Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Film Ghost Writer: Meminta Bantuan Setan Merupakan Alternatif Untuk Menamatkan Naskah Novel yang Nggak Kelar-Kelar

Reni Soengkunie oleh Reni Soengkunie
18 Juni 2019
A A
setan

setan

Share on FacebookShare on Twitter

Setelah selesai menonton film ini saya dengan mantap menyimpulkan, dibanding melihat film horor Indonesia ini alangkah jauh lebih menyeramkan lagi ketika melihat naskah novel saya yang sudah mengendap di folder laptop selama bertahun-tahun. Yah, gimana ya masalahnya film ini itu seram tapi lucu. Sedangkan nasib naskah novel saya yang gak pernah nemu kata ‘The End‘ itu sungguh gak ada lucu-lucunya, serem iya.

File yang berisi naskah novel yang mulai saya tulis dari tahun 2012 itu seolah seperti rumah tua yang sudah lama tak berpenghuni. Sunyi, senyap, dan tiap kali tak sengaja melihatnya saat mengerjakan tugas, mendadak seluruh tubuh saya dikuasai hawa-hawa mistis. Horor pokoknya.

Pertanyaan, “Kapan novel pertamamu terbit?”. Itu adalah pertanyaan paling horor sehoror horornya dibanding pertanyaan “kapan” lainnya bagi saya. Pertanyaan ini cukup membuat saya frustrasi dan galau tak berkesudahan

Sebenarnya jauh di lubuk hati itu ingin sekali lekas menyelesaikan tulisan saya itu. Tiap kali main ke toko buku, saya kerap kali membayangkan kalau suatu hari nanti buku saya bakalan nongkrong di salah satu rak buku tersebut. Bersanding dengan buku-buku karya penulis favorit.

Tiap kali menghadiri meet n greet bareng penulis, saya juga suka berangan-angan. Kapan ya, saya bisa duduk di depan sana sambil cengengesan menceritakan suka duka serta perjuangan menyelesaikan buku saya itu. Lalu saya dengan muka semringah, akan menandatangani satu persatu buku saya dan membubui qoute bijak yang penuh semangat untuk pembaca saya. Manis kan ya? Iya manis di angan-angan, pahit di kenyataan. Hmm

Kadang untuk menyelesaikan tulisan saya itu, saya kerap mengikuti pelatihan menulis. Saya jadi kembali bersemangat dan punya energi baru untuk merampungkannya. Namun setelah setengah jalan, saya kembali dihantui perasaan tak menentu yang terus-menerus membisiki saya. Entah itu karena saya menemukan ide cerita baru, entah itu ada keraguan atas kualitas tulisan saya, atau otak saya tak mau ikut kerjasama untuk memikirkan alur cerita selanjutnya.

Padahal ya, segala teori dari penulis terkemuka sudah saya lakukan dengan baik. Dari mulai membuat kerangka tulisan, sinopsis, membereskan meja belajar, atau bahkan mewajibkan mandi terlebih dahulu sebelum menulis. Tapi ya gitu, tulisan saya tetap mengendap di folder dan belum ada tanda-tanda akan dikirim ke penerbit untuk ditolak. ehehe

Saya pernah berpikir juga, mungkin tulisan saya tak kunjung kelar itu dikarenakan saya kurang dorongan motivasi. Sehingga saya sempat rajin untuk mendengarkan kata-kata bijak dari para motivator di YouTube. Saya juga tekun membaca buku nonfiksi terjemahan tentang motivasi dalam hidup. Kata-kata, “Selesaikanlah semua yang telah kamu mulai”, sempat membuat hati saya tergerak untuk menyelesaikan tulisan itu. Tapi oh tapi yah gitu. Setelah penyakit malas saya mendera, saya kembali pura-pura tengah mengalami writer’s block biar dimaklumi semua umat.

Baca Juga:

Nonton Film Horor di Mall “Mati”: Pengalaman Unik di Mall Hermes Place Polonia Medan

Saya Muak dengan Industri Film Horor yang Hanya (Bisa) Mengeksploitasi Budaya Jawa Seolah-olah Seram dan Mistis

Kehadiran ghost writer di kalangan penulis itu sebenarnya bukan hal yang baru. Saya sudah mendengar tentang sepak terjang para penulis hantu tersebut bagi lahirnya sebuah buku. Tapi yah gitu, untuk menghadirkan penulis hantu tersebut kita butuh uang yang lumayan untuk sajennya. Ya, kali nggak ada penulis hantu yang mau dibayar dengan ucapan terima kasih doang kan ya. Hantu juga punya tarif setiap diundang. nggak ada yang gratis.

