Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Kalau Guru Honorer Digaji Surga, Pancasila Cukup Sila Ketuhanan Saja

Bibah Pidi oleh Bibah Pidi
18 Oktober 2019
A A
guru honorer

guru honorer

Share on FacebookShare on Twitter

Saya punya usul jika pernyataan Pak Muhadjir tempo hari tentang “gaji guru honorer yang sedikit dibalas dengan imbalan surga” diganti begini; tidak ada gaji di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian. Kalimat itu jauh lebih adem karena setidaknya ada unsur Gus Dur yang sampai saat ini menjadi panutan putera-puteri terbaik Indonesia.

Persoalan pendidikan mungkin menjadi masalah yang nggak penting-penting amat di Indonesia. Apalagi guru honorer di sekolah swasta kecil nan terpencil, gaji mungil, dengan murid-murid yang ‘agak’ jail; nggak akan jadi topik yang menarik. Ditambah lagi saya menulis artikel ini agak terlambat sebab kemarin-kemarin direpotkan dengan beban administrasi guru yang nggak memajukan malah memundurkan kinerja.

Sebelumnya, agar tidak ada yang melabeli saya sebagai sobat gurun saat membaca judul ini, saya mau menekankan bahwa saya ini perempuan yang kalo duduk kakinya suka dinaikkan ke kursi. Tentunya muskil dong, kalau saya pakai cadar. Hehehe.

Selama  beberapa tahun menjadi guru, saya memang tidak pernah menempatkan persoalan gaji yang rendah sebagai persoalan utama para guru sekarang. Maklum, saya masih single, uhuk! Tapi kalau dipikir-pikir lagi, bagaimana dengan guru honorer yang harus menghidupi banyak kepala? Saya agak miris walaupun segera saya tepis dengan pikiran “InsyaAllah barokah, rejeki sudah ada yang ngatur”.

Lah, itu kalau saya yang berbicara di dalam hati boleh dong, menjadikan agama sebagai pondasi saya dalam mengabdi di jalan pendidikan. Itu pun saya beraninya cuma bicara di dalam hati sebab takut menyinggung perasaan guru-guru yang benar-benar terhimpit bahkan harus nombok buat kebutuhan pembelajaran kayak Mbak Aprillia Kumala di tulisannya.

Nah ini seorang Pak Muhadjir Effendi, negarawan sekaligus senior aktivis di kampus saya, bisa-bisanya menyarankan guru ikhlas digaji surga. Bawa-bawa dalil agama adalah kemacetan berpikir pemerintah. Meskipun saya tahu memang mungkin tujuan Pak Muhadjir mulia; untuk mengajak guru-guru ikhlas mengabdi.

Kalau memang guru jelas digaji surga, saya pengennya usul kalau Pancasila cukup sila Ketuhanan saja. Idealnya, orang yang bertuhan sudah tentu berkemanusiaan, bersatu, serta bermusyawarah untuk mencapai keadilan. Tapi kan, tapi kan…

Negara didirikan bukan untuk barang bercandaan, Pak. Pendidikan adalah salah satu tujuan fundamen negara. Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah amanat pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang tidak boleh diganggu gugat. Mensejahterakan guru adalah bagian dari mencerdaskan kehidupan bangsa. Ngoten nggih, Bapak dan Ibu menteri?

Baca Juga:

Fakta tentang Guru yang Terjadi di Lapangan, tapi Tak Pernah Dibahas oleh Fakultas Pendidikan

Guru Agama Katolik, Pekerjaan dengan Peluang Menjanjikan yang Masih Kurang Dilirik Orang

Bapak dan Ibu menteri pernahkah turun dan menyaksikan langsung di sekolah-sekolah kami yang agak nggak menarik ini? Ada semacam inferiority complex yang dialami oleh kami yang berhadapan dengan murid yang lebih kaya dan parlente, sementara mereka dekil dan miskin. Oleh karena itu, kenapa banyak terjadi guru tidak berani berekspresi di dalam kelas sebab takut diprotes, dilaporkan ke dinas, bahkan dipenjarakan oleh orang tua siswa.

