Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Danais Triliunan, tapi Mbah-mbah di Jogja Tetap Tidur di Trotoar

Ibrayoga Rizki Perdana oleh Ibrayoga Rizki Perdana
12 September 2025
A A
Danais Jogja Triliunan, tapi Mbah-mbah di Jogja Tetap Tidur di Trotoar

Danais Triliunan, tapi Mbah-mbah di Jogja Tetap Tidur di Trotoar

Share on FacebookShare on Twitter

Danais Jogja itu angkanya menyentuh triliun, tapi, di jalanan kita lihat realitas bahwa angka sebesar itu tidak punya dampak yang sesuai dengan yang diharapkan

Coba, deh, Anda keliling Jogja pas malam sudah mulai larut. Bukan buat cari angkringan atau kopi jos, tapi coba perhatikan sudut-sudut ruko yang gelap atau emperan trotoar yang dingin. Di sanalah pemandangan yang bikin hati ambyar sering kali terjadi: mbah-mbah, para lansia, meringkuk kedinginan, menjadikan tas dekil sebagai bantal dan langit Jogja sebagai atap.

Bagi sebagian orang, ini mungkin cuma pemandangan biasa, dianggap bagian dari “romantisme” kota. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ini jelas ironi paling telak. Ini, lho, wajah asli dari kota yang katanya “Istimewa”, “Berhati Nyaman”, dan segala predikat surgawi lainnya. Wajah yang kontras abis dengan gelontoran Dana Keistimewaan (Danais) yang tahun lalu tembus lebih dari Rp1 triliun.

Duit segitu banyaknya katanya buat menyejahterakan warga. Tapi nyatanya? Keistimewaan itu baru sebatas retorika di panggung seremoni, sementara di urusan kemanusiaan paling dasar, Jogja masih rapuh dan penuh validasi.

Negara datang kalau sudah viral, itu pun buat konten

Dalam ilmu kesejahteraan, ada pertanyaan klasik: negara ini sebenarnya melindungi siapa, dan membiarkan siapa? Nah, di Indonesia, termasuk di Jogja yang katanya super istimewa ini, negara kita menganut mazhab “Terserah Keluarga Aja Dulu”.

Artinya, negara baru akan turun tangan kalau sebuah keluarga sudah angkat tangan. Kalau keluarga nggak sanggup lagi ngurus orang tuanya, ya sudah, si mbah bakal terlempar ke jalanan. Bertahan hidup dari belas kasihan orang lewat. Para pakar menyebutnya informal security regime, istilah keren untuk bilang: “Negara absen, silakan berjuang sendiri-sendiri, ya, Warga!”

Jogja, dengan statusnya yang mentereng itu, ternyata belum bisa lolos dari jebakan ini. Keistimewaan administratifnya belum jadi keistimewaan sosial. Negara hadir gagah dalam festival budaya, tapi absen saat warganya butuh perlindungan nyata.

Padahal, data BPS 2024 sudah teriak kencang: DIY adalah provinsi dengan persentase lansia tertinggi se-Indonesia, 16,3 persen! Secara logika, lansia harusnya jadi prioritas utama kebijakan. Tapi di lapangan? Panti sosial macam UPT Budhi Dharma itu kapasitasnya terbatas, dan syarat masuknya lebih ribet dari ngurus KPR. Hasilnya, jalanan jadi panti darurat tanpa administrasi.

Baca Juga:

Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

Tinggal dekat Ringroad Barat itu nggak nyaman, tiap malam diteror suara blayer motor yang meresahkan

Simbah-simbah ini bukan objek bansos buat dipotret. Blio-blio itu warga negara yang punya hak buat hidup layak di hari tuanya. Kalau negara gagal menjamin hak itu, yang runtuh bukan cuma sistem, tapi juga moralitas negara itu sendiri.

Kampus megah di Jogja cuma jadi menara gading

Ironi ini makin menjadi-jadi kalau kita ingat Jogja itu “Kota Pelajar”. Puluhan kampus besar berdiri gagah, ribuan mahasiswa tumpah ruah dari seluruh negeri. Modal intelektual melimpah ruah, tapi kok nggak jadi solusi sosial?

Keterlibatan kampus dalam isu lansia, jujur saja, masih level seremonial. Paling banter KKN foto-foto sama simbah, riset buat ngejar wisuda, atau baksos bagi-bagi Supermi setahun sekali. Kampus-kampus megah itu masih betah di menara gadingnya, asyik dengan jurnal Scopus. Sementara di luar gerbang, ada lansia yang nggak tahu besok makan apa.

Padahal, kampus punya segalanya buat mendorong kebijakan yang lebih pro-lansia. Tapi advokasi yang sistematis? Nol besar. Modal intelektual gagal jadi modal sosial.

Jogja ini kurang contoh apa lagi? Di Bali, ada program Sekolah Lansia yang bikin para lansia tetap aktif dan bermakna. Di Jawa Barat, ada program Lansia Tangguh yang layanannya terintegrasi sampai tingkat desa. Dua daerah ini sudah bergeser dari pendekatan belas kasihan (charity) ke pendekatan berbasis hak (rights-based). Mereka sadar, lansia itu bukan beban, tapi warga negara yang haknya wajib dipenuhi.

Jogja? Dengan Danais triliunan, malah sibuk poles citra. Jaga fasad, tapi lupa jaga martabat warganya sendiri.

