Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Gara-gara buta warna parsial, saya tidak bisa jadi apa-apa karena syarat administrasi yang mendiskriminasi

Zulpan Maulana oleh Zulpan Maulana
9 Agustus 2026
A A
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega buta warna parsial

Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Apakah penderita buta warna parsial tidak boleh punya masa depan?

Waktu SMP, saya ini golongan anak warnet sejati. Buat sebagian orang tua, warnet itu tempat haram, sarangnya bocil-bocil bandel. Ya wajar sih, mentok-mentok anak seumuranku ke sana buat mabar atau naikin pangkat Point Blank, Lost Saga, atau Crossfire. Pas billing sisa lima menit, baru deh pada panik buka Facebook.

ADVERTISEMENT

Tapi saya beda. Di sisa waktu billing yang mepet itu, saya malah asyik ngulik bikin animasi atau objek 3D pakai aplikasi Blender. Berbekal hobi nyeleneh di tongkrongan inilah, saya mantap mau masuk SMK dan ngambil jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV).

Waktu pendaftaran dibuka, saya urus semua administrasinya, sampai tiba di tahap cek kesehatan. Nah, di sinilah plot twist sinetron azab dimulai. Dokter memvonis saya: buta warna parsial.

“Kamu mau masuk jurusan apa, Dek?” tanya dokternya waktu itu. Dengan pede dan semangat 45, saya jawab, “Mau DKV, Bu. Kebetulan saya suka menggambar.” Saya tidak bisa mendeskripsikan raut wajahnya saat itu, dan dokter itu pun ngomong. “Tapi… kamu nggak bisa masuk jurusan sana, karena kamu buta warna.”

Jeder! Rasanya kayak lagi asyik-asyiknya menang doorprize sepeda 17 Agustusan, tapi tiba-tiba panitianya bilang kuponnya typo. Lemes, nge-drop, nggak ada tenaga.

Curhat ke orang tua, malah kena ulti

Tragisnya, pas saya curhat ke orang tua, respons mereka sungguh template bapak-ibu se-Nusantara: “Makanya, jangan main HP muluuu!”

Bukannya dipeluk atau divalidasi kesedihannya, eh malah kena omel. Padahal, guys, setelah saya googling berbekal kuota sisaan, buta warna itu masalah genetik alias keturunan! Nggak ada hubungannya sama radiasi layar HP.

Baca Juga:

Cita-cita Adik Saya Mati di Tangan Tes Ishihara: Sebuah Vonis Konyol dalam Dunia Pendidikan Kita

Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja: Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega

Saking frustrasinya nggak dipercaya, saya sampai ngetes orang tua saya pakai gambar tes buta warna dari internet. Sialnya, mereka bisa jawab dengan lancar. Saya sempat mau pindah nuduh kakek saya, tapi ya kali… beliau udah 70 tahun, matanya udah rabun. Dites buta warna ya pasti disangka lagi lihat pola batik.

Akhirnya, dengan langkah gontai saya terpaksa mengubur mimpi itu dalam-dalam dan masuk SMA biasa.

Tiga tahun berlalu. Pas lulus SMA, saya mikir, “Yaudahlah, kuliah ngikut maunya orang tua aja.” Waktu itu, mereka pengin saya masuk jurusan kesehatan. Karena saya kurang literasi terhadap buta warna parsial, saya masih punya ekspektasi, “Ah, paling kalau jadi nakes nggak apa-apa kali ya buta warna parsial.”

Hasilnya? Ketebak lah ya. Sama aja. Bedanya, kali ini nggak ada obrolan basa-basi sama dokter. Pas pengumuman, saya langsung ketolak di tahap administrasi gara-gara gagal tes kesehatan lagi. Dua kali, guys. Dua kali saya dijegal sama spektrum warna.

Apakah penderita buta warna parsial tidak boleh punya masa depan?

