Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Coba Kalau Dibalik Pala Kau, Fokus pada Kasus Kekerasan Seksual, Bukan yang Lain!

Witianatalatas oleh Witianatalatas
10 Februari 2023
A A
Stop Bilang Tapi kepada Penyintas Kasus Pelecehan dan Kekerasan Seksual, Biarkan Mereka Bersuara! MOJOK.CO

Stop Bilang Tapi kepada Penyintas Kasus Pelecehan dan Kekerasan Seksual, Biarkan Mereka Bersuara! MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Jika ada berita tentang kasus kekerasan seksual dengan korban perempuan, tak jarang ditemui komentar yang meresahkan, yang bernada victim blaming. Komentar-komentar seperti salah sendiri pakaiannya terbuka, salah sendiri jalan sendirian di tempat sepi pula, dan salah sendiri-salah sendiri lainnya masih mudah ditemui.

Meski ya, untungnya makin ke sini makin banyak orang yang mau menyelami akar masalahnya, nggak sekadar menyalahkan korban. Kuncinya mau belajar paham, nggak pekok.

Tapi, lain halnya pada kasus kekerasan seksual dengan korban laki-laki, komentar yang meresahkan biasanya bernada victim shaming. Laki-laki dianggap tidak sewajarnya menjadi korban kekerasan seksual. Mana mungkin laki-laki yang dicitrakan kuat dan kokoh bisa menjadi korban? Dibilangnya masa sih nggak bisa melawan, dibilangnya pasti laki-laki itu menikmati, dan nyinyiran lainnya yang membuat laki-laki malu mengakui telah menjadi korban.

Ini membuat korban laki-laki yakin nggak akan ada yang membela seperti pada korban perempuan. Yang begini seharusnya diluruskan, bahwa korban kekerasan seksual nggak terbatas pada gender tertentu.

Masalahnya ada aja orang-orang yang justru mengaburkan persoalan utamanya. Itu lho orang-orang yang setiap ada kasus kekerasan seksual dengan korban laki-laki muncul di permukaan justru sibuk berkomentar “coba kalau dibalik (korbannya perempuan).” Selain nggak nyambung dengan masalahnya, juga nggak kasih solusi apa-apa. Topik yang diserang berbeda. Berkomentar seperti itu terlihat lebih mirip mencari-cari perbandingan gender mana yang lebih baik atau lebih buruk di atas gender satunya. Lucunya, komentar begini kebanyakan diketik oleh sesama laki-laki dibandingkan perempuan.

Yang buat kasus kekerasan seksual terhadap laki-laki itu responnya belum seserius kasus yang sama dengan korban perempuan ya orang-orang yang malah sibuk membandingkan gender. Ini bukan kompetisi. Setiap ada kasus yang muncul harusnya menjadi bahan edukasi. Penuhi kolom komentar dengan opini yang memvalidasi bahwa saat laki-laki menjadi korban berhak untuk dibela juga sama dengan perempuan. Penuhi kolom komentar dengan koar-koar bahwa ini isu yang penting juga. Bukan koar-koar betapa bencinya standar ganda, tapi malah melanggengkannya. 

Sadar nggak sih komentar semacam ini juga cenderung misoginis? Fokusnya mengolok gender lain, dalam hal ini perempuan. Mau siapa pun yang bersuara jika dirasa benar, silakan bela. Ibarat sudah kesal dengan perempuan akhirnya salah fokusnya. Alih-alih membuat isu ini menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan banyak orang agar kejadian yang sama nggak terulang, jadi dipenuhi prasangka perempuan selalu dinomorsatukan, sedangkan laki-laki nggak akan pernah.

Hei laki-laki yang merasa diperlakukan nggak adil, ini panggung kalian saat ada kaummu yang menjadi korban kekerasan yang sedang kita lawan bersama. Bukannya mengeluarkan ketikan “dasar perempuan” dengan tambahan emoji kopi di media sosial. Salah jurusan kalau malah sibuk menyerang perempuan. Bukan itu yang menjadi golnya.

