Di Malam itu Berpendar Harapan

malam pendar harapan

malam pendar harapan

Malam ini pada pukul 22:00, aku berencana untuk menyelesaikan segala macam urusan yang ada.

Jadi aku merangkai dengan cantik mawar merah, mawar putih, dan tulip kesukaan Mama, kusatukan sehingga jadilah buket bunga yang indah sekali.

Selain itu, aku juga membungkus jam tangan yang selalu diidamkan Papa sebagai kadonya. Papa adalah pengoleksi jam tangan dan sangat berdedikasi dalam merawatnya, sehingga bisa kupastikan Papa akan senang dengan kado ini. Tidak lupa pula, untuk adikku Anneke, aku menghadiahkan untuknya stoples choco cookies buatanku sendiri. Dia sering memuji kue hasil buatanku dan favoritnya adalah choco cookies.

Ketiga kado spesial itu kubawa hati-hati menuju mobil yang kuparkir di basement apartemen. Aku akan membawanya kepada pemiliknya sekarang, karena malam ini aku ingin mengakhiri semuanya.

Dalam keheningan aku mengendarai mobil menuju Pemakaman Melati. Begitu tiba di pemakaman, aku meletakkan buket bunga di atas makam Mama, kado jam tangan di atas makam Papa, dan stoples choco cookies di atas makam Anneke. Aku tersenyum kepada tiga orang yang paling menyayangiku itu untuk terakhir kalinya sebelum menyusul mereka.

Setelah agak sore, aku kembali ke apartemen yang merupakan peninggalan Papa. Aku benci tinggal di rumah yang hanya ada aku dan kenangan, jadi aku memilih tinggal di sini.

Sepanjang jalan menuju kamar, aku menyapa semua orang yang kutemui; satpam apartemen, bocah di lobi yang digandeng mamanya, kakek-nenek di lift, dan tetangga pria yang baru pertama kali kutemui. Semuanya kuberi senyum untuk terakhir kali, karena malam ini aku akan mengakhiri semuanya.

Saat malam telah tiba, aku membersihkan diri, mengenakan dress putih selutut kesukaan Mama, mengepang rambut panjangku seperti Anneke, mengenakan sandal pemberian Papa, lalu menuju ke atap apartemen.

Tiba di atap, aku memutuskan berdiri di pinggir, memandang ke bawah dan melihat kota yang sesak dengan kendaraan lalu memandang langit malam yang lapang tanpa bulan dan bintang.

Aku menanti jam menunjukkan pukul 22:00 sambil bercengkrama dengan Tuhan.

Maaf, aku tidak punya kado untuk-Mu, Tuhan. Aku hanya ada satu pertanyaan untuk terakhir kali.

Setelah sebelumnya sudah seringkali aku memaki, menuntut, menyalahkan-Mu atas semua hal yang menimpaku. Aku hanya ingin tahu.

Apakah Engkau sungguh membenciku?

Hening. Hanya desau angin yang kudengar di saat aku ingin mendengar jawaban Tuhan.

Aku menarik napas, menengok kembali jam di pergelangan tanganku. Lima menit lagi menuju pukul 22:00. Aku siap untuk menyelesaikan semua urusan ini.

***

Malam ini di pukul 21:55, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyaksikan upaya bunuh diri.

Semuanya berawal dari kepindahanku ke sebuah apartemen tadi siang. Aku pria yang malas berjibaku dengan macet, jadi aku memilih pindah ke apartemen yang dekat dengan kantor. Di apartemenku yang baru ini, aku menghuni kamar 1725 di lantai 17.

Saat baru keluar dari lift di koridor lantai 17, aku berpapasan dengan seorang perempuan yang juga baru keluar dari kamar 1724, tangannya penuh dengan sebuket bunga dan kado. Kukira dia mau pergi ke sebuah pesta. Tapi ekspresinya tidak menunjukkan kebahagiaan melainkan kemurungan.

