Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Dear Senior UKM Mapala, Kenapa sih Kalian Begitu Toxic?

Karina Londy oleh Karina Londy
13 November 2025
A A
Dear Senior UKM Mapala, Kenapa Sih Kalian Begitu Toxic?

Dear Senior UKM Mapala, Kenapa Sih Kalian Begitu Toxic?

Share on FacebookShare on Twitter

Ada dua jenis UKM Mapala di dunia perkuliahan. Pertama, yang layak kamu ikuti karena bakal bikin kamu berkembang secara signifikan. Dan kedua, adalah yang nggak layak dapat secuil pun perhatian darimu karena organisasinya begitu toxic!

Buat yang mau bilang, “masuk Mapala dulu bre, baru komen,” saya kasih tau ya. Saya anggota Mapala sejak 8 tahun lalu. Sejak saat itu sampai sekarang pun, saya menuai begitu banyak manfaat. Soalnya UKM Mapala yang saya ikuti adalah yang jenis pertama.

Makanya wajar kalau saya jadi yang paling prihatin melihat ada teman-teman sehobi yang terjebak dalam Mapala yang toxic. Wajar pula saya jadi yang paling geram melihat Mapala jenis itu bikin citra Mapala tercoreng di mata publik.

Baru sebulan yang lalu kita lagi-lagi disajikan berita aksi kekerasan dalam pendidikan kelompok pecinta alam. Ini 2025 bro, kok elu masih terjebak dalam tradisi romusha jaman Jepang?

Senioritas ugal-ugalan adalah pangkal tradisi toxic di UKM Mapala

Dari pengamatan saya, senioritas yang di luar batas adalah pangkal tradisi toxic di UKM Mapala. Banyak orang yang gila hormat memanfaatkan ekosistem Mapala buat memuaskan ego pribadinya.

Ada aturan tidak tertulis yang isinya “Pasal 1: senior selalu benar”. Aturan ini seringkali jadi pijakan para senior Mapala toxic dalam “mendidik” adik-adiknya.

Entah dari mana dan sejak kapan aturan ini mulai dibunyikan. Yang jelas, aturan berjiwa militeristik ini mestinya nggak punya tempat sama sekali di kawasan akademik kampus. Kalau pinjam istilah Soe Hok Gie, pendiri Mapala pertama di Indonesia, aturan macam itu mestinya masuk aja ke keranjang sampah.

“Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau,” menurut Gie, bahkan guru aja nggak selalu benar. Apalagi senior yang cuma menang tahun lahir doang dari juniornya?

Baca Juga:

Dear Maba, Jangan Gabung UKM Mapala kalau Alasannya Cuma Pengin Naik Gunung Aja

Cinta dan Benci pada Gunung Pangrango: Gunung yang Diabadikan Gie dalam Puisi Kini Menjadi Tempat yang Saya “Benci”

Saya nggak habis pikir. Jelas-jelas para Mapala yang toxic itu tidak berkiblat pada pemikiran tokoh pelopor Mapala. Jika masih hidup, Gie pasti akan melepeh pada aturan “senior selalu benar” itu. Maka yang jadi pertanyaan, kepada siapakah Mapala-Mapala toxic ini berkiblat?

Kiblatnya adalah copy-paste pendidikan tahun lalu

Sejauh cerita yang saya dapat, Mapala-Mapala toxic ini hanya berkiblat pada pendidikan tahun lalu yang mereka alami sendiri. Dalam kata lain, mereka pun tak tahu asal muasal sistem pendidikan mereka bagaimana.

Lalu saking sudah terdoktrin bahwa senior nggak pernah salah, mereka juga tidak mempertanyakan apakah yang mereka alami memang wajar. Sehingga mereka pede aja meneruskan lingkaran setan itu ke generasi selanjutnya.

Dulu ketika saya masih mahasiswa dan aktif di Mapala UI, saya pernah menjamu tamu dari Mapala lain. Maksud kedatangannya ke sekretariat kami adalah studi banding. Maka dia pun bertanya banyak hal pada saya mengenai Mapala UI.

Salah satu yang ia tanyakan adalah terkait sistem pendidikan di Mapala UI. Saya jelaskan bahwa kami menerapkan sistem mentorship. Mindset kami sebagai pengurus adalah kami sedang mencari calon teman jalan baru. Karena teman jalan kami yang lama sudah pada lulus kuliah dan mulai sibuk masing-masing dengan kehidupan paska kampus.

“Nggak ada jotos-jotosan, kak?” tanya tamu saya.

“Kita nggak begitu caranya di sini,”

“Ah, masa sih,” ujarnya dengan tatapan yang seakan-akan bilang, “Oke deh, gapapa kalau lu nggak mau ngaku,”

Ini orang beneran mau studi banding nggak, sih? Kok doktrin dari seniornya nggak ditinggal dulu di depan pintu?

Kekerasan berkedok latihan fisik dan mental, bentuk senioritas paling toxic di UKM Mapala

Ngomongin jotos-jotosan di Mapala yang toxic, pernahkah kamu mendengar pembelaan mereka atas aksi kekerasan itu? Kata mereka, itu adalah bentuk pembinaan fisik dan mental.

Padahal, kegiatan di alam macam apa yang butuh terbiasa sama tamparan sih? Coba tolong, wahai para pengurus Mapala yang biasa nonjokin junior, tolong kasih tau contoh konkretnya.

