Sepertinya lebih banyak orang yang terdiam lama di hadapan freezer nugget ketimbang kulkas minuman Indomaret, deh.
Banyak orang masih yakin bahwa titik paling rawan salah pilih di Indomaret adalah kulkas minuman. Deretan botol warna-warni, janji kesegaran, dan harga yang melonjak tanpa aba-aba memang cukup untuk bikin seseorang berdiri lama sambil garuk kepala. Tapi keyakinan itu biasanya lahir dari pengalaman hidup yang belum terlalu panjang.
Begitu seseorang cukup lama menjadi orang dewasa yang punya jadwal padat, tenaga terbatas, dan kebutuhan makan yang harus dipikirkan lebih dari sekali, ia akan sadar bahwa freezer nugget jauh lebih membingungkan daripada kulkas minuman. Bukan karena tampilannya, tapi karena beban keputusan yang menyertainya.
Nugget bukan cuma soal rasa, tapi juga rencana hidup skala kecil
Di depan kulkas minuman Indomaret, kebingungan kita bersifat sesaat. Haus, lalu memilih. Mau minuman kemasan manis, segar, atau pura-pura sehat. Salah pilih pun dampaknya berhenti di tenggorokan.
Akan tetapi nugget berbeda. Memilih nugget berarti memilih pola makan beberapa hari ke depan. Ini mau jadi lauk utama atau cadangan darurat? Mau dimakan sendiri atau berbagi dengan penghuni rumah lain? Sekali salah ambil, konsekuensinya tidak bisa ditarik kembali, kecuali dengan gorengan kedua yang disertai rasa menyesal.
Nugget memaksa kita berpikir melampaui momen sekarang, sesuatu yang jarang diminta oleh minuman kemasan.
Variasi nugget terlalu kompleks untuk makanan yang dijual praktis
Nugget sering dipromosikan sebagai solusi hidup cepat, mudah, dan tidak ribet. Namun begitu berdiri di depan kulkasnya, kita justru disambut pilihan yang terasa berlebihan. Nugget klasik, chicken stick, karaage, spicy wings, hingga nugget bentuk dinosaurus yang entah kenapa tetap dipajang serius di kulkas Indomaret.
Di sinilah kepraktisan berubah jadi dilema. Orang dewasa mulai bertanya hal-hal kecil tapi mengganggu: ini cocok dimakan dengan nasi atau tidak, ini pedasnya ramah atau menyiksa, ini pantas dibeli di umur segini atau sebaiknya tidak.
Minuman kemasan tidak pernah menuntut refleksi sejauh itu. Nugget, dengan anehnya, iya.
Harganya membuat orang dewasa berpikir dua kali
Harga minuman mahal biasanya masih bisa ditoleransi dengan kalimat, “Sekali-sekali.” Nugget tidak memberi kemewahan pembenaran semudah itu. Begitu melihat harga yang menyentuh puluhan ribu, otak langsung bekerja, membandingkan dengan daging ayam segar, menghitung porsi, menimbang waktu dan tenaga.
Masalahnya, orang dewasa jarang benar-benar punya waktu untuk mengolah ayam mentah. Pulang kerja sudah lelah, energi tersisa hanya cukup untuk menyalakan kompor dan menggoreng. Maka nugget berdiri di tengah-tengah dilema: lebih mahal, tapi lebih realistis.
Kulkas minuman di Indomaret tidak pernah sejauh ini menguji konsistensi prinsip hidup kita.
Baca juga: Urutan Nugget di Indomaret Dilihat dari Komposisi Dagingnya, Mana yang Paling Berdaging?
Berpotensi menyebabkan penyesalan lebih lama
Minuman jarang meninggalkan penyesalan berkepanjangan. Paling-paling rasanya tidak sesuai ekspektasi. Tapi nugget yang sudah dibawa pulang dan digoreng, selalu ada kemungkinan muncul pikiran, “Tadi harusnya ambil yang lain.”
Penyesalan ini bisa muncul besok pagi, atau lusa saat stok nugget masih ada tapi selera sudah berubah. Nugget mengajarkan satu pelajaran kecil tentang hidup bahwa pilihan yang tampak benar hari ini belum tentu terasa tepat besok.
Pada akhirnya, berdiri di depan freezer nugget Indomaret bukan cuma soal memilih makanan beku, tapi juga latihan kecil menjadi orang dewasa. Di hadapannya kita mempertimbangkan waktu, tenaga, uang, dan keinginan, lalu menerima bahwa keputusan kita tidak akan pernah sepenuhnya memuaskan.
Jadi, kalau ada orang yang tampak lama menatap freezer nugget di Indomaret, jangan buru-buru menganggapnya bingung. Bisa jadi ia hanya sedang menimbang hidupnya dalam bentuk paling sederhana: makan malam hari ini.
Penulis: Wahyu Tri Utami
Editor: Intan Ekapratiwi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