Tapi setelah menonton film Ghost Writer, saya sungguh-sungguh iri pada Tatjana Saphira yang berperan sebagai Naya di film ini. Setelah mentok tiga tahun kekeringan ide untuk menulis novel, dia tiba-tiba menemukan seorang ‘ghost’ writer gratisan. Udah gitu setannya lumayan ganteng lagi, nggak ada nakut-nakutinnya sama sekali.

Enak kan ya, udah si setan itu berbaik hati menyumbangkan ide cerita. Masih juga si setan mau ikutan bantuin nulis naskahnya. Lumayan punya asisten buat disuruh-suruh. Duh, senangnya yah jadi orang cantik kayak Mbak Tatjana. Jangankan manusia, setan laki aja tak ada wibawa-wibawanya jika sudah berhadapan dengan doi.

Jika memang ada setan penasaran yang bisa bantuin ngelarin naskah saya tentu amat sangat menyenangkan ya. Lalu setelah menonton film ini, mendadak saya punya ide untuk mencari hantu penasaran yang bisa bantuin saya buat ngelarin tulisan saya. Lalu gagasan menemukan hantu Yukio Mishisama menjadi opsi pertama, setelah nama Ernest Hemingway juga terbesit di pikiran saya.

Seperti yang kita tahu bersama, Yukio Mishisama merupakan seorang penulis hebat yang sudah mendapatkan tiga nobel sepanjang hidupnya. Namun sungguh nahas, dia memutuskan untuk mati bunuh diri dengan cara seppuku (merobek perut) setelah sebuah kudeta yang gagal. Begitupun dengan penulis novel The Old Man And The Sea, yang memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan menembakan peluru ke tubuhnya.

Sepertinya setan di luar negeri itu nggak terlalu menyeramkan jika dibanding dengan setan di Indonesia. Tapi yah gimana lagi ya, sebuah tulisan itu jika dikerjakan sendiri dan dikerjakan oleh orang lain tentu akan memiliki sensasi kepuasaan tersendiri. Sebagus apa pun buku tersebut, se-best seller apa pun buku itu, jika bukan kita sendiri yang menulisnya semua akan terasa beda.

Beda halnya dengan tulisan jelek yang kita tulis sendiri. Meski ceritanya rancu, kualitasnya juga kurang mumpuni, tapi jika kita sendiri yang mengerjakannya tentu akan tetap merasa bangga. Jadi kembali lagi, menyelesaikan tulisan yang tak kunjung kelar itu adalah tugas saya. Meski prosesnya lama, berbelit-belit, dan penuh drama, namun saya akan menyelesaikannya. Kalau tidak tahun ini yah mungkin tahun-tahun berikutnya.

Kasian kan si setan jika harus mengerjakan pekerjaan manusia. Mereka juga butuh menikmati masa-masa kehidupan kematian mereka kan ya. Jadi jangan bebankan tugas kita ke mereka. Paling tidak kita harus punya pri kesetanan dalam hidup ini. Belum lagi, nanti ada netizen yang berkomentar bahwa bersekutu dengan setan itu adalah perbuatan musyrik. ohoho~

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2022 oleh

Tags: Film HororGhost WriterReview Film
Reni Soengkunie

Reni Soengkunie

Bakul sembako yang hobi mendengar keluh kesah emak-emak di warung tentang tumbuh kembang dan pendidikan anak, kehidupan lansia setelah pensiun, serta kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kenaikan harga sembako.

ArtikelTerkait

Alasan Saya Lebih Suka Menonton Film Horor Penuh Jump Scare Terminal Mojok

Alasan Saya Lebih Suka Menonton Film Horor Penuh Jump Scare

12 Desember 2020
Grave of the Fireflies (Hotaru no Haka) adalah Anime Paling Bikin Sakit Hati

Grave of the Fireflies (Hotaru no Haka) adalah Anime Paling Bikin Sakit Hati

1 September 2020
Balasan untuk Tulisan tentang Film The Social Dilemma yang Katanya Nihil Solusi terminal mojok.co

Balasan untuk Artikel Film ‘The Social Dilemma’ yang Katanya Nihil Solusi

22 September 2020
Femme Fatale Adalah Unsur yang Banyak Dipakai Film Horor Indonesia terminal mojok.co

Femme Fatale Adalah Unsur yang Banyak Dipakai Film Horor Indonesia

14 Desember 2020
Romantisme Hollywood Memfasilitasi Kecintaan Kita pada Badboy dan Fakboi terminal mojok.co

Romantisme Hollywood Memfasilitasi Kecintaan Kita pada Badboy dan Fakboi

25 Oktober 2020
4 Rekomendasi Film Horor Underrated dengan Tingkat Kengerian Tinggi

4 Rekomendasi Film Horor Underrated dengan Tingkat Kengerian Tinggi

27 Mei 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
Gambar Masjid Kauman Kebumen yang terletak di sisi barat alun-alun kebumen - Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026
Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026
Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026
8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja Mojok.co

8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.