Jujur, rentetan kegagalan itu bikin saya bener-bener kena mental. Tapi belakangan saya baru sadar, ternyata saya nggak sendirian. Kemarin saya nonton videonya Ferry Irwandi, dan ternyata beliau punya keresahan yang sama. Bayangkan, cita-cita seumur hidupnya cuma satu: pengin jadi dokter. Beliau sampai tekun belajar ilmu kedokteran dari nol, tapi hasilnya?

Zonk, gagal total murni karena buta warna. Belum lagi stand-up komedian kayak Coki Pardede yang ternyata juga mengalami hal serupa. Sepertinya kami, para penderita buta warna parsial ini, memang ditakdirkan punya nasib yang kompakan ngenesnya.

Sekarang, saya sudah banting setir. Saya sudah ikhlas merajut asa menjadi calon guru sejarah. Pusing-pusing sedikit mikirin bikin modul ajar dan urusan program PLP nggak apa-apalah. Tapi, kadang pikiran overthinking ala jam dua pagi suka datang menyerang: “Nanti pas mau ngelamar jadi guru PNS atau PPPK, jangan-jangan ada syarat surat keterangan bebas buta warna lagi?”

Kalau sampai iya, ya sudahlah. Kayaknya saya lamar kerja di Indomaret aja. Apa pun pekerjaannya yang penting halal dan bisa buat beli kopi saset. Tapi tunggu dulu… jangan-jangan mau jadi kasir yang kerjanya nanyain sekalian beli pulsa atau nggak juga harus lolos tes buta warna?

Kalau begini terus ceritanya, mending saya jaga warung kelontong aja di rumah. Mengubur dalam-dalam semua cita-cita keren masa kecil. Lagian, apalah arti sebuah cita-cita di negeri ini, kalau dari awal garis start-nya saja sudah diblokir sama syarat administrasi yang mendiskriminasi?

Penulis: Zulpan Maulana
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja: Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Agustus 2026 oleh

Tags: buta warnabuta warna parsialcara mengobati buta warnapenyebab buta warna
Zulpan Maulana

Zulpan Maulana

Mahasiswa semester 7 Universitas Siliwangi. Tertarik akan fenomena-fenomena Sejarah dan senang membagikan pengalaman hidup di warung kopi bersama teman-teman.

ArtikelTerkait

stereotipe orang buta warna pengidap buta warna mojok.co

4 Klarifikasi dari Pengidap Buta Warna buat Para Pem-bully

7 September 2020
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega buta warna parsial

Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja: Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega

14 Agustus 2024
Hal-hal yang Harus Dilakukan Ketika Tersadar bahwa Kamu Buta Warna terminal mojok.co

Hal-hal yang Harus Dilakukan Ketika Tersadar bahwa Kamu Buta Warna

29 Desember 2020
GoTo Menjawab Keresahan para Penyandang Buta Warna dengan Meluncurkan Fitur Terbaru di Aplikasi Gojek dan Tokopedia 

GoTo Menjawab Keresahan para Penyandang Buta Warna dengan Meluncurkan Fitur Terbaru di Aplikasi Gojek dan Tokopedia 

2 Desember 2023
Cita-cita Adik Saya Mati di Tangan Tes Ishihara: Sebuah Vonis Konyol dalam Dunia Pendidikan Kita

Cita-cita Adik Saya Mati di Tangan Tes Ishihara: Sebuah Vonis Konyol dalam Dunia Pendidikan Kita

6 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kartu kredit, contoh terbaik bahwa dunia hanya ramah sama orang kaya

Kartu kredit, contoh terbaik bahwa dunia hanya ramah sama orang kaya

3 Agustus 2026
Keliling naik motor malam hari, hiburan murah bagi kita yang dihajar hidup dari kanan-kiri

Keliling naik motor malam hari, hiburan murah bagi kita yang dihajar hidup dari kanan-kiri

8 Agustus 2026
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega buta warna parsial

Gara-gara buta warna parsial, saya tidak bisa jadi apa-apa karena syarat administrasi yang mendiskriminasi

9 Agustus 2026
Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

4 Agustus 2026
Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua Mojok.co

Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua

7 Agustus 2026
Pengalaman cabut gigi gratis dengan dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

Pengalaman cabut gigi gratis oleh dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

4 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.