilan ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Mojok.co

Orang Jakarta Baperan: ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

8 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada
  • Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa
  • Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung
  • Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus
  • Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga
  • Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.