Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Getirnya Memancing di Bekas Pengeboran Minyak, Kena Prank Ikan hingga Badai Mengerikan

Sylvanto Budi Utomo oleh Sylvanto Budi Utomo
26 Agustus 2020
A A
Getirnya Memancing di Bekas Pengeboran Minyak, Kena Prank Ikan hingga Badai Mengerikan

Getirnya Memancing di Bekas Pengeboran Minyak, Kena Prank Ikan hingga Badai Mengerikan

Share on FacebookShare on Twitter

Ikan simbah, ikan kerapu, sampai ikan buntut kuning saya baru tahu sejak beberapa tahun silam setelah ikut memancing bareng pakde saya. Ketika saya masih SD, selama 3 hari 2 malam saya diajak mancing di tengah laut. Di usia-usia rasa ingin tahu tinggi, saya tak tahu bahkan tak peduli soal badai. Saya iyakan saja ajakan itu. Lantas perahu mulai berlayar menjauh dari dermaga dan mendekat ke tengah laut. Jauh dipandang.

Hari pertama masih aman. Cuaca bersahabat persis lagu Kepompong. Cuaca terang. Senar pancing berkali-kali dijatuhkan ke dasar laut berasama umpan yang menggantung. Tarik-ulur persis main layangan. Hanya saja, bedanya kali ini tak memakai senar gelasan cap kobra.

Saya yang dulu masih SD, sering kali hanya melongo melihat-lihat saja tanpa memegang senar apalagi joran-alat pancing. Namun karena penasaran tingkat tinggi, sesekali saya coba memancing langsung. Meski bingung, tahu dari mana kalau ikan yang dipancing sudah terjebak di kail dan tinggal angkat.

Sebab, memancing di laut amat berbeda dengan memancing di kolam pemancingan atau empang. Di kolam pemancingan, melihat pelampung tenggelam langsung tarik. Sedangkan di laut, tak ada pelampung pancing. Jadi saya yang masih awam dan piyik ketika itu. Tak tahu soal tanda-tanda ikan terjebak di kail. Hampir semua ikan ada di dasar laut. Namun akhirnya saya tahu. Kalau sudah terasa ada yang narik, itu artinya ikan sudah terjebak di kail dan siap tarik.

Ilmu itu lantas saya terapkan. Kail dan senar perlahan saya turunkan ke dasar laut, dengan agak berharap bukan ikan gurame apalagi ikan betok yang terjebak di kail. Jika memang begitu, bisa dipastikan kedua ikan itu salah pergaulan sebab habitat airnya bukan di laut.

Kail dan senar terus-terusan terjulur ke dasar laut. Terseok-seok di ombak bawah laut. Hingga akhirnya dirasa cukup, saya tahan senar itu dengan tangan saya. Saya tahan dengan cekatan agar senar tak lagi menjulur ke dasar laut.

Mengingat ilmu tadi, kalau ada yang menarik-narik dari dasar laut, segera tarik senarnya. Akhirnya timbul kecurigaan saya. Dari senar yang saya tahan di tangan, terasa ada yang menarik-narik dari ujung kail. “Wah, iki! Lambe krapu iki neng kail,” benak saya. Sejurus kemudian senar yang menjulur ke dasar laut saya tarik dengan semangat Ujian Nasional. Sat-set-sat-set.

Sesekali pakde saya mengatakan, “Dapet, Van?”

Baca Juga:

Peh, Cucut, dan Larak: Menu Pecak Andalan di Warteg yang Enak tapi Bikin Pembeli Merasa Bersalah

Menggugat Ikan Bakar yang Digoreng Dulu: Kebohongan Penjual Ikan Bakar yang Sudah Dinormalisasi

Saya jawab saja dengan alakadarnya sambil menarik senar. Namun hati saya berbicara, “Mbuh. Pokoknya ilmu yang tadi, saya terapkan. Kalau terasa ada yang narik dari dasar laut, langsung tarik. Dapet enggak dapet belakangan. Yang penting ilmu tadi saya pakai.”

Semakin naik senar, semakin yakin. Senar basah sebab air laut, yang akhirnya tangan saya juga basah. Semakin menarik, harusnya ikan bisa dilihat sebab ikan makin naik ke kapal. Akan tetapi malah tak tampak. “Wah, iki. Zonk jilid satu ini,” benakku. Semakin ditarik ke atas, kail semakin naik ke dasar, semakin enteng pula bebannya.

Set! Kosong! Tak ada ikan yang terjerat di kail. Alamak! Prank ikan di dasar laut lebih tak mengenakkan dibanding prank YouTuber.

Sejurus kemudian seisi kapal ikut menyadari bahwa bisa jadi tarikan tadi adalah akibat dari gelombang dasar laut sehingga seolah-olah ada yang menarik. Dan yang kedua, tak lain tak bukan ikan dasar laut mengerjai saya.

