Dosa pengusaha kuliner, pakai foto makanan hasil AI hingga pembeli merasa tertipu

Dosa pengusaha kuliner, pakai foto hasil AI untuk jualan hingga pembeli merasa tertipu Mojok.co

Dosa pengusaha kuliner, pakai foto hasil AI untuk jualan hingga pembeli merasa tertipu (unsplash.com)

Perkembangan teknologi tidak bisa terlepas dari hidup manusia. Tak terkecuali dalam bisnis kuliner. Sekarang ini banyak pengusaha kuliner menggunakan bantuan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk foto makanannya. 

Sebenarnya ini hal yang sangat wajar dan masuk akal. Namanya juga bisnis, pasti selalu ada pertimbangan efisiensi. Tidak terkecuali soal biaya jasa foto yang memang tak murah. Kalau bisa diakali, kenapa tidak? 

Itu mengapa penggunaan AI semakin marak. Bak jalan pintas, AI untuk menghasilkan foto makanan itu jenius, dan murah agar produk tampil mentereng.

Akan tetapi, sebagai seseorang yang menekuni dunia pemasaran sekaligus hobi jajan, saya melihat keputusan bisnis yang instan ini justru seperti sedang menggali lubang kuburan sendiri kalau tidak berhati-hati. 

False advertising yang bikin pelanggan gampang pindah ke lain hati

Pengusaha kuliner yang foto makanannya hasil AI itu ibarat kencan online yang penuh tipu-tipu. Foto profilnya bikin jatuh hati. Namun, pas ketemu aslinya, rasa kecewa sudah pasti menanti. 

Sama halnya dalam dunia kuliner, kejujuran adalah mata uang tertinggi. Kalau apa yang tersaji di meja jauh dari kenyataan yang terpampang di layar atau di foto, wajar jika pembeli merasa dikibuli.

Foto yang dihasilkan kelewat mulus dan bagus. Di situlah letak persoalannya.

Makanan jadi terlihat seperti pajangan atau objek foto semata yang tak menggugah nafsu untuk disantap. Di tangan AI, kulit ayam yang seharusnya tampak renyah malah terlihat kaku. Belum lagi, uap panas yang muncul sering terkesan tempelan yang dipaksakan ada.

Di sinilah letak perbedaannya. Fotografer kuliner punya kepekaan untuk mengolah cahaya dan pantulan agar dimensi makanan jadi hidup dan bikin perut siapa pun yang melihatnya langsung keroncongan. Mereka tahu cara menonjolkan tekstur agar gambarnya bisa bicara soal rasa.

Sebaliknya, AI hanya bergantung pada prompt. Sialnya, pemberi perintahnya pun sering ngaco, minim taste, dan punya pengetahuan nol besar soal karakter dasar makanan. 

Intinya, bersandar penuh pada AI untuk jualan makanan bukan keputusan yang bijak. Itu bak resep kilat untuk menghancurkan kepercayaan pelanggan dalam jangka panjang.

Makanan jadi kehilangan jiwa dan kisah yang harusnya jadi pembeda

Makanan itu bukan sekadar tumpukan kalori atau pengganjal lapar. Namun, produk budaya yang lekat dengan emosi dan memori.

Itu mengapa visual makanan bukan cuma soal estetika. Tapi, tentang bagaimana penggiat usaha kuliner mengomunikasikan rasa dan pengalaman tersebut kepada calon pelanggan.

Sayangnya, foto rekaan AI terasa begitu bersih dan generik. Karena dilatih dari jutaan gambar yang sudah ada, AI cenderung menghasilkan sesuatu yang medioker. Tidak ada jiwa dan kisah yang tertangkap di sana. Apalagi, nuansa unik yang membuat orang langsung meneteskan air liur. Semua hasilnya seragam, datar, dan kehilangan karakter yang menjadi pembeda.

Padahal, dalam bisnis kuliner, menciptakan bahasa visual yang konsisten adalah kunci. Pelanggan idealnya bisa langsung mengenali suatu menu berasal dari restoran tertentu hanya dengan sekali melihat foto. 

Misalnya,  ketika sebuah warung ingin membawa nuansa hangat, layaknya bersantap di rumah nenek. Visi sedalam itu mustahil lahir dari sekadar mengetik prompt. 

Jangan lupakan kolaborasi, kunci memenangkan bisnis kuliner

Lebih dalam, merealisasikan sebuah visi membutuhkan proses kolaboratif yang panjang. Biasanya, pemilik usaha akan duduk bersama tim untuk menuangkan gagasannya. Lalu, tim pemasaran menangkap ide tersebut untuk diselaraskan berdasarkan psikologi konsumen sasaran.

Setelah konsepnya matang, baru kemudian fotografer profesional dan food stylist turun tangan untuk mewujudkan ide tersebut. Di sini, ada dialog dan riset yang mendahului sebelum waktunya eksekusi. 

Kesimpulannya, kolaborasi adalah kunci agar bisnis bisa bertahan di era super kompetitif ini. Sayangnya, AI justru mengkhianati esensi dari strategi tersebut.

Saat hanya mengandalkan kecerdasan buatan, sebenarnya pelaku bisnis kuliner sedang menghapus identitas unik yang seharusnya menjadi kekuatan utama. Jangan sampai, makanan yang dimasak dengan penuh dedikasi justru terlihat mati di mata pelanggan hanya karena salah memilih cara bercerita.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 5 rekomendasi kuliner Jogja enak dan murah bukti kalau kota ini nggak mahal kalau soal makan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version