Ironisnya, meskipun Jember dikelilingi oleh wisata-wisata keren, kota ini belum memiliki identitas daerahnya sendiri. Argopuro itu sebagian masuk wilayah Jember, tetapi aksesnya lebih mudah lewat Situbondo. Ijen dan Raung itu sebagian masuk wilayah Jember, tapi akses yang lebih mudah justru dari Banyuwangi.
Pantai-pantai di selatan juga tidak terawat, harga tiketnya juga mahal, padahal fasilitasnya hanya kamar mandi rombeng yang pesing dan apek. Kalau dipikir-pikir, kok wisata di Jatim itu cuman ngomongin Bromo, Ijen, Bromo, Ijen, apa ndak bosan ya? Tapi tidak apa apa setidaknya, kalau tetep tidak peduli, bapak ibu pejabat bisalah mlipir-mlipir ke objek wisata keren di sekitar. Biar nanti Jember jadi wisata politik saja.
Biar jadi yang utama
Kalau Jember jadi ibu kota Jatim, tentu, pembangunan di Jember akan moncer. Bisa jadi, Tol Trans Jawa akan belok ke Jember. FYI, Jember itu satu-satunya kota besar di Jatim yang tidak dilewati tol, padahal kemacetan parah sering kali terjadi dari arah Lumajang menuju Jember.
Nah, menjadi ibu kota, berarti menjadi prioritas. Itu adalah sebuah jaminan bagi kami warga Jember untuk mendapatkan keadilan. Selain jalan tol, saya jadi ingat mirisnya kondisi bandara di Jember. Jadi sekalian nebeng, kalau jadi ibu kota ya pasti Bandara akan ramai, sehingga bisa jadi naik kelas. Jalan-jalan yang berlubang juga akan ditambal. Masak Ibu Kota Jatim, provinsi dengan PDRB gede jalannya penuh lubang? Malu, Bos.
Pandhalungan
Seperti mangkok, banyak suku yang telah bercampur di Kota Jember. Tidak heran, jika dialek dari orang-orang Jember berbeda dari daerah lain di Jatim. Dibilang Jawa tapi bukan, dibilang Madura juga bukan. Banyak kasus orang Jember yang tidak bisa berbahasa Madura, pun juga tidak bisa berbahasa Jawa Krama.
Kondisi semacam ini menurut saya justru memupuk toleransi yang sangat dibutuhkan bagi terbentuknya ibu kota baru. Orang Jawa dan Madura yang jadi suku dominan di Jatim jadi sama-sama tidak merasa asing.
Kesimpulannya, Jember itu layak diusulkan jadi kandidat ibu kota Jatim. Harapannya, pembangunan di Jatim tidak hanya terpusat di barat dan tengah saja. Kalau kata orang Papua, matahari itu terbit dari timur, harusnya pembangunan itu dari timur.
Dipecah lima daerah
Saya kok kepikiran menawarkan opsi lain. Kalau toh Jember tidak jadi ibu kota Jatim, usul desentralisasi daerah lebih masuk akal untuk dibahas.
Pulau Jawa beberapa tahun belakangan sedang berada pada status quo. Kalau daerah setingkat kabupaten tidak memiliki kepala daerah yang cakap, sudah dipastikan daerah itu akan tenggelam. Jujur, provinsi dengan lebih dari 35 kabupaten/kota tentu tidak bisa memberikan porsi yang sama kepada masing-masing daerah. Akhirnya yang terjadi, pembangunan ya di daerah itu-itu saja. Bromo, Ijen, Bromo, Ijen lagi. Kalau toh tidak mau dipecah menjadi provinsi baru, mungkin bisa menggunakan istilah kerasidenan untuk memberikan lapisan baru di bawah provinsi dan di atas kabupaten/kota. Kalau yang dipikirkan anggaran politik, kepala keresidenan ditunjuk juga tidak apa-apa.
Nah, itulah beberapa alasan Jember layak jadi ibu kota Jatim yang baru. Pembaca ada yang mau usul daerah lain yang layak jadi ibu kota Jatim yang baru?
Penulis: Ibbas Dimas Baskoro
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Bondowoso, Sebaik-baiknya Kandidat Ibu Kota Jawa Timur