Salah satu dialog dalam sebuah film yang sedang tayang belakangan ini sempat mencuri perhatian warganet. Bukan karena aktingnya yang luar biasa atau ceritanya yang penuh plot twist, melainkan karena satu dialog Bahasa Jawa sederhana “kulo meminto”.
Bagi sebagian penonton, dialog itu terdengar lucu. Terlebih bagi penonton yang tumbuh dengan Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu, dialog itu terdengar janggal.
Masalahnya bukan pada niatnya. Bisa jadi dialog itu ingin terdengar halus, sopan, dan “njawani”. Tapi di situlah letak persoalannya. Ada anggapan lama yang terus diwariskan lewat media populer, bahwa semua kata dalam bahasa Jawa pasti berakhiran huruf O. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Fenomena “kulo meminto” kemudian memicu cerita-cerita lain di media sosial. Banyak orang dari luar Jawa ikut berbagi pengalaman pertama mereka mencoba berbaur dengan lingkungan Jawa, lalu dengan penuh percaya diri mengubah hampir semua kata jadi berakhiran O. Dari situlah kita bisa melihat satu kesalahpahaman kecil yang ternyata cukup luas.
Nama daerah tetap disebut apa adanya
Mari mulai dari hal paling dasar: nama daerah. Sampai kapan pun, orang Jawa tetap akan menyebut Jawa Barat sebagai Jawa Barat, bukan Jowo Borot. Kedengarannya absurd, tapi logika ini sering runtuh ketika orang mulai mencoba “menjawakan” segalanya.
Bahasa Jawa bukan filter Instagram yang bisa langsung masuk ke semua kata. Ada aturan, konteks, dan kebiasaan tutur yang sudah berjalan lama. Nama tempat, nama orang, dan istilah resmi tetap sebagaimana adanya. Tidak ada dorongan kolektif untuk mengubah akhiran A menjadi O hanya demi terdengar Jawa.
Kesalahan ini biasanya lahir dari niat baik, tapi berujung salah kaprah. Bahasa bukan sekadar bunyi, tapi juga kesepakatan sosial.
Kata dalam Bahasa Indonesia tidak otomatis berubah jadi
Hal serupa terjadi pada kata-kata Bahasa Indonesia. Dalam praktik sehari-hari, tidak ada orang Jawa yang menyebut “meminta” menjadi “meminto.” Kata meminta tetap meminta. Mau diucapkan oleh orang Jawa, Sunda, atau Betawi, bentuk katanya tidak berubah.
Frasa “kulo meminto” terdengar janggal karena mencampur dua sistem bahasa tanpa memahami keduanya. “Kulo” memang Bahasa Jawa halus. Tapi “meminta” bukan kata Jawa yang perlu atau bisa diubah akhiran vokalnya. Dalam Bahasa Jawa sendiri, kata yang lazim dipakai adalah nyuwun atau nuwun.
Fenomena ini mirip dengan anggapan bahwa menambahkan huruf O di akhir kata otomatis membuatnya terdengar Jawa. Padahal, bagi penutur asli, justru terdengar seperti karikatur.
Tidak semua dialek Bahasa Jawa berakhiran “o”
Kesalahpahaman terbesar mungkin datang dari satu asumsi bahwa Bahasa Jawa itu satu suara, satu dialek. Padahal kenyataannya jauh lebih beragam. Saya sendiri orang Banyumas, besar dengan dialek ngapak, yang justru mempertahankan akhiran huruf A hampir di semua kata.
Di Banyumas, “apa” ya tetap apa, bukan opo. Logatnya keras, terbuka, dan sering dianggap lucu oleh orang luar. Berbeda dengan dialek Jogja atau Solo yang memang mengubah akhiran “a” menjadi “o” dalam pelafalan tertentu, terutama dalam bahasa Jawa krama.
Artinya, huruf “o” bukanlah ciri mutlak bahasa Jawa, melainkan ciri dialek tertentu. Menyamakan semuanya justru menghapus keragaman yang ada di dalam bahasa itu sendiri.
Bahasa Jawa, seperti bahasa lain, hidup dari kebiasaan penuturnya, bukan dari tebakan fonetik. Keinginan untuk berbaur tentu patut dihargai, tapi akan lebih baik jika dibarengi dengan pemahaman sederhana bahwa tidak semua kata perlu diubah. Dan, tidak semua Jawa berbunyi sama.
Penulis: Wahyu Tri Utami
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