Berhenti basa-basi, ini yang mesti dilakukan!

Sudah cukup paradoksnya. Ini beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan kalau Pemda DIY serius mau jadi “istimewa” beneran:

Satu, stop buang-buang Danais Jogja buat acara seremoni yang nggak jelas ujungnya. Potong itu anggaran, alihkan buat bikin rumah singgah yang manusiawi di tiap kabupaten/kota. Bukan yang sifatnya proyekan, tapi yang didanai berkelanjutan.

Dua, seret itu kampus-kampus buat turun gunung. Bikin program KKN permanen atau Merdeka Belajar yang fokus ngurusin lansia. Mahasiswa kedokteran bisa periksa kesehatan rutin, mahasiswa psikologi kasih dukungan mental, mahasiswa hukum bantu advokasi hak-haknya. Bikin formal kerja sama ini, biar nggak jadi kegiatan insidental doang.

Tiga, jangan semua dipusatkan di kota. Bikin Posyandu Lansia di tiap desa itu jadi pusat segalanya: cek kesehatan, curhat, sampai ngadain kegiatan produktif biar nggak pikun. Biar negara terasa hadir di dekat mereka.

Empat, bikin dashboard online. Biar kita semua bisa lihat, Danais Jogja buat lansia lari ke mana, berapa lansia yang sudah diurus, dan panti mana yang masih kosong. Biar transparan dan nggak ada lagi alasan “datanya nggak ada”.

Terakhir, ya Tuhan, nggak usah gengsi niru yang bagus dari daerah lain. Bali dan Jabar sudah kasih contoh. Adaptasi, modifikasi, dan jadikan itu keunggulan Jogja. Keistimewaan itu harusnya buat melayani, bukan buat gengsi.

Katanya, kemajuan sebuah daerah itu diukur dari cara mereka memperlakukan warganya yang paling lemah. Jogja baru benar-benar istimewa kalau keistimewaannya bisa dirasakan oleh mbah-mbah di trotoar, bukan cuma dinikmati elite di dalam keraton atau para turis.

Kalau tidak, “Jogja Istimewa” itu cuma slogan kosong buat jualan pariwisata.

Penulis: Ibrayoga Rizki Perdana
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Orang Miskin Jogja Bakal Tetap Menderita Meskipun Bisa Menyewa Tanah Kas Desa Menggunakan Danais Sebagai Solusi Punya Rumah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 September 2025 oleh

Tags: dana istimewa jogjadanais jogjaJogjalansia jogjatunawisma jogja
Ibrayoga Rizki Perdana

Ibrayoga Rizki Perdana

Mahasiswa Magister Politik dan Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada dengan ketertarikan mendalam pada dinamika isu sosial dan politik. Di luar kegiatan akademis, aktif menekuni seni bela diri Pencak Silat, serta memiliki hobi berpetualang dan memasak.

ArtikelTerkait

Lotek Khas Solo Bikin Pencinta Lotek Asal Jogja Culture Shock

Lotek Adalah Kuliner Favorit Warga Jogja yang Lebih Janggal dan Lebih Ganjil daripada Gudeg

20 Maret 2026
Jogja Istimewa, Gunungkidul Merana

Jogja Istimewa, Gunungkidul Merana

20 Juli 2022
Sinar Jaya & Juragan 99 Terbaik, Harga KA Eksekutif Makin Gila (Unsplash)

Tiket Kereta Semakin Mencekik, Sleeper Bus Sinar Jaya dan Juragan 99 Menyelamatkan Kewarasan Isi Dompet para Pekerja

11 Juni 2025
Muntilan, Tempat Pensiun Paling Ideal Mengalahkan Jogja Mojok.co

Muntilan, Tempat Pensiun Paling Ideal Mengalahkan Jogja

18 November 2023
Wisma Hartono Jogja Kini Tinggal Kenangan bagi Pelajar yang Pernah Bersekolah di Sekitar Sana Mojok.co

Wisma Hartono Tinggal Kenangan bagi Pelajar SMAN 6 Jogja

3 Mei 2025
Gudeg Kaleng: Oleh-oleh Jogja yang Enak, tapi Punya Banyak Kekurangan  Mojok.co

Gudeg Kaleng: Oleh-oleh Jogja yang Enak, tapi Punya Banyak Kekurangan 

3 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering Mojok

Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering rumahan

2 Agustus 2026
Cikarang Menyimpan Salah Paham yang Bikin Iri sama Jakarta (Unsplash)

Di balik gaji besar operator industri di Kawasan Industri Cikarang, ada harga mahal yang harus dibayar

4 Agustus 2026
Di Tasikmalaya, jadi tukang parkir liar itu wajar, sebab lapangan kerja di kota ini begitu langka!

Di Tasikmalaya, jadi tukang parkir liar itu wajar, sebab lapangan kerja di kota ini begitu langka!

3 Agustus 2026
5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen seperti saya saat merantau ke kota Mojok.co

5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen saat merantau ke kota

7 Agustus 2026
Akulah pengunjung kafe yang terganggu itu gara-gara musik yang disetel keras-keras, bikin tenaga terkuras dan harus adu volume saat ngobrol

Akulah pengunjung kafe yang terganggu itu gara-gara musik yang disetel keras-keras, bikin tenaga terkuras dan harus adu volume saat ngobrol

1 Agustus 2026
Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

7 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.