Sudah saatnya ekosistem pendidikan kita berhenti melakukan eksploitasi ketaatan atas nama “pengabdian” terhadap para guru ekstrakurikuler.
Setiap kali melihat spanduk raksasa di depan gerbang sekolah bertuliskan “Selamat dan Sukses atas Juara 1 Lomba Tingkat Nasional”, ada rasa hangat sekaligus dongkol yang mendadak beradu di dada saya.
Sebagai orang yang bergelut di lingkungan pendidikan, saya paham betul dinamika di balik layar pembuatan spanduk berkilau itu. Foto kepala sekolah biasanya terpampang paling besar di pojok kiri dengan senyum penuh wibawa. Lalu foto siswa pemenang yang memegang piagam menyusul di sampingnya.
Lalu di mana foto guru ekstrakurikuler yang melatih anak itu sampai berdarah-darah setiap sore sampai malam itu? Oh, jangankan foto di spanduk, nama mereka di lembar lampiran Surat Keputusan (SK) saja sering kali diketik dengan ejaan yang salah.
Bagi ekosistem sekolah, guru ekstrakurikuler (mulai dari pelatih pramuka, teater, musik, tari, hingga olah raga) adalah tulang punggung prestasi yang hakiki. Tapi sialnya, dalam hirarki apresiasi dan kesejahteraan, posisi mereka berada di kasta paling dasar. Iya, hidup segan, sejahtera tak diberikan.
Guru ekstrakurikuler dibayar pakai uang yang bikin lelah
Jika boleh membedah, guru mata pelajaran formal punya jam kerja yang terstruktur. Mereka datang jam tujuh pagi, mengajar di kelas, lalu pulang jam dua siang. Kalaupun ada tambahan tugas administrasi, itu sudah dicakup dalam beban kerja mingguan atau sertifikasi.
Bagaimana dengan guru ekstrakurikuler? Mereka baru mulai bekerja justru ketika orang lain berbenah untuk pulang. Saat bel akhir pelajaran berbunyi jam dua siang, ketika ruangan kelas mulai sepi dan hawa panas sore memuncak, mereka baru memulai keringatnya.
Mereka memoles bakat siswa dari nol, melatih gerakan tari yang diulang ratusan kali, mengoreksi nada fals, hingga mendampingi latihan fisik di bawah terik matahari.
Bahkan kalau ada kompetisi yang makin dekat, jam kerja mereka bisa melebar tanpa batas. Sabtu-Minggu yang harusnya jadi hak istirahat keluarga, tergadai untuk mendampingi siswa simulasi atau latihan tanding.
Lalu berapa imbalan atas dedikasi tanpa batas itu? Sering kali, honor mereka per kedatangan, yang besarnya kadang hanya cukup untuk beli bensin dan es teh manis dua bungkus.
Istilah di laporan keuangan sekolah biasanya diperhalus menjadi “Uang Lelah”. Dan percayalah, jumlah uangnya memang benar-benar bikin lelah hatinya.
Tuntutan yang tak seimut gajinya
Hal yang paling tak masuk akal bagi saya adalah beban ekspektasi yang mereka taruh di pundak para guru ekstrakurikuler ini.
Kepala sekolah dan komite sering kali mematok target langit. Pramuka harus juara umum tingkat kabupaten. Marching band harus tampil di balai kota. Tim basket wajib lolos semifinal. Tuntutan prestasi digelorakan dengan narasi-narasi besar tentang “menjaga nama baik almamater”.
Tapi ketika sang pelatih mengajukan proposal anggaran alat atau kostum yang layak, birokrasi sekolah mendadak amnesia. “Anggaran BOS terbatas, cukup-cukupi dulu ya.”
Ini kan edan. Guru ekstrakurikuler wajib menghasilkan karya emas 24 karat, tapi hanya berbekal anggaran sekelas bahan seng bekas. Ketika siswa kalah di lapangan, pelatih ekskul yang jadi bulan-bulanan karena mereka menganggapnya kurang maksimal. Tapi begitu siswa pulang membawa piala raksasa, para pimpinan sekolah yang berdiri paling depan saat sesi foto bersama media lokal. Po ra tambah mumet?
Pahlawan tanpa tanda-tanda
Sialnya lagi, mayoritas guru ekstrakurikuler ini bukanlah PNS atau PPPK. Kebanyakan dari mereka adalah tenaga lepas, alumni sekolah yang dipanggil kembali, atau seniman/praktisi lokal yang mendedikasikan ilmunya.
Mereka tidak punya tunjangan kesehatan dari sekolah, tidak ada jaminan pensiun, dan ikatan kerjanya sering kali hanya berdasar rasa “tidak enakan” atau loyalitas emosional pada almamater.
Padahal, jika kita jujur menilai, dari manakah nama besar sebuah sekolah di mata masyarakat umum itu muncul? Apakah dari nilai ujian tengah semester muridnya yang jarang ada publikasinya itu? Tentu tidak. Nama baik dan akreditasi sosial sebuah sekolah paling sering terangkat dari rentetan piala dan prestasi ekstrakurikuler yang terpajang di etalase kaca lobinya.
Merekalah yang memoles wajah sekolah agar terlihat mentereng dan berprestasi di mata dinas pendidikan dan wali murid baru. Merekalah tulang punggung yang menyangga citra lembaga.
Karena itu, sudah saatnya ekosistem pendidikan kita berhenti melakukan eksploitasi ketaatan atas nama “pengabdian” terhadap para guru dan pelatih ekstrakurikuler. Jangan perlakukan para pembentuk karakter dan penyumbang piala seperti sukarelawan ganjaran pahala semata.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Cuma Ngajar Pramuka di Surabaya Bisa buat Bertahan Hidup, Gaji Jauh Lebih Layak dari Guru Honorer
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
