Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Harga BBM Bakal Naik: Pemerintah Digaji untuk Asal Pangkas Subsidi

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
23 Agustus 2022
A A
Harga BBM Bakal Naik: Pemerintah Digaji untuk Asal Pangkas Subsidi

Harga BBM Bakal Naik: Pemerintah Digaji untuk Cari Solusi, Bukan Asal Pangkas Subsidi (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Wacana menaikkan harga pertalite dan solar subsidi sebenarnya sangat wajar. Sudah berbulan-bulan pemerintah sambat membengkaknya subsidi BBM. Hingga kemudian disusul kenaikan harga BBM non-subsidi. Lalu menyusul pula pembatasan pembelian pertalite dan solar subsidi. Lha, apa lagi selanjutnya kalau bukan kenaikan harga BBM kesayangan rakyat ini? Mosok kenaikan taraf hidup rakyat Indonesia? Yo ngimpi.

Suara penolakan jelas santer terdengar. Kalaupun ada yang mendukung kenaikan ini, paling karena ide ndakik-ndakik tentang stabilitas ekonomi. Biasa laaah, biar kelihatan si paling educated dan patriot.

Yang menolak jelas berargumen tentang situasi ekonomi akar rumput. Setiap harga BBM subsidi naik, pasti akan disusul kenaikan harga sembako. Kenaikan harga sembako akan memicu kenaikan harga kebutuhan lain. Tapi, upah pekerja akan anyep tanpa ikut menyesuaikan harga kebutuhan pokok.

Meskipun demikian, rakyat diminta memaklumi. Pokoknya, rencana pemerintah ini adalah demi kebaikan bersama. APBN yang selama ini banyak terserap sebagai subsidi diharapkan bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain? Kebutuhan apa ini? Apakah percepatan pembangunan IKN?

Yang jadi pertanyaan adalah: apakah memangkas subsidi adalah solusi terbaik? Jawabannya tentu “ya”, kalau dilihat dari kacamata pemerintah. Tapi, bagaimana dengan masyarakat? Tentu akan diberatkan dengan kenaikan harga BBM ini. Jika tidak berat, kemungkinan mereka adalah kelompok 1% yang tidak pernah mendapat upah UMR.

Selama ini yang dibahas hanya masalah pembengkakan konsumsi BBM subsidi. Distribusi yang tidak tepat sasaran menjadi satu-satunya kambing hitam. Tapi, pemerintah tidak pernah membahas cara untuk menekan konsumsi ini. Tidak pernah ada kajian tentang menghemat subsidi BBM selain memangkas subsidi dan mengajak (baca: memaksa halus) masyarakat memakai BBM non-subsidi.

Mosok pemerintah hanya menawarkan solusi seperti di atas? Mosok menawarkan solusi yang bisa diambil anak SMP yang baru belajar ekonomi? Pemerintah kan digaji untuk menemukan win-win solution, baik untuk kesehatan neraca pemerintah dan untuk dompet rakyat.

BBM subsidi memiliki sasaran untuk mobilitas masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Berarti sumber masalahnya adalah mobilitas ini. Mengapa masyarakat harus mengonsumsi BBM subsidi dengan jumlah tidak efisien? Tentu karena moda transportasi hari ini tidak efisien. Berarti, ada kebutuhan untuk moda transportasi umum yang layak.

Baca Juga:

Pemerintah Bangkalan Madura Nggak Paham Prioritas, Memilih Sibuk Bikin Ikon Pendidikan daripada Perbaiki Kualitas Pendidikan

5 Cara Legal Boikot Pemerintah yang Ugal-ugalan

Layak di sini tidak hanya masalah kendaraan baru, tapi juga cakupan area serta waktu tempuh. Jujur saja, transportasi umum hari ini belum memenuhi kebutuhan ini. Daripada berdesak-desakan dan telat sampai tujuan, rakyat memilih kendaraan pribadi. Jangan salahkan rakyat atas keengganan ini. Telat sampai tujuan bisa menjadi hilangnya nafkah.

