Delapan tahun tinggal di Tegal ternyata tidak membuat saya otomatis lupa akan kota kelahiran, Jogja. Semakin lama merantau, semakin banyak pula hal-hal kecil dari kota ini yang saya rindukan.
Padahal dulu, saat masih tinggal di Jogja, saya menganggap hal-hal tersebut biasa saja. Setelah 8 tahun tinggal di Tegal, barulah saya sadar, hal-hal yang sepele itu ternyata berharga dan bisa bikin kangen berat.
#1 Kangen trotoar yang nyaman untuk jalan kaki dan jogging
Akhir-akhir ini saya mulai aktif olahraga lari lagi. Gara-gara itu saya jadi menyadari trotoar yang nyaman ternyata penting dan perlu. Di Jogja ada beberapa kawasan yang trotoarnya nyaman untuk sekedar jalan kaki atau lari. Salah satunya, trotoar di Jalan K.H. Ahmad Dahlan dekat rumah bapak saya. Di jalan itu kita dapat lari tanpa harus terus menerus waspada apabila ada kendaraan yang melintas.
Bukan berarti di Tegal tidak ada tempat untuk olahraga lagi ya. Ada kok. Di sana ada spot-spot untuk olahraga, sebut saja GOR Tri Sanja, GOR Wisanggeni, dan Alun-alun Tegal. Namun, terkadang saya bosan kalau lari sebatas mengitari lapangan saja, terkadang saya ingin lari sambil menikmati suasana perkotaan.
Dahulu, saya pikir trotoar Jalan K.H. Ahmad Dahlan adalah fasilitas yang biasa aja. Anehnya setelah merantau ke Tegal, saya malah kangen dengan trotoar ini.
#2 Kangen Trans Jogja yang beroperasi sampai malam
Hal yang baru berasa sangat berharga setelah tinggal di Tegal ada transportasi umum yang memadai. Dahulu, saat masih SMA dan tahun pertama kuliah, saya selalu naik Trans Jogja setiap hari.
Saat itu saya selalu ngedumel ketika menunggu armada bus yang datangnya lama minta ampun. Saya juga kerap mangkel ketika harus transit halte bekali-kali agar bisa sampai tujuan.
Ternyata hal itu merupakan sebuah kemewahan yang tidak saya dapatkan di Tegal. Di Tegal terdapat angkot dan elf atau biasa disebut bus 3/4 atau bus tuyul. Sayangnya angkot dan elf tidak beroperasi sampai malam hari seperti Trans Jogja, sehingga memiliki kendaraan pribadi menjadi hal yang amat penting untuk menunjang aktivitas harian.
Mungkin karena sejak kecil dimanjakan dengan kehadiran Trans Jogja, saya jadi menggap Trans Jogja fasilitas umum yang biasa saja. Padahal, kenyataannya belum semua kota bisa menghadirkan transportasi umum yang memadai seperti Trans Jogja.
#3 Kangen logat bicara orang-orangnya
Dari sekian banyak hal yang saya rindukan, yang paling susah dijelaskan adalah rindu akan logat ngomong orang Jogja.
Delapan tahun tinggal di Tegal membuat telinga saya sudah akrab dengan logat ngapak atau logat tegalan. Bahkan, beberapa kata ngapak atau tegalan sudah saya gunakan untuk percakapan sehari-hari.
Akan tetapi, setiap mendengar logat Jogja, ada perasaan yang berbeda. Entah mengapa ingatan ini selalu kembali ke masa lalu. Dulu saya menganggap logat Jogja biasa saja, sekarang saya sering nonton YouTube yang menampilkan logat Jogja sambil senyum-senyum sendiri.
Bertahun-tahun tinggal di Tegal membuat saya semakin memahami bahwa pindah kota bukan berarti membuat kita berhenti mencintai kota tempat di mana kita dilahirkan dan dibesarkan.
Saya memang betah tinggal di Tegal, sangat amat betah bahkan. Namun, ternyata sejauh dan selama apa pun saya pergi dari Jogja, Jogja tetap mempunyai tempat tersendiri di hati saya.
Bukan berarti Jogja selalu lebih baik dari Tegal ya. Bagaimanapun juga, dari sana saya menyimpan banyak memori yang tidak terlupakan. Dan, setelah delapan tahun tinggal di Tegal, dari lubuk hati yang terdalam saya mengaku, saya kangen Jogja.
BACA JUGA 3 kebiasan warga Tegal yang dahulu saya anggap aneh, tapi kini malah saya tiru.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
