Informasi
ADVERTISEMENT

Dosen Indonesia Itu Bukan Peneliti, tapi Buruh Laporan yang Kebetulan Punya Jadwal Ngajar

Dosen Numpang Nama di Jurnal, Vampir Akademik Pengisap Darah Mahasiswa yang Banting Badan demi Kelulusan

Menyuntik imajinasi dengan perut kosong

Gita Wirjawan, mantan Menteri Perdagangan RI yang kerap membahas pendidikan dan daya saing bangsa pernah menyebut bahwa 88% kepala rumah tangga di Indonesia tidak memiliki gelar sarjana. Artinya, sekolah adalah satu-satunya harapan bagi anak-anak ini untuk mendapatkan “buku panduan” intelektual. Satu guru bisa menyuntikkan ambisi kepada puluhan murid. Tapi bagaimana mungkin kita berharap guru (atau dosen) menyuntikkan imajinasi, jika negara sendiri pelit menyuntikkan kesejahteraan?

Gagasan menggaji guru Rp25–40 juta sering ditertawakan dan dianggap gila. Padahal, anggaran pendidikan kita tembus Rp500 triliun. Menggaji 100 ribu guru terbaik dengan Rp40 juta sebulan “hanya” butuh Rp48 triliun per tahun. Masalah utama pendidikan di Indonesia bukan kekurangan dana, melainkan cara pandang negara yang masih melihat pendidikan sebagai beban pengeluaran rutin yang harus diawasi dan dihemat berlebihan lewat birokrasi, bukan sebagai investasi jangka panjang yang pantas dibiayai dengan berani dan dipercaya dampaknya.

Dengan kata lain, uangnya ada, tapi kepercayaan dan keberaniannya yang kurang.

Penutup: jangan siram akar pakai air galon bekas

Pemerintah berencana membangun 7.000 sekolah terintegrasi dengan fasilitas modern mulai 2026. Ini langkah bagus. Tapi gedung megah tanpa guru yang sejahtera hanya akan jadi latar foto peresmian yang kosong. Pendidikan tidak bisa hidup dari slogan. Ia butuh listrik, literasi, dan manusia yang tidak sibuk memikirkan cicilan saat sedang mengajar.

Guru dan dosen adalah akar peradaban. Namun selama ini, kita menyiram akar itu dengan air sisa galon bekas, sambil menuntut pohonnya berbuah lebat dan manis. Cerita istri saya bukan kisah heroik, tapi kisah biasa yang ngenes. Dan justru karena biasa, ia penting. Apakah kita sungguh ingin membangun bangsa, atau hanya pandai memuja pendidikan sambil terus menekannya dari bawah?

Penulis: Fabri Kurniawan
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Saya Sempat Bercita-cita Jadi Dosen, tapi Setelah Lihat Gajinya, Saya Langsung Ganti Cita-cita

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2026 oleh .

Fabri Kurniawan

Seorang videografer freelance yang berbasis di Yogyakarta. Sehari-hari sibuk membidik visual lewat kamera, namun di waktu luang lebih sering terlihat sedang "berdiskusi" dengan mesin Nissan Grand Livina kesayangan. Bisa diajak ngopi sambil bahas otomotif.