Apakah penderita buta warna parsial tidak boleh punya masa depan?
Waktu SMP, saya ini golongan anak warnet sejati. Buat sebagian orang tua, warnet itu tempat haram, sarangnya bocil-bocil bandel. Ya wajar sih, mentok-mentok anak seumuranku ke sana buat mabar atau naikin pangkat Point Blank, Lost Saga, atau Crossfire. Pas billing sisa lima menit, baru deh pada panik buka Facebook.
Tapi saya beda. Di sisa waktu billing yang mepet itu, saya malah asyik ngulik bikin animasi atau objek 3D pakai aplikasi Blender. Berbekal hobi nyeleneh di tongkrongan inilah, saya mantap mau masuk SMK dan ngambil jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV).
Waktu pendaftaran dibuka, saya urus semua administrasinya, sampai tiba di tahap cek kesehatan. Nah, di sinilah plot twist sinetron azab dimulai. Dokter memvonis saya: buta warna parsial.
“Kamu mau masuk jurusan apa, Dek?” tanya dokternya waktu itu. Dengan pede dan semangat 45, saya jawab, “Mau DKV, Bu. Kebetulan saya suka menggambar.” Saya tidak bisa mendeskripsikan raut wajahnya saat itu, dan dokter itu pun ngomong. “Tapi… kamu nggak bisa masuk jurusan sana, karena kamu buta warna.”
Jeder! Rasanya kayak lagi asyik-asyiknya menang doorprize sepeda 17 Agustusan, tapi tiba-tiba panitianya bilang kuponnya typo. Lemes, nge-drop, nggak ada tenaga.
Curhat ke orang tua, malah kena ulti
Tragisnya, pas saya curhat ke orang tua, respons mereka sungguh template bapak-ibu se-Nusantara: “Makanya, jangan main HP muluuu!”
Bukannya dipeluk atau divalidasi kesedihannya, eh malah kena omel. Padahal, guys, setelah saya googling berbekal kuota sisaan, buta warna itu masalah genetik alias keturunan! Nggak ada hubungannya sama radiasi layar HP.
Saking frustrasinya nggak dipercaya, saya sampai ngetes orang tua saya pakai gambar tes buta warna dari internet. Sialnya, mereka bisa jawab dengan lancar. Saya sempat mau pindah nuduh kakek saya, tapi ya kali… beliau udah 70 tahun, matanya udah rabun. Dites buta warna ya pasti disangka lagi lihat pola batik.
Akhirnya, dengan langkah gontai saya terpaksa mengubur mimpi itu dalam-dalam dan masuk SMA biasa.
Tiga tahun berlalu. Pas lulus SMA, saya mikir, “Yaudahlah, kuliah ngikut maunya orang tua aja.” Waktu itu, mereka pengin saya masuk jurusan kesehatan. Karena saya kurang literasi terhadap buta warna parsial, saya masih punya ekspektasi, “Ah, paling kalau jadi nakes nggak apa-apa kali ya buta warna parsial.”
Hasilnya? Ketebak lah ya. Sama aja. Bedanya, kali ini nggak ada obrolan basa-basi sama dokter. Pas pengumuman, saya langsung ketolak di tahap administrasi gara-gara gagal tes kesehatan lagi. Dua kali, guys. Dua kali saya dijegal sama spektrum warna.
Apakah penderita buta warna parsial tidak boleh punya masa depan?
Jujur, rentetan kegagalan itu bikin saya bener-bener kena mental. Tapi belakangan saya baru sadar, ternyata saya nggak sendirian. Kemarin saya nonton videonya Ferry Irwandi, dan ternyata beliau punya keresahan yang sama. Bayangkan, cita-cita seumur hidupnya cuma satu: pengin jadi dokter. Beliau sampai tekun belajar ilmu kedokteran dari nol, tapi hasilnya?
Zonk, gagal total murni karena buta warna. Belum lagi stand-up komedian kayak Coki Pardede yang ternyata juga mengalami hal serupa. Sepertinya kami, para penderita buta warna parsial ini, memang ditakdirkan punya nasib yang kompakan ngenesnya.
Sekarang, saya sudah banting setir. Saya sudah ikhlas merajut asa menjadi calon guru sejarah. Pusing-pusing sedikit mikirin bikin modul ajar dan urusan program PLP nggak apa-apalah. Tapi, kadang pikiran overthinking ala jam dua pagi suka datang menyerang: “Nanti pas mau ngelamar jadi guru PNS atau PPPK, jangan-jangan ada syarat surat keterangan bebas buta warna lagi?”
Kalau sampai iya, ya sudahlah. Kayaknya saya lamar kerja di Indomaret aja. Apa pun pekerjaannya yang penting halal dan bisa buat beli kopi saset. Tapi tunggu dulu… jangan-jangan mau jadi kasir yang kerjanya nanyain sekalian beli pulsa atau nggak juga harus lolos tes buta warna?
Kalau begini terus ceritanya, mending saya jaga warung kelontong aja di rumah. Mengubur dalam-dalam semua cita-cita keren masa kecil. Lagian, apalah arti sebuah cita-cita di negeri ini, kalau dari awal garis start-nya saja sudah diblokir sama syarat administrasi yang mendiskriminasi?
Penulis: Zulpan Maulana
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja: Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