Saya berikan gambaran lain yang agak menyeramkan saat saya menjadi seorang guru honorer di sebuah sekolah negeri. Para guru honorer di sekolah negeri, selain berjuang dengan keterbatasan dana, mereka juga mengalami kesenjangan sosial dengan guru yang berstatus Aparatur Sipil Negara alias PNS.

Betapa nelangsa saat saya bersama guru honorer lainnya diperas tenaganya sedangkan guru PNS cukup memantau dengan dalih “saatnya yang muda yang turun tangan”. Kejadian seperti itu sih masih biasa, namun yang menjadi heran saya, sebagian besar dari guru PNS tersebut tidak mencerminkan integritas yang tinggi sebagai guru.

Berdasarkan kenyataan yang saya temui di lapangan, guru PNS yang gajinya tergolong tinggi, tidak suka membelanjakan gajinya untuk bahan-bahan informasi seperti buku, majalah, dan lain sebagainya untuk meningkatkan wawasan mereka. Sebaliknya, mereka lebih suka membelajankan gajinya untuk kebutuhan konsumtif seperti baju, makanan, dan skinker dengan harga jutaan rupiah. Jiwa miskin ini menjerit gitu loooooch!1!1!1!1!

Tahu kan bapak dan ibu menteri sekarang, kalau kebijakan gaji-menggaji tidak sekedar mentok di masalah nominal semata tapi juga alokasi yang tidak merata. Sekaligus tidak ada perbaikan mutu pendidikan sebab gaji guru PNS tidak dialokasikan untuk keperluan penunjang wawasan.

Andaikan Bapak dan Ibu menteri mengikuti reality show “jika aku menjadi” kemudian bertukar posisi dengan kami sebagai guru honorer, sanggup?

Tolong stop marjinalisasi guru dalam pembangunan nasional, wahai pemerintah!

Biar pun guru honorer mendapat gaji yang horor, perut kosong tidak membuat kami berhenti berpikir. Apakah memarjinalkan guru adalah usaha kooptasi terhadap kekuatan rakyat yang dilakukan secara sistemis agar tidak menimbulkan perlawanan terhadap penguasa?

Wallahu’alam bishawab nggih, Pak Muhadjir? Setidaknya hati saya tenang karena kelak saya sudah punya kaplingan surga.Amin~

BACA JUGA Guru Honorer: Dilema Antara Cinta Mengajar dan Pendapatan  dan tulisan Bibah Pidi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Oktober 2021 oleh

Tags: guruGuru HonorerMuhadjir Effendi
Bibah Pidi

Bibah Pidi

ArtikelTerkait

guru honorer

Guru Honorer Adalah Calon Penghuni Surga, Lainnya Hanya Sampai Gerbang

14 Oktober 2019
Pengalaman Guru yang Nggak Bahasa Isyarat Mengajar Murid Tuli Mojok.co

Pengalaman Guru yang Nggak Bisa Bahasa Isyarat Mengajar Murid Tuli

1 November 2023
Jadi Guru SD Sebenarnya Menyenangkan, Tugas di Luar Mengajarnya yang Bikin Stres

Jadi Guru SD Sebenarnya Menyenangkan, Tugas di Luar Mengajarnya yang Bikin Stres

1 Juni 2024
guru kampung

Surat Cinta Dari Guru Honorer di Kampung: Hadiah Spesial Untuk Bapak Jokowi

21 Juni 2019
pertanyaan di kelas

Alasan Kenapa Pelajar di Indonesia Suka Takut Nanya/Jawab Pertanyaan di Kelas

27 April 2020
5 Hal Nggak Enaknya Jadi Guru di Desa terminal mojok

5 Hal Nggak Enaknya Jadi Guru di Desa

17 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik Mojok.co

7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik

17 Maret 2026
Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi (Unsplash)

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

19 Maret 2026
7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa (Unsplash)

7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa, Jangan Dibeli daripada Kamu Kecewa dan Menderita

13 Maret 2026
Embek-Embek Makanan Khas Tegal Paling Mencurigakan, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba Mojok.co

Embek-Embek Makanan Khas Tegal yang Nama dan Rasanya Sama-sama Aneh, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba

12 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026
Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Mempercepat Antrean di Psikiater

Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Menambah Antrean di Psikiater

14 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa
  • Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin
  • Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 
  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.