Baca Juga:

Kekerasan di Pondok Pesantren Ditutupi Lagi, Sudah Saatnya Feodalisme di Pesantren Dibasmi, Sudah Saatnya Santri Kritis!

7 Rekomendasi Media yang Memuat Tulisan Opini Mahasiswa

Mungkin di antara yang berkomentar demikian ada laki-laki yang pernah berada di posisi menjadi korban, tapi semua orang diam. Respon yang didapatkan dari orang terdekatnya nggak serupa saat hal yang sama menimpa korban perempuan. Akhirnya, muncul rasa apatis. Memang ada yang salah di sana, ada ketidaktahuan dari orang-orang yang responsnya yang nggak diharapkan itu. Dibanding menyalahkan dengan bilang coba korbannya dibalik, apakah nggak lebih bermanfaat menyuarakan pesan bahwa korban kekerasan baik perempuan maupun laki-laki berhak mendapatkan pembelaan yang sama.

Catat ini, sibuk mencari pembenaran sebagai laki-laki diperlakukan nggak adil nggak akan memperbaiki pola pikir yang salah yang terlanjur menempel di masyarakat.

Memang nggak semua laki-laki sibuk membuat kompetisi antargender. Sudah lebih banyak laki-laki yang fokus dengan isunya. Harus diakui juga masih ada perempuan-perempuan yang memiliki standar ganda, menganggap kekerasan seksual terhadap laki-laki sebatas lawakan.

Oleh karena itulah, berhenti sibuk menyalahkan gendernya. Musuh kita semua hanya satu, yaitu tindakan kekerasan seksual itu sendiri. Baik laki-laki maupun perempuan, korban harus kita bela. Baik laki-laki maupun perempuan, pelaku harus dibikin jera.

Penulis: Witianatalatas
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Krisis Ruang Aman bagi Perempuan dari Pelecehan Seksual: Ketika Pesantren dan Kampus Jadi Ruang Penjahat

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2023 oleh

Tags: genderKekerasan Seksualopini
Witianatalatas

Witianatalatas

Baru saja resign dan lanjut magang sebagai budak kucing.

ArtikelTerkait

5 Film Indonesia tentang Kekerasan Seksual terminal mojok.co

5 Film Indonesia tentang Kekerasan Seksual

10 Desember 2021
akun palsu opini mojok

Ironi Orang Indonesia, Gemar Beropini tapi Pakai Akun Palsu

18 Agustus 2020
Demi Nama Baik Kampus: Film Pendek tentang Kekerasan Seksual terminal mojok.co

Demi Nama Baik Kampus: Film Pendek tentang Kekerasan Seksual

31 Desember 2021
ada apa dengan cinta film indonesia 2000an maskulinitas gender nicholas saputra foto mojok, istri nicholas saputra

3 Film Indonesia Tahun 2000-an yang Menggugat Maskulinitas ala Generasi Baby Boomer

29 April 2020
Kenalin, Jurusan Psikologi yang Mahasiswanya Lebih Banyak Perempuan Dibanding Lelaki

Kenalin, Jurusan Psikologi yang Mahasiswanya Lebih Banyak Perempuan Dibanding Lelaki

2 April 2020
Kekerasan di Pondok Pesantren Ditutupi Lagi, Sudah Saatnya Feodalisme di Pesantren Dibasmi, Sudah Saatnya Santri Kritis! penganiayaan di pondok pesantrenPondok Pesantren Tahfidz Al-Hanifiyah

Kekerasan di Pondok Pesantren Ditutupi Lagi, Sudah Saatnya Feodalisme di Pesantren Dibasmi, Sudah Saatnya Santri Kritis!

29 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

31 Januari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
Jatiwaringin Bekasi, Daerah Seribu Galian yang Nggak Tahu Kapan Kelarnya. Warga di Sini Punya Kesabaran Tingkat Tinggi bekasi jogja

Setahun Hidup di Jogja Bikin Saya Rindu Jalan Berlubang di Bekasi

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.