Melewati kawasan Flyover Kalibanteng adalah ujian iman yang jauh lebih berat daripada ujian SIM di Satpas mana pun di Indonesia. Alih-alih infrastruktur yang membantu masyarakat, ia lebih mirip jebakan. Kenapa begitu? Sederhana saja, Flyover ini amat ribet dan ruwet!
Struktur Flyover Kalibanteng ini benar-benar tidak ramah bagi pemula maupun jomblo yang pikirannya sering melayang ke mana-mana. Bayangkan saja, kamu berniat menuju arah bandara, tapi salah mengambil jalur sedikit saja di percabangan, tiba-tiba kamu sudah berada di jalur cepat menuju Kendal. Tidak ada jalan kembali yang manusiawi setelah ban motor menyentuh aspal tanjakan yang salah tersebut. Yang ada hanyalah penyesalan sedalam rob di wilayah Semarang Utara dan rasa malu karena harus memutar sangat jauh hanya untuk kembali ke titik semula.
Di atas sana, papan petunjuk jalan terasa seperti teka-teki silang yang harus dijawab dalam kecepatan tinggi di tengah kepungan truk kontainer dari pelabuhan.
Banyak orang bilang kalau Flyover Kalibanteng adalah tempat terbaik untuk membuang kenangan mantan agar tidak balik lagi ke dalam hidup. Masalahnya, jangankan membuang kenangan pahit, membuang diri sendiri ke jalur yang benar saja susahnya minta ampun bagi warga biasa. Labirin aspal ini punya banyak kaki dan cabang yang kalau dilihat dari udara mungkin terlihat keren secara estetika pembangunan. Namun, kalau dilewati secara langsung, rasanya seperti mengurai benang kusut yang tidak ada ujung pangkalnya.
Kamu masuk dari satu sisi dengan penuh harapan untuk cepat sampai. Tapi yang terjadi adalah, kamu keluar di sisi lain dengan penuh kebingungan dan tangki bensin yang mulai menipis akibat salah jalan.
Yang ruwet tak cuma Flyover Kalibanteng
Keajaiban Kalibanteng tidak berhenti di atas flyover saja. Di bawahnya ada bundaran yang tingkat ruwetnya setara dengan birokrasi kelurahan saat mengurus KTP hilang. Di bawah sana, kendaraan dari berbagai penjuru mata angin bertemu dalam satu pusaran emosi yang sangat tidak teratur dan cenderung liar.
Truk kontainer besar dari arah pelabuhan harus bertarung ruang dengan motor mahasiswa yang terburu-buru mengejar kelas pagi di kampus bawah. Bundaran ini selayaknya arena gladiator versi aspal, di mana pemenangnya adalah siapa saja yang paling berani menekan klakson paling keras dan punya nyali paling nekat. Jangan harap ada tata krama lalu lintas di bawah kaki-kaki beton raksasa ini. Coba saja kalian berkendara penuh tata krama, pasti tiba-tiba disalip truk dari kiri dan kanan secara bersamaan.
Jangan lupakan juga lampu merah di bawah bundaran ini yang durasinya bisa dipakai buat tadarus satu juz. Berhenti di sini saat matahari Semarang sedang galak-galaknya adalah simulasi nyata berada di padang mahsyar. Angka di lampu lalu lintas itu seolah berjalan lebih lambat daripada progres skripsi mahasiswa semester akhir. Para pengendara motor hanya bisa pasrah sambil memandangi aspal yang mengeluarkan uap panas, berharap lampu hijau segera datang menyelamatkan kewarasan.
Menunggu di lampu merah Kalibanteng adalah latihan kesabaran yang jauh lebih efektif daripada mengikuti seminar motivasi mana pun.
Polusi visual
Selain keruwetan jalurnya, kawasan Flyover Kalibanteng ini juga dipenuhi oleh “polusi visual” berupa baliho raksasa yang saling berebut perhatian mata pengguna jalan. Dari iklan perumahan mewah yang harganya nggak masuk akal sampai foto politisi yang tersenyum kaku, semuanya tumplek blek jadi satu.
Keberadaan baliho-baliho ini sering kali malah menutupi papan petunjuk jalan yang seharusnya jadi pemandu utama di tengah labirin beton tersebut. Bukannya fokus nyari jalan ke bandara, kita malah dipaksa melihat tawaran diskon furnitur atau janji-janji kampanye yang belum tentu ditepati. Fokus pengemudi sering kali pecah antara harus melihat rambu atau melihat layar digital raksasa yang cahayanya bikin silau saat malam hari.