Rasa penasaran memancing di tengah laut saya hilang. Alhasil saya melihat saja sekeliling. Tancapan-tancapan besi pengeboran minyak bumi menghujam ke dasar laut. Lokasi ini tampaknya sudah tak terpakai alias sudah berhenti beroperasi sebab semuanya hampir tak terurus. Pun tak ada kehidupan manusia di atas ruangan-ruangan pengeboran ini.

Hari kedua terang benderang. Namun anehnya, tiba-tiba cuaca mendung. Abu-abu. Lama-kelamaan gelap seakan-akan awan di atas ingin menimpa ke bawah. Aduhai, ketika itu, deredek bukan main. Tepat ketika itu saya sedang makan siang, saya tak nafsu lagi ingin melahap. Awan gelap mengerikan menyelimuti kami ketika kami berada di tengah laut.

Tak lama kemudian ombak besar mengayun-ayunkan kami di atas air. Disusul angin kencang dan menjatuhkan terpal penutup kapal. Braakk! Juru kemudi tetap tenang. Kapal kami diarahkan ke tiang pengoboran. Lantas kapal diikat dengan kuat agar tak hanyut ke mana-mana.

Byaaarrr!

Hujan deras tiba-tiba datang. Saya yang dulu masih piyik, nangis sejadi-jadinya. Mengerikan! Ombak besar membuat kapal naik turun. kapal hampir-hampir terbelah dua. Gelombak tinggi di depan mata. Kami terapung-apung di tengah laut dengan kapal yang ditambat di tiang bekas pengeboran minyak.

Kulihat sekeliling. Tak ada kapal. Hanya kami di tengah laut dengan cuaca begini. Benak saya berkali-kali menggambarkan bagaimana kalau saya mati di sini. Menakutkan.

Bayangkan, terkena badai di tengah laut, tak ada kapal atau pemancing lain selain kami. Sendirian. Awan gelap, hujan mengguyur, angin kencang, gelombang tinggi, ombak deras. Semua berlangsung setengah jam.

Setelah semua reda, alih-alih pulang, malah bersandar sejenak ke pulau dengan keadaan saya yang masih deredek, kepala saya yang masih tergambar kejadian badai tadi, dan mata yang sembab karena nangis ketakutan. Memancing di bekas pengeboran minyak jadi pengalaman yang getir di benak saya.

Sumber gambar: Wikimedia Commons.

BACA JUGA Juru Kuli: Pekerjaan yang Diremehkan tapi Perannya Amat Vital atau tulisan Sylvanto Budi Utomo lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 26 Agustus 2020 oleh

Tags: ikanmemancing
Sylvanto Budi Utomo

Sylvanto Budi Utomo

Sylvanto Budi Utomo atau biasa di panggil Ivan adalah seorang mahasiswa semester 2 jurusan ilmu komunikasi di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Makan Ikan Ribet Layak Ditenggelamkan

Orang yang Bilang ‘Makan Ikan Ribet’ Adalah Golongan Manusia yang Layak Ditenggelamkan!

3 Maret 2021
Mengenali Tipe-Tipe Orang Ketika Memancing dan Menebak Jalan Percintaan Mereka

Mengenali Tipe-Tipe Orang Ketika Memancing dan Menebak Jalan Percintaan Mereka

28 Oktober 2019
Water Gong di Klaten: Sungai Impian para Ikan terminal mojok.co

Water Gong di Klaten: Sungai Impian para Ikan

16 November 2021
ikan terdampar tanda tsunami mitos penjelasan ilmiah penyebab ikan terdampar mojok.co

Ikan Terdampar Pertanda Tsunami? Itu Mitos, Gini nih Penjelasan Ilmiahnya

14 Juli 2020
Peh, Cucut, dan Larak: Menu Pecak Andalan di Warteg yang Enak tapi Bikin Pembeli Merasa Bersalah

Peh, Cucut, dan Larak: Menu Pecak Andalan di Warteg yang Enak tapi Bikin Pembeli Merasa Bersalah

8 Januari 2026
Gagal Paham dengan Orang-orang yang Benci Hobi Mancing Mojok.co

Gagal Paham dengan Orang-orang yang Benci Hobi Mancing

4 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

27 Januari 2026
Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

31 Januari 2026
Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Solo Baru Sebelum Mangkrak seperti Sekarang Mojok.co

Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Sukoharjo sebelum Mangkrak seperti Sekarang

30 Januari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
Setelah Tahu Gaji HSE, Saya Langsung Mengubur Mimpi Saya Jadi Dosen. Peduli Setan pada Ilmu Pengetahuan, Dompet Tebal Adalah Kunci!

Setelah Tahu Gaji HSE, Saya Langsung Mengubur Mimpi Saya Jadi Dosen. Peduli Setan pada Ilmu Pengetahuan, Dompet Tebal Adalah Kunci!

28 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.