Kalau bukan karena apa yang terjadi di Warung Bu Narti pada tahun 90-an, mungkin kita nggak akan mengenal oseng mercon sebagai makanan khas Jogja. Atau bisa jadi kita nggak akan mengenal apa itu makanan yang bernama oseng mercon.
Jadi, di Warung Bu Narti inilah oseng mercon lahir. Ia lalu tumbuh, menyebar, hingga sampai sekarang menjadi salah satu identitas kuliner Jogja.
Mercon, yang berarti ‘petasan’, merujuk pada sensasi rasa pedas yang panas dan meledak-ledak di dalam mulut. Lalu, apa yang mereka masak? Umumnya, oseng mercon ini isinya tetelan daging, lemak (koyor), bahkan kikil.
Sebagai makanan khas Jogja, pamor oseng mercon memang nggak sebesar gudeg atau bakmi jawa. Tapi ya nggak apa-apa, memang segitu saja sudah cukup.
Sebetulnya, kita masih bisa menikmati kuliner satu ini. Iya, memang pedas, tapi pedasnya Jogja masih kalah jauh dengan pedasnya Jawa Timur. Kita jadi nggak bisa menikmati makanan khas Jogja satu ini karena beberapa hal yang akan saya jelaskan.
Baca juga: Oseng Mercon Bu Narti: Kuliner Super Pedas yang Masuk Istana
#1 Rasa pedas oseng mercon yang terlalu dominan, terlalu overpowering, dan nggak balance
Namanya saja oseng mercon. Sudah jelas pasti pedas. Dan setiap warung punya karakter yang berbeda. Sebagai orang Jawa Timur, level pedas mereka masih enak. Beda dengan lidah Jogja, di mana rasa pedasnya terlalu tinggi sampai menghilangkan berbagai rasa yang seharusnya ada.
Sebagai orang Jawa Timur, saya suka pedas. Tapi, ketika menjumpai makanan dengan rasa pedas terlalu dominan, ada beberapa kecurigaan yang muncul di kepala saja.
Pertama, mereka mau menyembunyikan apa kok sampai harus sepedas itu? Apakah kualitas tetelan daging dan koyor yang jelek, kualitas bumbunya rendah, atau gimana?
Kedua, kalau mau bikin makanan yang dominan rasa pedas, mengapa rasa lain kok nggak kelihatan? Mengapa rasa asin, manis, dan ngurih sampai hilang?
Ini yang jadi masalah dari beberapa warung oseng mercon. Rasa pedasnya itu kadang overpowering, menutupi seluruh elemen rasa. Saya paham. Kalau makanan cuma pedas saja, pasti jadinya nggak nikmat. Inilah salah satu dosa makanan khas Jogja itu.
#2 Terlalu mahal untuk menjadi makanan khas Jogja
Harga oseng mercon itu beragam. Saya pernah mencoba beberapa warung yang membanderol harga di antara Rp20 sampai Rp30 ribu. Ada yang lebih dari Rp30 ribu dan jujur saja, agak aneh.
Isinya, ya sama, seporsi olahan oseng dan nasi putih. Sekilas semuanya normal, tapi ada yang “nggak beres” di salah satu makanan khas Jogja ini.
Untuk seporsi oseng mercon dengan harga di atas Rp30 ribu itu sudah kemahalan. Mengapa? Karena ada saja warung yang bikin harga di atas Rp30 ribu jadi nggak sebanding.
Maksudnya begini. Oseng mercon itu kan tetelan daging dan lemak (koyor) yang. Namanya tetelan daging, pasti ada dagingnya, kan? Nah, terkadang kita sudah membayar lebih dari Rp30 ribu, tapi kita cuma dapat daging satu-dua potong. Sisanya lemak (koyor) semua. Bahkan nggak jarang ada yang dapat lemak, tok.
Rasanya kayak “tertipu” aja. Apalagi kadang porsinya juga nggak banyak untuk harga segitu. Uang lebih dari Rp30 ribu itu sudah dapat 2 porsi soto paling enak di Jogja. Eh, udah porsinya dikit, dagingnya langka, yang dominan cuma pedas. Dosa banget.
#3 Identitas dan jati diri yang nggak jelas
Kalau misal ada yang tanya dari mana asal oseng mercon? Saya berani jamin sebagian besar, nggak akan bilang Jogja. Situasinya mirip ayam geprek. Ia asli Jogja, tapi kadang orang nggak percaya.
Tapi ya memang begitu kenyataannya. Sebagai salah satu makanan khas Jogja, oseng mercon nggak punya identitas yang kuat. Oseng mercon ini nggak punya sesuatu yang Jogja banget gitu, lho. Nggak kayak gudeg atau bakmi Jawa. Atau mungkin karena usia kuliner ini jauh lebih muda dari gudeg dan bakmi Jawa saja? Entah.
Namun, satu hal yang pasti, Jogja punya kuliner pedas itu kabar baik. Memang, identitasnya jadi rada kabur dan banyak orang nggak percaya. Tapi, ketika ada kuliner yang menambah kekayaan khazanah sebuah daerah, itu tetap kabar baik.
Situasi jadi sedikit runyam ketika ada warung yang nggak “sesuai dengan pakem”. Seperti yang saya jelaskan di atas, antara pedasnya terlalu dominan sampai menghilangkan rasa lain, sampai mematok harga terlalu tinggi.
Ingat, gudeg dengan harga di atas Rp30 ribu saja sudah kita anggap terlalu mahal. Gimana dengan oseng mercon, yang isinya cuma koyor, pedasnya dominan sampai cuma terasa pahit? Omong kosong, lah.
Yah, pada akhirnya, menyandang status sebagai makanan khas Jogja memang berat. Meski pada intinya, di mata saya, oseng mercon adalah makanan khas Jogja paling seksi. Ia berbeda dan (sebetulnya) nikmat.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 3 Makanan Khas Jogja yang Menyimpan Bahaya apalagi jika Kamu Punya Riwayat Penyakit Tertentu
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