Bagi pejalan kaki, bundaran Kalibanteng adalah gerbang menuju alam baka yang sangat nyata. Menyeberang di sini membutuhkan nyawa cadangan karena arus kendaraan tidak pernah benar-benar berhenti meski lampu lalu lintas sudah berwarna merah. Trotoarnya pun kadang mendadak hilang, memaksa pejalan kaki untuk bertaruh nyawa di bahu jalan sambil mencium asap knalpot bus AKAP yang pekat.
Infrastruktur ini sepertinya memang hanya ramah bagi mereka yang punya kendaraan pribadi. Sementara bagi pejalan kaki, melintasi Kalibanteng termasuk bentuk olahraga ekstrem. Tidak ada estetika ramah pejalan kaki di sini. Yang ada cuma beton yang angkuh dan debu jalanan yang menempel di baju.
Pernah saya melihat mobil berplat luar kota mendadak mengerem di tengah percabangan flyover karena pengemudinya tampak berdebat hebat dengan penumpangnya. Kejadian ini pemandangan lazim karena saking bingungnya melihat papan petunjuk yang arah panahnya saling tindih tidak karuan. Bagi orang luar Semarang, Flyover Kalibanteng adalah mimpi buruk yang bikin mereka tak sudi kembali.
Inilah hiburan murah meriah bagi warga lokal, menonton kegalauan orang asing yang terjebak di labirin beton milik kita sendiri. Ironis memang, sebuah proyek yang dibangun untuk memudahkan akses malah menjadi penghalang psikologis bagi siapa pun yang tidak hafal setiap lekukannya.
Google Maps tak berguna di Kalibanteng
Google Maps pun sering kali terlihat “kena mental” saat harus memandu perjalanan melewati Flyover Kalibanteng. Sering kali mbak-mbak pengisi suara GPS bilang “ambil jalur kiri”, tapi di depan mata ada tiga pilihan jalur kiri yang semuanya terlihat sama-sama meyakinkan.
Kebingungan teknologi ini jadi bukti bahwa kecerdasan buatan pun belum sanggup menandingi ruwetnya pikiran arsitek jalanan di Semarang saat itu. Jika algoritma tercanggih di dunia saja bisa bingung setengah mati, apalagi pikiran manusia yang sedang letih. Flyover Kalibanteng adalah titik di mana teknologi modern bertekuk lutut di hadapan ego pembangunan yang tumpang tindih.
Kesan megah yang ingin ditonjolkan dari proyek ini seolah-olah mengabaikan kenyataan bahwa manusia butuh sistem navigasi yang simpel dan masuk akal. Kita dipaksa menjadi navigator ulung dalam waktu singkat hanya untuk sekadar pulang ke rumah tanpa perlu tersesat sampai ke Krapyak atau Tugu. Seharusnya, jalan layang itu memotong kerumitan, bukan malah menambah cabang baru yang bikin pusing kepala setiap kali lewat.
Dulu waktu merancang Flyover Kalibanteng tuh sambil merem ya?
Setiap kali ban motor saya melintasi aspalnya, saya selalu mbatin apakah arsiteknya dulu membangun ini sambil merem atau memang sengaja ingin mengerjai warga. Tapi ya mau bagaimana lagi, aspal sudah jadi beton, dan warga hanya bisa pasrah mengikutinya sambil terus menggerutu.
Kalibanteng bukan tempat buat mencari jati diri yang hilang. Tapi tempat buat mencari jalan pulang yang benar-benar menguji logika dasar manusia. Kalau memang niatnya mau tersesat secara total, sekalian saja ajak mantanmu lewat sini. Biar kalian berdua bingung bareng-bareng di atas aspal yang bercabang tidak jelas itu. Pastikan saja bensin motor terisi penuh sebelum memutuskan masuk ke dalam labirin gila ini. Tidak ada gunanya menangis di atas flyover, kalau ujung-ujungnya kamu cuma akan berakhir di tempat yang bahkan tidak ada di dalam rencana perjalananmu hari ini.
Akhir kata, selamat berjuang bagi siapa pun yang masih ingin pulang ke rumah dengan jalur yang benar tanpa harus memutar sampai jauh ke ujung kota.
Penulis: Auliasari Citra Syamsura
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Anak SD Dibonceng Bapaknya Berhenti di Lampu Merah Kalibanteng Semarang, Pas Hijau Udah Lulus SMP
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