Kemacetan juga ikut menyedot BBM subsidi. Entah berapa liter BBM kita yang terbuang percuma karena antre macet di perempatan sambil plonga-plongo. Maka, peningkatan kualitas jalan ikut menekan konsumsi BBM subsidi secara tidak langsung. Kendaraan yang lancar melenggang di jalan jelas lebih irit daripada kendaraan yang sedikit-sedikit berhenti karena macet atau polisi tidur yang desainnya kelewat goblok.

Ini baru dari urusan mobilitas. Urusan konsumsi BBM subsidi untuk industri kecil juga tidak pernah dibahas. Dari nelayan sampai petani membutuhkan solar subsidi. Dan sudah jadi rahasia umum, biaya produksi mereka sudah kelewat tinggi. Kalau digoyang kenaikan harga, yo jelas rakuat tho, Boskuuu!

Maka yang perlu dikaji adalah efisiensi konsumsi industri kecil ini. Saya sepakat dengan cuitan Dandhy Laksono tentang konsumsi solar subsidi oleh nelayan. Hari ini nelayan harus melaut lebih jauh untuk mendapat ikan. Akibatnya, kebutuhan solar menjadi lebih banyak.

Reboisasi hutan bakau bisa menjadi solusi. Lantaran dengan reboisasi ini, habitat ikan akan lebih dekat dengan bibir pantai. Nelayan bisa melaut lebih dekat, dan konsumsi solar bisa ditekan. Jadi efektif dan efisien, kan?

Lini pertanian juga punya logika sama. Kebutuhan solar untuk mesin pompa dan mesin giling memang tinggi. Maka yang harus diperbaiki adalah sistem irigasi yang minim penggunaan mesin. Untuk menekan konsumsi solar dari mesin giling, maka sistem panen raya perlu digalakkan kembali. Tentu pemerintah harus memastikan distribusi pupuk serta benih mudah dijangkau petani.

Jika solusinya selalu kenaikan harga BBM, mau sampai kapan rakyat terdampak? Memang, kita telah beradaptasi dari harga bensin subsidi yang dari 4 ribuan jadi 7 ribuan. Tapi, adaptasi atas dampak kenaikan harga BBM ini tidak pernah cepat tercapai. Berapa banyak orang yang akan jadi korban proses adaptasi ini?

Sebenarnya ada banyak faktor untuk menekan konsumsi BBM subsidi, tapi mosok aku sing mikir? Lha, saya saja tidak dibayar untuk memikirkan ini. Pemerintah digaji melalui pajak untuk menemukan solusi semacam ini. Solusi yang tepat guna serta berpihak pada rakyat, bukan asal pangkas subsidi, dong.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Sesat Logika Pertamina: Subsidi BBM kok Indikatornya CC Mobil?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 Agustus 2022 oleh

Tags: kenaikan bbmpemerintahsubsidi bbm
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Menelusuri 5 Jenis Kaos yang Sering Dipakai Pakdhe-pakdhe ke Sawah terminal mojok.co

Cieee yang Pengin Buka Sawah Padahal Dulu Sukanya Gusur Sawah

5 Mei 2020
tiktok

Pemerintah Nerima Sumbangan Dana dari TikTok Padahal Dulu Sudah Ngeblok, Eh

11 April 2020
Petugas Medis Boleh Dianggap Pahlawan, tapi Jangan Lupa Mereka Juga Korban

Petugas Medis Boleh Dianggap Pahlawan, tapi Jangan Lupa Mereka Juga Korban

22 Maret 2020
Bisakah Kita Menikmati Musik Tanpa Peduli Pilihan Politik sang Musisi? (Pixabay.com)

Bisakah Kita Menikmati Musik Tanpa Peduli Pilihan Politik sang Musisi?

1 November 2022
Curhat Seorang Fakboi yang Diputusin karena Ikut Demo terminal mojok.co RUU Ciptaker

Apa Bedanya Demo 1998 dengan Demo 2020?

15 Oktober 2020
UMR Jogja Harus Naik Drastis, Tidak Bisa Tidak! upah minimum yogyakarta

UMR Jogja Harus Naik Drastis, Tidak Bisa Tidak!

4 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

1 Februari 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali

6 Februari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.