Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Gedebage dan Banjir, Pasangan yang Tak Terpisahkan

Robhi Jauhar oleh Robhi Jauhar
23 Desember 2022
A A
Musim Hujan Tiba, Pengguna Motor Matic Perlu Waspada! gedebage

Musim Hujan Tiba, Pengguna Motor Matic Perlu Waspada! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Dengan meminjam jargon terkenal dari Pidi Baiq dan mengubahnya sedikit, mungkin kita bisa bilang “Bandung, bukan cuma masalah geografis lebih jauh dari itu melibatkan banjir, yang bersamanya ketika hujan”. Salah satu banjir itu terletak di Gedebage, tepatnya di bagian Jalan Soekarno-Hatta dan sekitarnya.

Banjir Gedebage ini sudah cukup tersohor bagi orang-orang yang sering melewati jalan daerah tersebut. Sudah sejak lama pula banjir ini eksis. Dilansir dari Kompas, salah satu warga Gedebage mengatakan, banjir Gedebage sudah ada sejak ia mendirikan warung di sana pada 1988. Dan sampai saat saya SMP, banjir ini pun masih ada. Saat itu juga merupakan kali pertama saya berjumpa dengan banjir Gedebage.

Saya yang waktu itu bersekolah di SMPN 30 Bandung, sedangkan rumah berlokasikan di Panyileukan, jalur Soekarno-Hatta Gedebage menjadi rute wajib untuk dilewati. Angkot Cicadas-Cibiru-Panyileukan menjadi media untuk saya pulang-pergi ke sekolah. Suatu saat ketika saya perjalanan pulang itulah, kali pertama saya berjumpa dengan banjir Gedebage.

Pada saat itu, saya terheran kenapa bisa terjadi macet yang panjang sekali. Beberapa jam lamanya saya habiskan waktu di dalam angkot terjebak macetnya jalanan karena banjir Gedebage ini. Sudah tentunya, rasa kesal menjadi hal yang saya rasakan ketika terjebak di banjir ini. Lebih kesal daripada menunggu momen lampu hijau di perempatan jahanam, Samsat Kiaracondong.

Seperti halnya perempatan jahanam itu, banjir Gedebage pun tak kalah membuat jalanan jadi macet panjang. Yang jelas lebih panjang pula dari antrean motor yang membeli pertalite. Panjang macetnya itu disebabkan pemindahan kendaraan di lajur kiri ke lajur kanan. Karena di lajur kiri banjir lebih dalam, dibanding di lajur kanan. Hanya mobil sebangsa truk yang dibolehi untuk menggunakan lajur kiri.

Sebuah hiburan di sana ketika saya melihat anak-anak kecil betapa asyiknya bermain dengan gulungan ombak air banjir yang dihasilkan oleh truk-truk besar di lajur kiri. Walaupun airnya kotor dan keruh, mereka tidak tidak memedulikannya. Mereka bermain dan berenang dengan air banjir itu layaknya berada dalam wisata waterboom.

Itulah cerita saya pertama kali berjumpa dengan banjir yang melegenda bagi warga Bandung Timur. Setelahnya, ketika saya lagi dan lagi terjebak banjir Gedebage, saya mulai terbiasa dengan rasa kesal yang saya rasakan ketika terjebak dalam banjir itu. Demikian, pengalaman saya dengan Gedebage mengajarkan saya untuk menjadi lebih mindful. Hal itu saya terapkan seterusnya, sampai pada 2019 di mana perjumpaan terakhir saya dengan banjir Gedebage.

Saat itu, saya dan teman selepas malam mingguan layaknya anak muda metropolitan. Kali ini saya tidak naik angkot, melainkan nebeng kepada motor teman. Saya dan teman menunggu banjir mereda di pangkalan ojek jalan Rumah Sakit. Sekitaran jam 11 malam, kami berdiam diri sambil melamun, berpikir kapan surutnya banjir ini.

Baca Juga:

Kecamatan Kalitengah Adalah Daerah Paling Ikhlas di Lamongan: Kebanjiran Dua Bulan dan Masih Mau Menyambut Bupatinya

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

Waktu yang semakin mengarah ke tengah malam, membuat suhu udara menjadi dingin, sekaligus membuat air banjir ini terasa dingin juga. Dengan rokok Sampoerna dan segelas plastik panas berisi Good Day, kami berupaya menjaga kehangatan tubuh dan kewarasan jiwa kami.

Waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi, rokok dan Good Day yang kami miliki pun sudah habis. Tapi brengseknya, air banjir tak kunjung habis. Dengan pasrah, kami memutuskan untuk menerjang banjir ini dengan motor PCX andalan teman saya itu. Sialnya, banjir terlalu dalam, lubang knalpotnya menjadi terteguk air banjir. Alhasil motor menjadi mogok.

Kami dorong motor itu sampai ke jalan yang sudah surut banjir. Di saat kebingungan bagaimana menyalakan kembali motor, datanglah dengan tidak sengaja sesosok pahlawan: teman saya bertemu dengan temannya yang mengerti tentang mesin motor. Singkat cerita, motor pun berhasil menyala kembali. Dan kami pun pulang dengan senyuman di wajah.

Pengalaman saya dengan banjir Gedebage itu mungkin menjadi satu gambaran representatif tentang beragam orang yang pernah beberapa kali bergelut batin dan fisik melawan banjir Gedebage ini. Apalagi bagi yang rumahnya sekitaran Gedebage, mungkin bagi mereka fenomena banjir ini sudah menjadi “lagu lama yang diputar kembali”.

Pada akhirnya, banjir Gedebage memuat cerita pada setiap orang yang pernah melaluinya. Yang menjadikannya kisah klasik tentang Kota Bandung. Sampai saat tulisan ini dibuat pun, banjir Gedebage masih menjadi langganan ketika hujan deras mengguyur. Syukurnya, saya diberi kebaikan oleh Tuhan karena tidak (atau setidaknya belum) dipertemukan kembali dengan lautan Gedebage itu.

Dan semoga tak akan pernah lagi.

Penulis: Robhi Jauhar
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sejarah Gedebage, Daerah Pengangkutan Barang sejak Zaman Kolonial

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 Desember 2022 oleh

Tags: banjirgedebagekiaracondong
Robhi Jauhar

Robhi Jauhar

Seorang mahasiswa di salah satu kampus Islam di Bandung.

ArtikelTerkait

Kota Bandung yang Semakin Terasa Asing (Unsplash)

Kota Bandung yang Semakin Terasa Asing

15 Januari 2023
Alarm Merah untuk Bandungan: Bencana yang Mengintai di Balik Masifnya Pembangunan

Alarm Merah untuk Bandungan: Bencana yang Mengintai di Balik Masifnya Pembangunan

10 Januari 2023
4 Keresahan Selama Tinggal di Kelurahan Silaberanti Palembang tukang parkir

4 Keresahan yang Saya Rasakan Selama Tinggal di Kelurahan Silaberanti Palembang

27 Februari 2024
motor honda astrea 800 Pol espargaro Honda scoopy Honda CT125 Honda CRF honda beat street motor matik MOJOK.CO honda c70

Honda CT125, Motor yang Cocok untuk para Kurir

9 September 2020
Ilustrasi Hadapi Banjir, Warga Pantura Paling Kuat Nikmati Kesengsaraan (Unsplash)

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

14 Januari 2026
Banjir di Semarang: Begitu Sendu, Begitu Pilu

Banjir di Semarang: Begitu Sendu, Begitu Pilu

8 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alun-Alun Pekalongan: Tempat Terbaik untuk Belanja Baju Lebaran, tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku

Pekalongan Masuk Jawa Tengah, tapi Secara Budaya Lebih Dekat dengan Atlantis

28 Februari 2026
Dosa Penjual Tongseng Kambing yang Merusak Rasa dan Mengecewakan Pembeli Mojok.co

Dosa Penjual Tongseng Kambing yang Merusak Rasa dan Mengecewakan Pembeli

28 Februari 2026
Yamaha NMAX, Motor yang Tidak Ditakdirkan untuk Dimodifikasi Mojok.co

Yamaha NMAX, Motor Gagah tapi Perawatannya Tak Sama seperti Matic Biasa Lainnya

25 Februari 2026
Stasiun Indro Bikin Gresik Jadi Daerah Industri yang Terlihat Menyedihkan Mojok.co

Stasiun Indro yang Menyedihkan Membuat Kota Industri Gresik Jadi Terlihat Payah

27 Februari 2026
Trio Senator AS Roma: Mancini, Pellegrini, Cristante

Trio Senator AS Roma

23 Februari 2026
6 Dosa Penjual Jus Buah- Ancam Kesehatan Pembeli demi Cuan (Unsplash)

6 Dosa Penjual Jus Buah yang Sebetulnya Menipu dan Merugikan Kesehatan para Pembeli Semata demi Cuan

26 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.