Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Hari Libur Adalah Hari yang Paling Dibenci oleh Investor

M. Fitrah Wardiman oleh M. Fitrah Wardiman
3 Januari 2021
A A
Investor trader pasar modal mojok

Investor trader pasar modal mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Libur, bagi kebanyakan orang, adalah kabar yang menggembirakan, namun tidak demikian dengan investor ritel yang sehari-harinya bertransaksi di pasar modal. Ini saya ketahui dari cerita teman saya yang bergelut di dunia investasi.

Sedikit mundur ke belakang. Barangkali masih segar dalam ingatan pembaca tentang kabar pengurangan hari libur dan cuti bersama sepanjang tahun 2020. Dari yang semula 24 hari sepanjang tahun, berkurang menjadi 20 hari saja. Termasuk pemangkasan cuti bersama akhir Desember kemarin.

Hal ini kemudian mengundang polemik tak kasat mata antara masyarakat biasa dan investor. Tentu saja, bagi masyarakat biasa, termasuk ASN, libur ibarat angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Tidak perlu riset untuk membuktikan ini. Tanyakan saja pada kerabat di sebelah Anda, berapa banyak yang menantikan siklus hari Sabtu-Minggu. Jawabannya mungkin mengejutkan.

Bertolak belakang dengan investor ritel yang sehari-harinya bertransaksi di pasar modal. Kebanyakan malah membenci hari libur dan kegirangan kalau libur dikurangi. Sebab, itu artinya hari bursa tetap berjalan. Aksi jual-beli atau ambil untung di pasar modal tetap berlangsung.

Ini saya ketahui dari cerita kamerad saya yang berprofesi sebagai trader saham. Hasilnya memang tidak main-main. “Seminggu return bisa lima sampai sepuluh persen,” jawabnya tanpa merinci saat ditanyai jumlah nominal yang ia dapat per harinya berkat aktivitas trading.

Dari informasi itu, saya coba hitung-hitung kasar. Kalau modal yang digunakan 10 juta, berarti keuntungan 10 persen dari itu adalah satu jutaan. Kalau dikalikan sebulan, maka hasilnya tiga jutaan. Sementara kerjaannya cuman duduk. Lalu bagaimana jika modal yang digunakan lebih banyak? Hasilnya pasti bikin iri followers Karl Marx.

Persoalannya, kalau hari libur tiba maka transaksi di pasar modal juga tidak berpraktik (baca: beroperasi). “Semenjak inves saham jadi males kalau hari libur,” katanya mengesalkan. Maksudnya, ia tidak suka dengan hari libur. Termasuk Sabtu-Minggu. Sebab, libur berarti kehilangan rupiah sebagaimana yang sudah diilustrasikan diatas. Goblok!

Setelah mendengar itu, saya coba kalkulasi potensi kerugian yang diakibatkan oleh hari libur. Merujuk pada kalender 2020, terdapat 16 libur nasional dan empat hari cuti bersama. Totalnya jadi 20 hari kalender. Tidak termasuk libur Sabtu-Minggu. Hasilnya, jelas ada kerugian materil yang cukup besar.

Baca Juga:

Belajar Trading Saham agar Cepat Kaya seperti Timothy Ronald, Malah Berujung Rungkad

Kelebihan dan Kekurangan Cicilan Emas yang Harus Kamu Ketahui sebelum Memutuskan Berinvestasi

Dari situ, pemikiran saya terbawa pada kesimpulan bahwa kebanyakan investor ritel memang tidak suka dengan hari libur. Tepatnya, tidak suka kalau bursa tutup oleh sebab hari libur.

Memang. Jika dihubung-hubungkan, mungkin ini juga menjadi alasan kuat mengapa di sebagian negera maju memiliki waktu libur cuti lebih sedikit. Supaya gairah pasar modal tidak terganggu.

Ambil contoh Singapura dan Amerika. Kedua negara tersebut memiliki waktu libur cuti yang minim, yakni hanya 11 hari sepanjang tahun 2020. Dibandingkan rata-rata hari libur per tahun (tidak termasuk Sabtu-Minggu), maka Indonesia termasuk yang terbanyak. Disusul Malaysia, yakni sebanyak 20 hari.

Saya lantas menalikan pernyataan para ahli belakangan ini yang menghubungkan antara hari libur dan gairah ekonomi, termasuk investasi di pasar modal. Hasilnya memang ada korelasi positif. Mengapa demikian, sebab arus transaksi yang terjadi setiap hari di pasar modal adalah cerminan gairah pasar yang terjadi di luar. Bedanya, hanya pada bentuk transaksinya.

