Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Ganjil Genap Jakarta Sudah Nggak Efektif, Malah Makin Macet

Muhammad Arifuddin Tanjung oleh Muhammad Arifuddin Tanjung
11 Agustus 2023
A A
Ganjil Genap Jakarta Sudah Nggak Efektif, Malah Makin Macet

Ganjil Genap Jakarta Sudah Nggak Efektif, Malah Makin Macet (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Meski sekarang ada kebijakan Ganjil Genap Jakarta, jalanan ibu kota tetep aja macet, malah makin parah!

Semua orang tentu sudah tahu kalau Jakarta adalah kota metropolitan dengan segudang permasalahan. Salah satu masalahnya, yang menurut saya termasuk masalah utama yang harus segera dituntaskan, adalah kemacetan yang terjadi di mana-mana saat jam berangkat dan pulang kerja. Di jam-jam tersebut jalanan seolah menjadi lautan kendaraan yang dipenuhi suara bising mesin, klakson, dan asap knalpot. Isinya tentu saja para pekerja yang tahan banting menghadapi kemacetan berjam-jam lamanya.

Lantas, apa upaya pihak berwenang untuk mengatasi kemacetan tersebut? Untuk merespons masalah yang tak kunjung usai itu, ada beberapa kebijakan yang dibuat pemerintah daerah, salah satunya adalah sistem Ganjil Genap Jakarta.

Bagi yang belum tahu, cara kerja dari sistem Ganjil Genap Jakarta ini adalah plat nomor kendaraan. Jika angka terakhir pada plat kendaraan adalah angka ganjil, kendaraan tersebut hanya boleh berada di jalanan saat tanggal ganjil. Sebaliknya, jika angka terakhir pada plat kendaraan adalah angka genap, kendaraan tersebutlah yang boleh melaju di jalanan saat tanggal genap.

Lantas, kalau ada kendaraan berplat nomor ganjil yang melintasi jalanan di tanggal genap gimana? Ya hal tersebut adalah pelanggaran lalu lintas. Pengendara akan mendapat surat cinta dari Polantas alias surat tilang.

Fyi, nggak semua jalan menerapkan sistem Ganjil Genap Jakarta ini. Kebijakan ini hanya diterapkan di jalan-jalan tertentu yang biasanya menjadi sumber kemacetan saja. Selain itu, kebijakan ini juga hanya berlaku pada mobil.

Mulanya saya yakin sistem Ganjil Genap Jakarta dapat mengurangi volume kendaraan di jalan. Akan tetapi, saya sendiri merasakan bahwa kebijakan ini lama-lama sudah nggak efektif lagi. Saat ini, kemacetan di Jakarta malah makin parah. Setidaknya ada tiga alasan mengapa kebijakan ini sudah tak lagi efektif.

Banyak orang yang memiliki mobil lebih dari satu

Saat ini, rata-rata orang yang memiliki mobil adalah orang-orang dari kalangan menengah ke atas alias orang kaya. Masyarakat golongan ini biasanya memiliki mobil lebih dari satu. Mobil pertama platnya ganjil, sementara mobil lainnya berplat genap.

Baca Juga:

4 Kebohongan SCBD Jakarta yang Telanjur Kita Terima Begitu Saja

Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

Nah, kalau sudah begini, pemilik mobil bisa mengendarai mobilnya setiap hari di jalanan Jakarta tanpa perlu khawatir kena tilang hanya karena platnya nggak sesuai dengan aturan Ganjil Genap hari itu. Saat tanggal ganjil, dia akan membawa mobil berplat nomor ganjil, begitu juga sebaliknya. Menurut saya, kalau fenomena ini dibiarkan terus-terusan tanpa ada pembatasan jumlah kepemilikan atau pembelian kendaraan (dalam kasus ini: mobil), kemacetan di Jakarta bakal makin tak terbendung.

Banyak yang mengakali sistem Ganjil Genap Jakarta dengan memakai plat kendaraan palsu

Bukan orang Indonesia namanya kalau nggak banyak akalnya. Kebijakan Ganjil Genap Jakarta ini membuat sebagian orang berpikir kreatif dengan menggunakan plat nomor kendaraan palsu. Mereka akan melakukan hal ini biar nggak ribet di jalan, jadi satu mobil punya dua plat nomor yang berbeda. Plat nomor aslinya mungkin ganjil, tapi dia menggunakan plat palsu bernomor genap agar bisa lewat saat tanggal genap, atau sebaliknya.

Kasus seperti ini sudah banyak terjadi dan beberapa di antaranya terciduk pihak Polantas. Modusnya adalah menimpa plat nomor asli dengan plat nomor palsu. Saat ada razia ganjil genap, pastinya akan gampang ketahuan karena plat yang dipakai nggak sesuai dengan yang tertera di STNK.