Mengherankan memang tapi aku tidak mau peduli. Toh semua orang punya privasi yang tidak perlu kita korek hanya karena kita penasaran. Tapi meski aku mencoba tidak peduli, aku tidak bisa tidak ingat wajahnya.

Sore harinya, ketika aku selesai mandi dan memutuskan untuk keluar mencari makan, aku kembali berpapasan dengan perempuan murung tadi. Anehnya, ekspresinya sekarang sangat berbanding terbalik dengan pertemuan pertama kami. Dia kini telihat sumringah.

Dia tersenyum padaku. Manis sekali. Membuatku lupa bagaimana cara membalas senyum tanpa menampakan ekspresi terpesona. Namun, hanya itu. Hanya sebentar sebelum dia berlalu ke dalam kamarnya. Aku mengangkat bahu, mencoba tidak peduli dengan perempuan yang punya senyuman manis tapi tatapannya terlihat … kosong.

Usai mengisi perut dan nongkrong dengan teman-teman selama berjam-jam, aku kembali ke apartemen saat hari sudah malam. Sebenarnya acara nongkrongnya belum selesai, tapi aku pamit lebih awal untuk istirahat, proses pindahan tadi rupanya menguras banyak tenaga.

Namun, sepertinya rencana istirahat lebih awal itu harus batal ketika aku berpapasan untuk ketiga kalinya dengan perempuan-murung-tapi-punya-senyum-manis tadi.

Aku yang berada di dalam lift—hendak keluar—dan dia yang baru mau masuk ke dalam lift, kami berhadapan dan saling memandang. Hanya ada aku sendiri di dalam lift ini. Kulemparkan sebuah senyum padanya, tapi tak ada balasan, ekspresinya mirip seperti pertemuan pertama kami tadi.

Penampilannya pun aneh, dia mengenakan gaun putih yang membuat dirinya kelihatan makin pucat dan rambutnya dikepang mirip anak-anak. Padahal sebelumnya penampilannya terkesan tomboy.

Begitu aku keluar dari lift, dia masuk. Pintu lift menutup. Rasanya ganjil. Aku berbalik sekali lagi ke arah lift, entah apa alasannya aku pun tidak tahu. Yang kutahu, saat aku melihat lift itu menuju lantai teratas apartemen ini, jantungku berdegup cepat.

Semuanya seperti kilasan film yang melintas di kepalaku. Wajahnya yang murung. Senyuman manis dengan tatapan kosong. Gaun putih. Rambut dikepang. Lift yang menuju lantai paling atas apartemen di jam yang hampir menunjukkan pukul 10.

Oh tidak. Aku sungguh tidak ingin peduli sebenarnya dengan situasi ini. Tapi sialan, kakiku bahkan sudah berlari menuju tangga darurat. Menaiki satu demi satu anak tangga, mencapai lantai teratas sambil terus berharap tebakanku salah. Tapi rupanya harapanku tidak dikabulkan.

Perempuan itu berdiri di ujung atap apartemen yang tanpa pagar pembatas. Dia mendongak ke langit. Dari posisiku, aku bisa melihat dia tengah menutup mata.

Aku sebenarnya sungguh tidak ingin peduli, tapi tidak bisa. Persetan dengan privasi setiap manusia, aku akan melakukan hal yang harus kulakukan malam ini. Jadi, dengan napas yang masih setengah-setengah, aku pelan-pelan berjalan mendekati perempuan itu setelah diam-diam menghubungi petugas keamanan apartemen ini.

Sekarang yang perlu kulakukan hanyalah mengulur waktu selama mungkin sambil menunggu pertolongan.

“Oi,” panggilku.

Perempuan itu membuka matanya tapi belum berbalik.

“Aku pria dari keluarga baik-baik. Mapan. Tampan. 28 tahun. Belum punya pacar.” Perempuan itu berbalik, kulanjutkan ucapanku, “Mau kencan denganku?”

END

Exit mobile version