Asal tahu saja, menurut catatan Bursa Efek Indonesia, terdapat 3,87 juta investor pasar modal. 94 ribu investor aktif per hari dan rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp9,18 triliun. Maksudnya, libur sehari berarti kehilangan nilai transaksi yang setara dengan 30-an lusin mobil Ferarri Superfast. Edan

Hari-hari libur di Indonesia ini memang tampaknya agak mengganggu roda ekonomi. Tepatnya, mengganggu para hypercapitalist melancarkan aksi akumulasi kekayaan. Terutama hypercapitalist junior (baca: trader) yang tidak suka kalau bursa tidak beroperasi.

Bisa kebayang, kan. Apa jadinya kalau sepanjang tahun adalah hari libur semua. Yang protes tentu bukan masyarakat biasa macam saya, melainkan hanya investor ritel, baik domestik maupun luar. Saya pikir belum pernah dalam sejarah masyarakat proletar terganggu dengan hari libur yang kebanyakan. Hanya para pemilik modal saja yang bermuka kecut.

Dari cerita-cerita diatas, tergambar bagaimana hubungan antara hari libur, gairah ekonomi dan investor pasar modal itu teranyam. Bahwa investor tidak suka dengan hari libur. Termasuk Sabtu-Minggu. Seperti lalat yang menggelisahkan gajah, begitu lah hari libur mengganggu mereka melakukan akumulasi kapital.

BACA JUGA Jogja dari Sudut Pandang Mahasiswa Baru atau tulisan M. Fitrah Wardiman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 Januari 2021 oleh

Tags: investorliburpasar modalsaham
M. Fitrah Wardiman

M. Fitrah Wardiman

Lulusan pembangunan sosial yang suka dengan FGD dan snack box. Gemar melakukan riset tentang kebijakan pembangunan sosial.

ArtikelTerkait

Belajar Trading Saham agar Cepat Kaya seperti Timothy Ronald, Malah Berujung Rungkad

Belajar Trading Saham agar Cepat Kaya seperti Timothy Ronald, Malah Berujung Rungkad

14 Agustus 2025
uang kripto cryptocurrency aplikasi trading kripto cryptocurrency mojok

Sebelum Trading Kripto, Pelajari Dulu Aplikasi Layanannya

11 Februari 2021
Darurat Gunung Sewu: Kalau Uang Sudah Berbicara, Gunung pun Dihancurkan!

Darurat Gunung Sewu: Kalau Uang Sudah Berbicara, Gunung pun Dihancurkan!

28 November 2022
Ini Tips Investasi Saham yang Saya Perhatikan sebagai Investor Awam

Ini Tips Investasi Saham yang Saya Perhatikan sebagai Investor Awam

7 Februari 2022
4 Faktor yang Bikin Saham Netflix Terguncang

4 Faktor yang Bikin Saham Netflix Terguncang

10 Juni 2022
Jogja Istimewa, Gunungkidul Merana

Wisata Gunungkidul: Warga Membangun, Pemodal Menggusur

14 Oktober 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Tertipu Beli Durian di Wonosalam, Pusatnya “Raja Buah” di Jombang Mojok.co

Pengalaman Tertipu Beli Durian di Wonosalam, Pusatnya “Raja Buah” di Jombang

7 Januari 2026
Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

Anggapan Solo Serba Murah Mulai Terasa Seperti Dongeng, Gaji Tidak Ikut Jakarta tapi Gaya Hidup Perlahan Mengikuti

11 Januari 2026
Pemasangan Lampu Merah di Persimpangan Purawisata Jogja itu Keputusan Konyol, Alih-alih Lancar, Malah Makin Macet!

Pemasangan Lampu Merah di Persimpangan Purawisata Jogja itu Keputusan Konyol, Alih-alih Lancar, Malah Makin Macet!

6 Januari 2026
5 Hal yang Bikin Orang Kebumen Terlihat Santai, padahal Sebenarnya Sedang Bertahan Hidup

5 Hal yang Bikin Orang Kebumen Terlihat Santai, padahal Sebenarnya Sedang Bertahan Hidup

9 Januari 2026
Tidak Ada Nasi Padang di Kota Padang, dan Ini Serius. Adanya Nasi Ramas! angkringan

4 Alasan Makan Nasi Padang Lebih Masuk Akal daripada Makan di Angkringan  

11 Januari 2026
MR DIY Tempat Belanja yang Lebih Nyaman, Lengkap, dan Worth It ketimbang Miniso

MR DIY Tempat Belanja yang Lebih Nyaman, Lengkap, dan Worth It ketimbang Miniso

11 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 
  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.