Guitar Destruction, Aksi Panggung Brutal Penuh Pesan – Terminal Mojok

Guitar Destruction, Aksi Panggung Brutal Penuh Pesan

Artikel

Musisi rock ‘n roll, punk, metal dan beberapa aliran cadas lainnya kerap melakukan aksi panggung yang nyeleneh seperti merusak ampli, melempar gitar, hingga aksi merusak gitar alias guitar destruction. Beberapa musisi yang diketahui pernah membanting gitarnya adalah Jimmy Hendrix, Pete Townshend, Nirvana, Green Day, dan lain-lain. Di Indonesia ada pula pengikutnya seperti Saint Loco dan Koil.

Serupa dengan hal tersebut, pada 1967 silam, Jimmy Hendrix rupanya pernah melakukan aksi nyeleneh di atas panggung, di mana gitaris kidal tersebut membakar gitarnya dengan bantuan cairan yang flammable. Meski aksi tersebut terbilang keren, namun Jimmy Hendrix harus menerima konsekuensinya, di mana setelah aksi tersebut tangannya mengalami luka bakar yang mengharuskan dirinya bersilaturahmi dengan petugas medis yang ada di rumah sakit.

Aksi nyeleneh seperti guitar destruction tentu saja menuai banyak pro dan kontra dari para fans, mengingat gitar yang dipakai oleh para musisi bukanlah barang murah.

Melihat aksi guitar destruction tersebut, tentu saja membuat saya selaku pencinta gitar merasa sedih, apalagi saya menganut prinsip Dewa Budjana: gitarku, hidupku, kekasihku. Sehingga ketika saya melihat para musisi membanting gitarnya, saya hanya bisa membatin, “Opo ora eman gitare?”

Padahal, di luar sana masih banyak anak muda yang harus menahan hasrat njajan, mengurangi uang rokok hingga menjebol celengannya demi membeli sebuah gitar sayur dengan kualitas kayu yang humble.

Bayangkan saja, Charles Mingus seorang musisi jazz pernah membanting bass miliknya seharga 25 juta rupiah. Kalau saja bass tersebut dilelang dan uangnya dibelikan mi ayam, sepertinya cukup untuk membantu bencana kelaparan di Somalia.

Lantas apa motif perusakan instrumen yang dilakukan oleh para musisi? Berikut ini adalah alasan beberapa musisi melakukan guitar destruction di panggung.

Untuk mendapatkan gambar yang keren

Pencitraan rupanya telah ada dari zaman TV hitam putih. Guitar destruction merupakan salah satu aksi yang dianggap keren jika ditangkap dengan jepretan kamera.

Hal ini rupanya pernah dilakukan oleh personel The Who, Pete Townshend di mana aksi membanting gitar telah menjadikannya masuk dalam berita yang berjudul “50 Momen yang Mengubah Rock n Roll” di majalah Rolling Stone.

Selain itu, cover album band punk asal Inggris, The Clash yang bertajuk London Calling, berhasil menjadi salah satu cover album fenomenal berkat aksi Paul Simonon yang sedang membanting gitarnya.

Menambah kehebohan

Rasa euforia saat berada di panggung terkadang membuat sang musisi lepas kontrol, apalagi jika dirinya masih terpengaruh minuman beralkohol, dan tidak menyadari bahwa instrumen yang dirusak bukanlah instrumen dengan harga murah.

Sebenarnya masih banyak aksi panggung yang dapat menimbulkan efek heboh daripada melakukan guitar destruction, seperti memutar gitar 360 derajat atau memetik gitar dengan gigi. 

Ungkapan ekspresi kekecewaan

Disa Johnson, selaku pemerhati musik pernah mengatakan, bahwa tindakan merusak alat musik di atas panggung merupakan bentuk ungkapan kekecewaan para musisi yang menganggap bahwa kemampuan bermusiknya banyak disalahgunakan secara komersial oleh industri musik.

Aksi merusak gitar bisa jadi merupakan salah satu ungkapan sakit hati para musisi terhadap industri musik. Apalagi masalah klasik di industri musik seperti masalah hak kekayaan intelektual alias pembajakan adalah masalah yang hampir terjadi di seluruh negara.

Ungkapan kekesalan dengan guitar destruction mungkin mirip dengan kekesalan petani cabai yang membuang cabainya ketika para petani merasa sakit hati dengan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada petani. Atau aksi petani sawi yang merusak tanaman sayurannya ketika harga sayuran turun drastis sehingga membuat petani sayur mengalami kerugian.

Aksi merusak gitar rupanya tidak serta merta menunjukkan kehebohan ataupun ekspresi musisi yang lekat dengan paham anti kemapanan. Bisa jadi aksi tersebut merupakan wujud kekesalan dirinya terhadap pemerintah ataupun mafia industri musik yang telah merugikan musisi secara komersil.

BACA JUGA ‘Hot Chord’, Pahlawan Gitaris Pemula pada Masanya atau tulisan Dhimas Raditya Lustiono lainnya.

Baca Juga:  Apapun Konsernya, Semangat Slankers Tidak Akan Pernah Padam
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
8


Komentar

Comments are closed.