Ketika semua dirayakan
Pengeluaran yang disebutkan di atas adalah pengeluaran yang berkaitan dengan hubungan kita dalam bertetangga. Yang lain, ada pula ongkos sosial yang kaitannya dengan posisi kita sebagai bagian dari masyarakat desa.
Contohnya begini. Jika rumah kamu dekat dengan madrasah, maka, bersiapkah dimintai sumbangsih ketika madrasah tersebut punya gawe, perayaan, renovasi atau apa pun itu.
Mendekati Agustus, akan ada iuran perayaan HUT RI bukan hanya dari RT setempat, tapi juga dari RW dan desa.
Kamu protes? Maka sesepuh akan mulai berkoar tentang nasionalisme. Bahwa momen ini hanya setahun sekali dan para pahlawan sudah mengorbankan nyawa mereka demi kemerdekaan. Sedangkan kamu? Diminta iuran saja kangelan.
Ada lagi. Masuk bulan Muharram, biasanya ada iuran santunan anak yatim. Di bulan puasa, bersiap untuk nyumbang takjil ke masjid. Nanti halal bil halal, juga ada iuran. Trus kalau besoknya jumat kliwon, akan ada woro-woro untuk sumbangan nasi kotak.
Definisi semua dirayakan, semua pakai iuran.
Untuk semua tetek bengek ini, anggaplah kita butuh 150 ribu sebulan. Maka, ongkos sosial per bulannya menjadi 449.000.
Setor iuran iya, setor muka juga iya
Kalau toh kamu tidak masalah dengan iuran sosial yang besarnya mencapai 20% dari UMR Jateng itu, jangan lupa bahwa hidup di desa itu nggak bisa hanya rajin setor iuran. Kamu, juga harus setor muka, keluar rumah dan ikut acara-acara tadi. Kalau kamu tidak pernah menampakkan batang hidung, bersiaplah dijadikan bahan gunjingan warga.
“Si A kemana ya? Kok nggak pernah ikut ngumpul?”
Lalu, akan selalu ada orang yang komentar, “Nggak pernah ngumpul. Dia kira kalau meninggal bakal turun sendiri ke liang lahat apa?”
Hmm.
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.












