Ketika dinyatakan lolos UTBK dan diterima di Universitas Mulawarman Samarinda, universitas nomor satu di Kalimantan Timur, saya merasa itulah salah satu hari paling membahagiakan dalam hidup saya. Setelah gagal di jalur SNBP dan melewati masa belajar yang melelahkan, usaha saya akhirnya terbayar. Saya diterima di pilihan pertama.
Saat itu, rasanya seperti ada pintu yang akhirnya terbuka untuk masa depan. Saya berpeluang menjadi sarjana pertama di keluarga.
Saya tentu senang, begitu pula keluarga. Namun, rasa bahagia itu cepat tergerus kebingungan. Setelah euforia mereda, kami mulai memikirkan satu persoalan yang terdengar sederhana, tetapi rumit bagi keluarga yang tidak memiliki kendaraan: bagaimana saya akan pergi kuliah setiap hari?
Pilihan untuk kos nyaris mustahil. Orang tua saya tidak sanggup membiayai kos sekaligus makan bulanan. Rumah yang kami tinggali saja masih berstatus kontrakan.
Di Samarinda, motor seolah syarat hidup
Saya tinggal di Samarinda Seberang, sedangkan kampus berada di kawasan Universitas Mulawarman, Kota Samarinda. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar tiga puluh menit, bahkan bisa lebih lama jika jalanan macet. Jarak itu menjadi persoalan besar bagi kami yang tidak memiliki kendaraan bermotor.
Di hari-hari menjelang ospek, saya bukan hanya memikirkan tugas dari kakak tingkat, tetapi juga urusan transportasi. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan matang-matang oleh keluarga saya. Dari situlah saya sadar, diterima kuliah bukanlah akhir dari perjuangan setelah lulus sekolah menengah atas. Justru perjuangan yang sesungguhnya baru dimulai.
Saya cukup khawatir karena persoalan kendaraan yang terjadi di Samarinda, kota yang menurut saya masih tertinggal dalam urusan transportasi umum. Angkutan kota yang dulu kami kenal sebagai taksi kuning kini semakin jarang terlihat. Moda itu perlahan kalah oleh transportasi online, yang tentu tidak mungkin kupakai setiap hari karena biayanya.
Bus pun lebih banyak melayani lintas kota, bukan rute dalam kota. Bahkan Balikpapan lebih dulu memiliki layanan bus dalam kota melalui Balikpapan City Trans. Sementara di Samarinda, transportasi umum terasa seperti wacana yang tak pernah benar-benar datang.
Mencicil motor
Padahal, transportasi umum yang murah, nyaman, dan mudah dijangkau bukan hanya penting untuk mengurangi kemacetan, tetapi juga sangat membantu masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi.
Oleh karena itulah keluarga saya mengambil keputusan paling berani sekaligus paling nekat: mencicil motor. Motor menjadi satu-satunya cara paling masuk akal agar bisa kuliah dan tetap menjalani aktivitas harian.
Kami tidak punya tabungan untuk membeli motor bekas, apalagi baru secara tunai. Bapak saya bekerja sebagai tukang parkir, sedangkan ibu saya mengasuh anak tetangga. Penghasilan mereka lebih sering cukup untuk membayar sewa rumah dan kebutuhan sehari-hari.
Cicilan Motor dan Harga Sebuah Pendidikan
Namun, setelah motor itu datang, tantangan baru ikut datang bersamanya: cicilan bulanan yang harus dibayar tepat waktu.
Saya pun membuat keputusan yang terasa berat: bekerja menjaga konter HP di Samarinda. Saya tidak bisa hanya mengandalkan orang tua. Kuliah adalah pilihan saya, maka sudah sepantasnya ikut bertanggung jawab atas jalan yang saya pilih sendiri.
Tentu tidak mudah ketika saya harus membagi waktu antara kuliah, tugas, kerja, dan cicilan yang harus dibayar setiap tanggal satu.
Kadang saya iri melihat teman-teman sekolah saya dulu berproses dengan lebih leluasa. Mereka bisa mengikuti organisasi, aktif di berbagai kegiatan kampus, dan mencoba banyak hal baru.
Sementara saya, untuk menghadiri diskusi buku yang diwajibkan dosen saja, harus lebih dulu menyesuaikannya dengan jam kerja. Semua harus dihitung cermat agar tidak ada yang ditinggalkan. Banyak orang mengira perjuangan selesai saat lolos kampus negeri. Bagiku, perjuangan itu justru dimulai ketika cicilan pertama jatuh tempo.
Penulis: Fahira Nur Amelia
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
