Saya tinggal di sekitar Ringroad Barat sudah cukup lama. Setidaknya cukup lama untuk hafal suara yang muncul setiap malam. Bukan suara jangkrik, bukan suara kendaraan yang sekadar lewat, melainkan raungan motor brong yang digeber oleh gondes-gondes secara bergantian. Mereka seperti sedang berlomba mencari siapa yang paling bising.
Mungkin, kalian yang belum pernah tinggal di sini agak sulit membayangkannya ya. Namun, bagi kami warga sekitar Ringroad Barat, kejadian ini tidak hanya sekali atau dua kali. Suara raungan motor itu bak alarm malam yang datang tanpa diundang.
Bagi yang belum tahu, di Yogyakarta ada jalan melingkar dari utara, barat, lanjut ke selatan yang disebut Ringroad. Jalannya lebar, penerangannya cukup baik di beberapa titik, lalu berubah menjadi ruas yang lebih gelap di titik lain. Ada bagian yang lurus panjang, mulus, dan menggoda siapa saja yang ingin menarik gas lebih dalam.
Sayangnya, jalan yang seharusnya menjadi jalur mobilitas itu berubah menjadi arena unjuk keberanian para gondes-gondes dengan motor brong mereka.
Suara motor yang mengganggu warlok
Biasanya, para gondes ini datang bergerombol. Ada yang sekadar geber gas, ada yang saling menyalip. Ada pula yang memacu motor sekencang mungkin. Suaranya memantul ke rumah-rumah warga, membuat kaca bergetar dan orang yang sedang beristirahat mendadak terbangun.
Yang paling menyebalkan kejadian macam ini bisa terjadi hampir setiap malam. Sebagai warga, saya pernah berpikir, mungkin saya saja yang terlalu sensitif. Sampai akhirnya saya sadar, ini bukan soal telinga saya. Ini soal hak setiap orang untuk menikmati malam tanpa harus dipaksa mendengar knalpot yang memekakkan telinga.
Saya pernah mencoba melakukan hal paling sederhana. Mengirim pesan melalui DM Instagram kepada Polres Sleman dan Polda DIY. Saya tidak meminta perlakuan khusus. Saya hanya berharap ada perhatian terhadap apa yang setiap malam terjadi di Ringroad Barat.
Pesan itu tidak pernah saya rasakan berujung pada perubahan yang bisa saya lihat. Mungkin pesan saya tenggelam di antara ribuan pesan lain. Mungkin ada mekanisme lain yang seharusnya saya tempuh. Tetapi sebagai warga biasa, saya hanya tahu satu hal bahwa saya sudah mencoba menyampaikan keresahan. Sementara suara motor brong tetap datang malam demi malam.
Yang membuat saya bingung adalah posisi warga. Kalau didiamkan, gondes-gondes itu akan terus menganggap Ringroad Barat sebagai sirkuit gratis. Kalau ditegur langsung, siapa yang bisa menjamin kami tidak justru berurusan dengan keributan? Tidak semua orang berani menghentikan rombongan motor di tengah malam. Bukan karena pengecut, tetapi karena tahu risikonya.
Warga sekitar Ringroad Barat harus bagaimana?
Di situlah saya merasa negara belum benar-benar hadir. Bukan karena saya berharap ada polisi berdiri setiap seratus meter. Bukan juga karena saya ingin setiap malam ada razia besar-besaran. Yang saya harapkan jauh lebih sederhana, sebagai warga, saya ingin merasakan bahwa jalan umum benar-benar dijaga sehingga orang tidak bebas mengubahnya menjadi arena kebisingan dan aksi yang membahayakan.
Selama saya tinggal di sekitar Ringroad Barat, saya pribadi jarang melihat patroli malam. Kalaupun sesekali ada kendaraan kepolisian melintas, suasana biasanya langsung tenang. Namun, setelah mobil patroli pergi, tidak lama kemudian suara motor brong kembali terdengar. Rasanya seperti permainan kucing-kucingan yang tidak pernah selesai.
Kalau memang ada upaya penertiban, sebagai warga saya berharap hasilnya bisa benar-benar terasa. Sebab yang kami alami di lapangan masih sama, malam tetap bising, warga tetap terganggu, dan gondes-gondes tetap datang.
Ironisnya, Ringroad Barat bukan jalan kecil yang tersembunyi. Ini salah satu jalur utama Yogyakarta. Banyak orang melintas di sini, banyak rumah berdiri di kanan kirinya, tidak sedikit pula keluarga yang mencoba beristirahat setelah seharian bekerja. Tetapi, ketika malam tiba, ketenangan itu seolah bukan lagi hak kami.
Warga juga ingin hidup tenang
Saya tidak sedang membenci anak motor. Tidak semua pengendara motor seperti itu. Banyak komunitas otomotif yang tertib dan menghormati pengguna jalan lain. Yang saya persoalkan adalah segelintir gondes-gondes yang merasa jalan raya adalah panggung untuk memamerkan suara knalpot dan keberanian menarik gas.
Mereka mungkin pulang dengan perasaan puas. Sementara warga sekitar hanya bisa menutup pintu lebih rapat, berharap malam segera lewat.
Saya percaya setiap warga tidak hanya berhak atas jalan yang aman, tetapi juga malam yang tenang. Jalan raya dibangun agar orang sampai tujuan dengan selamat, bukan agar menjadi lintasan kebisingan yang berulang setiap malam.
Kalau kondisi seperti ini terus dianggap biasa, kita sedang mengirim pesan yang keliru bahwa siapa pun boleh menguasai ruang publik selama cukup berisik dan cukup berani.
Ringroad Barat seharusnya menjadi jalan yang menghubungkan orang dari utara ke barat hingga selatan. Bukan jalan yang setiap malam membuat warganya bertanya-tanya apakah mereka masih berhak menikmati sedikit ketenangan di rumah sendiri.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Sejarah Ringroad Jogja yang Kini Sudah Berubah Nama.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