Soalnya nih, sepanjang saya bergiat di Mapala, nggak ada satupun kegiatan yang syaratnya adalah sudah terbiasa sama kekerasan fisik. Ataupun kekerasan verbal. Mau itu kegiatan di gunung, di dasar laut, sampai terbang di udara.

Nggak ada pula satu pun prestasi yang Mapala UI raih, dari zaman Soe Hok Gie hingga sekarang, adalah hasil didikan pakai tampar-tamparan. Jadi, apa sih yang mau kalian raih dengan menampar dan membentak calon teman jalan kalian?

Kalau mau latihan fisik, ya tinggal latihan sesuai menu aja. Layaknya atlet mempersiapkan diri untuk tampil prima dalam ajang olahraganya. Mau latihan mental, ya latihan mikir. Latihan adu gagasan dan saling tukar ilmu serta pengalaman. Layaknya mahasiswa.

Mental yang siap bergiat di alam adalah yang sudah dipenuhi dengan wawasan bergiat di alam. Bukan yang dipenuhi rasa dendam sama senior karena habis ditabokin. Bukan ya, dek ya.

Lucunya, UKM Mapala yang toxic nggak sadar dirinya toxic

Kombinasi senioritas ugal-ugalan, ilmu yang kudet dari tahun ke tahun, dan melukai fisik serta batin calon anggotanya bikin banyak Mapala jadi toxic. Jauh panggang dari api dengan makna kata “Mapala” itu sendiri.

Lucunya, mereka yang sudah terlanjur terjebak dalam ekosistem yang seperti itu tidak sadar bahwa organisasi mereka toxic. Mereka akan memberi label pada siapa pun yang mengkritik mereka sebagai “anak yang nggak pernah main ke luar komplek”. Atau buru-buru menyimpulkan “ini orang yang ditolak Mapala nih”. Makanya di awal saya kasih disclaimer bahwa saya ini anggota Mapala juga.

Saya harap sih, tulisan ini sampai di layar gawai para pengurus Mapala yang sebenarnya toxic tapi belum sadar diri itu. Agar pelan-pelan mulai mempertanyakan ulang makna dari tiap kegiatan terkait pendidikan anggota baru yang mereka terapkan.

Kalau ternyata maknanya nggak jelas, sah-sah aja lho kalau mau cari cara baru. Kenapa, susah? Nggak berani sama alumni? Halah, katanya anak Mapala pemberani.

Soalnya nih, kalau nggak mau berubah, siap-siap aja organisasi kalian bakal segera mati. Bayangin deh, anak-anak Gen Alpha yang kritis itu, emang bakal tertarik buat ikutan organisasi toxic kayak Mapala kalian?

Penulis: Karina Londy
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Dear Maba, Jangan Gabung UKM Mapala kalau Alasannya Cuma Pengin Naik Gunung Aja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 November 2025 oleh

Tags: Mapalasenioritas di UKM Mapalasoe hok gieUKM Mapala
Karina Londy

Karina Londy

Lulusan komunikasi yang bekerja di industri penerbangan. Fotografer dan pegiat olahraga alam bebas. Pengelola taman baca swadaya di Jakarta Timur.

ArtikelTerkait

Guru (dan Dosen) Bukan Dewa yang Selalu Benar dan Murid Bukan Kerbau (Unsplash.com)

Guru (dan Dosen) Bukan Dewa yang Selalu Benar dan Murid Bukan Kerbau

3 Oktober 2022
Mari Berandai-andai jika Soe Hok Gie Hidup di Zaman Sekarang terminal mojok.co

Mari Berandai-andai jika Soe Hok Gie Hidup di Zaman Sekarang

22 Agustus 2021
Cinta dan Benci pada Gunung Pangrango: Gunung yang Diabadikan Gie dalam Puisi Kini Menjadi Tempat yang Saya "Benci"

Cinta dan Benci pada Gunung Pangrango: Gunung yang Diabadikan Gie dalam Puisi Kini Menjadi Tempat yang Saya “Benci”

29 Maret 2025
Dear Maba, Jangan Gabung UKM Mapala kalau Alasannya Cuma Pengin Naik Gunung Aja

Dear Maba, Jangan Gabung UKM Mapala kalau Alasannya Cuma Pengin Naik Gunung Aja

23 Agustus 2025
Soe Hok Gie dan Mohammad Roem saja Setuju dengan Perpeloncoan Ospek terminal mojok.co

Soe Hok Gie dan Mohammad Roem Saja Setuju dengan Perpeloncoan Ospek

22 September 2020
5 Gua di Gunungkidul yang Sebaiknya Dikunjungi Mapala Reza Fitriyanto Shutterstock

5 Gua di Gunungkidul yang Sebaiknya Dikunjungi Mapala

5 Maret 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah (Wikimedia Commons)

Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah

24 Februari 2026
6 Dosa Penjual Jus Buah- Ancam Kesehatan Pembeli demi Cuan (Unsplash)

6 Dosa Penjual Jus Buah yang Sebetulnya Menipu dan Merugikan Kesehatan para Pembeli Semata demi Cuan

26 Februari 2026
Manis Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Tetangga Mojok.co

Manisnya Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu yang Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Saudara

26 Februari 2026
Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

26 Februari 2026
7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup Mojok.co

7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup

24 Februari 2026
Jurusan Teknologi Hasil Perikanan UGM: Masuk dan Lulusnya Gampang, tapi Sulit Dapat Kerja Mojok.co

Jurusan Teknologi Hasil Perikanan UGM: Masuk dan Lulusnya Gampang, tapi Sulit Dapat Kerja

22 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”
  • Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya
  • Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun
  • Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga
  • Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.