Belum ada kebijakan konkret terkait pembatasan jumlah kendaraan

Alasan ketiga ini berhubungan dengan alasan pertama. Jika belum ada kebijakan mengenai pembatasan jumlah kepemilikan atau pembelian kendaraan pribadi, jumlah kendaraan bakal terus bertambah dan menyebabkan kemacetan yang lebih parah. Bukan tak mungkin penyelesaiannya bakal tambah ruwet.

Setahu saya, pemerintah sudah memiliki wacana terkait pembatasan jumlah kepemilikan kendaraan. Tapi, ya baru wacana, belum ada langkah konkretnya. Buktinya di jalanan saya melihat makin banyak kendaraan baru, baik sepeda motor maupun mobil, yang sudah berplat putih dan masih berusia sekitar 2-3 bulan.

Intinya, sekalipun masyarakat mematuhi aturan Ganjil Genap Jakarta, jika mereka punya uang dan bisa membeli mobil baru tanpa pembatasan jumlah maksimal kepemilikan kendaraan, sudah jelas masalah kemacetan nggak akan selesai.

Begitulah alasan-alasan yang membuat kebijakan Ganjil Genap Jakarta menjadi nggak efektif lagi. Tiga alasan ini pun didukung dengan makin bertambahnya jumlah pengguna sepeda motor di jalanan. Hal ini dikarenakan harga sepeda motor yang murah serta terjangkau oleh sebagian besar masyarakat. Selain itu, perawatannya pun mudah dan nggak mengeluarkan banyak biaya. Jadi, sekalipun sudah ada kebijakan Ganjil Genap ini, sepeda motor tetap meramaikan jalanan Jakarta. Makin pol-pola dah macetnya!

Sudah saatnya pemerintah mengambil langkah tegas untuk mengatasi kemacetan di ibu kota. Tentunya masyarakat juga wajib ikut andil membantu pemerintah menyelesaikan permasalahan ini. Hentikan deh ngakal-ngakalin kebijakan yang dicetuskan pemerintah. Sudah saatnya kita mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan mencoba beralih ke transportasi umum. Biar jalanan nggak tambah macet dan polusi udara di Jakarta nggak tambah parah. Sumpek kan lihatnya?

Penulis: Muhammad Arifuddin Tanjung
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Mau ke Jakarta tapi Nggak Tahu Apa-apa tentang Ganjil Genap Jakarta? Tenang, Saya Beri Panduan Lengkapnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2023 oleh

Tags: ganjil genap jakartaJakartamacetplat nomor
Muhammad Arifuddin Tanjung

Muhammad Arifuddin Tanjung

Seorang sosialis yang percaya bahwa kemanusiaan hanya bisa tegak jika kita berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Pemula yang haus akan ilmu.

ArtikelTerkait

Buang Ekspektasi Jogja Kota Sejuk dan Asri. Cuacanya Lebih Panas daripada Surabaya dan Jakarta!

Buang Ekspektasi Jogja Kota Sejuk dan Asri. Cuacanya Lebih Panas daripada Surabaya dan Jakarta!

27 Februari 2024
Tidak Kerja di Jakarta Bikin Saya Bersyukur sekaligus Menaruh Hormat pada Mereka yang Mengadu Nasib di Ibu Kota

Di Jakarta, Semua Orang Wajib Jadi Pejuang: Jika Tak Kuat jadi Pejuang Commuter, Mesti Siap Jadi Pejuang Loker

17 Maret 2025
Surat Cinta untuk Walikota: Pak, Malang Macet, Jangan Urus MiChat Saja!

Surat Cinta untuk Wali Kota: Pak, Malang Macet, Jangan Urus MiChat Saja!

2 April 2022
Kenapa Sate Klathak di Jakarta Nggak Bisa Menyaingi Bantul? (Agung P/Mojok)

Kenapa Sate Klathak di Jakarta Nggak Bisa Menyaingi Bantul?

6 Desember 2024
VOC Pernah Memakai Senjata Biologis di Jakarta, dan Senjata Tersebut Adalah Tahi!

VOC Pernah Memakai Senjata Biologis di Jakarta, dan Senjata Tersebut Adalah Tahi!

26 Februari 2024
Saking Ruwetnya, Kemacetan Simpang Pasar Parung Bogor Nggak akan Terurai sampai Kiamat Mojok.co

Saking Ruwetnya, Kemacetan Simpang Pasar Parung Bogor Nggak akan Terurai sampai Kiamat

23 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Kebohongan SCBD Jakarta yang Telanjur Kita Terima Begitu Saja Mojok.co

4 Kebohongan SCBD Jakarta yang Telanjur Kita Terima Begitu Saja

8 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja Mojok.co

8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja

4 Februari 2026
Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat
  • Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!
  • Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata
  • Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 
  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.