Gudeg Sagan adalah duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis

Gudeg Sagan duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis (Wikimedia Commons)

Gudeg Sagan duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis (Wikimedia Commons)

Makan di Gudeg Sagan adalah ujian kesabaran tingkat dewa, bahkan untuk warga lokal Jogja. Tapi percayalah, semua penderitaan itu lunas begitu suapan pertama masuk ke mulut.

Sabtu kemarin, saya melakukan kesalahan yang baru saya sadari kebodohannya di kemudian hari. Jadi, demi menemani istri yang belum pernah makan di Gudeg Sagan padahal dia asli Jogja, dengan semangat kami berangkat.

Kami sampai di Gudeg Sagan pukul setengah 12 siang, pas jam makan siang, di akhir pekan pula. Tiga dosa sekaligus.

Dari kejauhan, saya sudah melihat pemandangan itu. Deretan mobil plat luar kota parkir di sepanjang Jalan Herman Johannes, Jogja. Antusiasme orang makan di sini memang tinggi.

Rombongan keluarga berdiri di depan ruko, sebagian duduk di kursi tunggu dengan wajah seperti menunggu pengumuman hasil tes CPNS. Saya masih optimis. “Ah, paling antre 15 menit,” batin saya sambil memarkir motor dengan gagah.

Optimisme saya runtuh tiga menit kemudian.

Nomor antrean Gudeg Sagan, sumber segala penderitaan bahkan bagi warlok Jogja

Petugas di depan pintu menyodorkan satu hal yang langsung menghancurkan fantasi saya soal makan siang yang tenang: nomor antrean. Ya, makan gudeg pakai nomor antrean. Persis seperti mengurus paspor di kantor imigrasi Jogja, bedanya di sini hadiahnya sepiring nasi dan nangka muda.

Saya mengintip antrean. Nomor saya masih 20-an antrean lagi. Saya menelan ludah, lalu memilih pasrah.

Di ruang tunggu, manusia dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul. Bapak-bapak berkemeja pantai dengan anak yang merengek minta es teh. Sekelompok mahasiswa Jogja yang berkali-kali memotret menu. Satu keluarga besar dari sebuah Avanza berunding soal pembagian kursi seolah sedang menyusun strategi perang.

Setiap kali petugas memanggil nomor, semua kepala menoleh. Setiap ada meja kosong, semua mata memantau siapa yang berhak mengisinya. Saya bahkan sempat menangkap tatapan sekilas dari seorang ibu yang artinya kira-kira begini: “Cepat selesaikan makanmu, kami juga mau duduk.” Di Gudeg Sagan, konsep makan santai itu mitos belaka.

Mungkin ada sekitar 45 menit hidup saya habis di depan ruko itu. Yang menemani saya dan istri cuma bunyi panggilan nomor dan aroma gudeg yang menggoda dari dalam. Saat petugas akhirnya memanggil nomor saya, saya melangkah masuk seperti prajurit yang baru pulang dari medan perang.

Suapan pertama Gudeg Sagan yang melunasi semuanya

Saya dan istri memesan nasi gudeg dengan paha atas dan tambahan telur. Pelayan menyarankan krecek, dan saya mengangguk tanpa berpikir dua kali. Di tahap ini, saya sudah masuk mode “Keluarin semua, saya terlalu lapar untuk berpikir.”

Lalu piring itu datang.

Begini, Gudeg Sagan punya karakter gudeg basah. Kuah arehnya kental dan nyemek, tidak banjir sampai jadi bubur. Ya kecuali kamu memang memesan varian bubur yang baru bisa kamu nikmati lewat pukul dua siang. Warnanya juga tidak sepekat gudeg-gudeg legendaris lain yang cokelat gelap seperti hasil karamelisasi satu abad.

Suapan pertama masuk. Dan di situlah saya teringat lagi tentang rasa yang sudah lama tidak saya rasakan. Antrean 45 menit tadi bukan kesalahan. Itu investasi.

Rasa manisnya ada, tentu saja. Namanya juga gudeg Jogja. Tapi manisnya serba pas kalau untuk lidah saya yang lokal banget. 

Saya nggak tahu istilahnya, tapi manisnya nggak overlap sama gurihnya santan dan areh. Kreceknya menyumbang sedikit pedas yang pas sampai semuanya seimbang. Ayam kampungnya lembut luar biasa. Saya cukup mencongkelnya dengan sendok dan dagingnya lepas dari tulang tanpa perlawanan.

Saya makan dalam keheningan total. Bukan karena tidak ada bahan obrolan, tapi karena mulut saya sibuk. Lagian kalau mau ngobrol sama istri kok susah banget. Lha wong Gudeg Sagan seramai itu.

Kenapa Gudeg Sagan cocok untuk pembenci gudeg Jogja yang beberapa terlalu manis

Selama ini, gudeg Jogja mengidap satu stigma yang susah hilang: terlalu manis. Banyak wisatawan dari luar Jawa mencoba gudeg legendaris pertama mereka, lalu trauma seumur hidup. Saya sendiri, yang tumbuh bersama makanan gurih dan pedas, selalu was-was tiap ada yang mengajak makan gudeg.

Gudeg Sagan mematahkan stigma itu. Manisnya seimbang, gurihnya dapat porsi layak, dan pedas kreceknya menyelamatkan lidah yang tidak terbiasa manja. Pantas saja di antrean tadi saya mendengar aksen dari mana-mana: ada yang logatnya medok Melayu, ada yang khas timur Indonesia. Semua betah.

Lebih menarik lagi, warung ini juga cocok untuk warga lokal yang sebenarnya sudah muak dengan gudeg yang manisnya ndilalah. 

Ada kawan saya, orang asli Jogja yang mending makan menu lain ketimbang gudeg. Tapi, kalau Gudeg Sagan, dia oke saja.

Perhitungan rugi-untungnya tetap menguntungkan

Mari kita hitung secara matematis. Dosa yang berujung penderitaan 45 menit mengantre, 10 menit menunggu pesanan, plus tekanan batin dari tatapan ibu-ibu pengantre berikutnya. Total satu jam, lah.

Kenikmatan: 20 menit makan gudeg yang, saya berani bilang, terbaik perannya sebagai duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis.

Satu jam banding 20 menit. Secara hitungan waktu, rugi. Secara hitungan rasa, untung besar.

Jadi, apakah saya akan kembali ke Gudeg Sagan? Iya. Besok, kalau perlu. Cuma kali ini saya akan datang pukul 10 pagi, saat manusia-manusia lain, khususnya wisatawan, masih sibuk foto-foto di Malioboro.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Gudeg Sagan: Gudeg Jogja yang Ramah bagi Lidah Wisatawan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version