Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Cuma Indomie yang Bisa Ngiklan Tanpa Munculin Wujud Mi

Atanasius Rony Fernandez oleh Atanasius Rony Fernandez
26 April 2020
A A
Cuma Indomie yang Bisa Ngiklan Tanpa Munculin Wujud Mi
Share on FacebookShare on Twitter

Iklan makanan tanpa menampilkan rupa makanannya, bikin calon konsumen kesulitan menebak wujud dari makanan itu. Sebuah strategi pemasaran yang ciamik sekaligus berisiko jika dilakukan produsen makanan yang tidak terkenal. Tampaknya strategi itu hanya bisa dilakukan oleh produsen mi instan terpopuler di Indonesia yakni Indomie. Dengan entengnya Indomie seakan ingin bilang, “Gue tanpa menampilkan mi-nya saja sudah bakal laris manis, mana bisa merek lain ngikutin.”

Saya tergelitik ketika melihat iklan Indomie edisi Ramadan di Instagram resmi Indomie. Di iklan itu diperlihatkan seorang pria yang memasak mi, tapi tidak terlihat mi di saringan dan di piring. Ada kalimat keterangan di video itu yang bilang, “Mi-nya gak ada, kan lagi puasa”. Di akhir video ada ajakan membeli Indomie spesial Ramadan dengan kemasan tanpa memperlihatkan wujud mi instan—yang biasanya sangat menggiurkan itu.

Sungguh sebuah strategi pemasaran yang aduhai. Sebelum ada orang yang mencak-mencak karena iklan makanan tayang di saat banyak orang berpuasa, Indomie sudah menyiasatinya dengan tidak menampilkan rupa mi yang sedang dimasak. Tidak hanya dalam bentuk iklan, wujud mi juga tidak ditampilkan di bungkus Indomie spesial Ramadan, hanya menyisakan piring dan garpu. Selain itu, ada juga iklannya yang menampilkan wujud mi, ceritanya dimasak atau diperuntukkan saat sudah berbuka puasa, jadi sudah boleh menampilkan wujud minya.

Iklan ini tentu saja berpeluang viral, lihat saja komentar di postingan akun instagram Indomie, video orang masak mi tanpa wujud mi itu paling banyak dikomentari dibandingkan postingan lainnya.

Sudah bisa diprediksi kelanjutannya, dengan sifat latah masyarakat kita terhadap sesuatu yang viral, maka Indomie spesial Ramadan bakal diburu banyak orang. Selain memanfaatkan momen yang jarang-jarang terjadi, kemasan Indomie itu bakal bisa diposting di media sosial. Lumayan untuk memancing like dan komentar.

Saya kemudian tertegun dan bertanya di dalam hati, apa bisa jika merek lain yang melakukan cara promosi serupa Indomie ini? Saya berpikir demikian karena punya pengalaman buruk mempercayai iklan mi instan.

Pernah suatu ketika sekitar satu atau dua tahun lalu, para YouTuber kuliner di Indonesia di-endorse oleh salah satu produsen mi instan yang melabeli diri sebagai mi instan sehat berbahan alami dan tanpa micin. Para YouTuber kuliner memasak dan memakan mi itu dengan ekspresi seolah sedang memakan makanan terlezat di dunia. Dan sebagaimana kita melihat video orang makan, apa pun yang dimakan hampir pasti akan tampak enak belaka.

Berbekal keyakinan bahwa mi instan itu pasti enak dan sehat, saya bergegas mencari mi instan yang sebenarnya langka dan hanya dijual di satu supermarket di kota saya. Akhirnya saya menemukannya. Kemudian saya memasaknya di rumah, sembari membayangkan bakal memakan mi sehat dan enak. Sungguh, ketika memasaknya saya sudah bertekad bakal mengalihkan sepenuhnya langganan mi instan ke merek sehat itu.

Baca Juga:

Ternyata Bulan Puasa dan Lebaran Tidak Lagi Sama Setelah Orang Tersayang Tiada, Tradisi Banyak Berubah dan Jadi Nggak Spesial

Bukber Berkedok Reuni Itu Seperti “Scam”: Adu Outfit, Adu Gaji, Adu Kerjaan, Ujung-ujungnya Adu Nasib

Ketika sudah matang dan bumbu tercampur, saya memandang nanar pada mi goreng berlabel sehat itu. Tak ada aroma wangi bumbu mi instan seperti yang biasa kita hirup sehabis mencampurkan mi dan bumbu. Warnanya pun tak menerbitkan rasa lapar. Ketika menyuap mi itu dan mulai mengunyahnya satu-dua kali, mulut saya tiba-tiba berhenti mengunyah dan seolah ia meringis karena merasai makanan paling tak enak yang pernah dirasakan seumur hidup. Perasaan enek pun mulai muncul dari dalam perut. Saya misuh-misuh di dalam hati dan berjanji tidak akan lagi membeli mi itu.

Padahal visual dari mi itu di video para YouTuber terlihat menarik. Coba bayangkan jika mi sehat yang saya sebut itu ditampilkan tanpa wujud minya di iklan, saya yakin orang bakal susah tertarik untuk membelinya. Kalau mi instan dengan nama cukup besar, mungkin saja bisa melakukan cara serupa Indomie. Namun, Indomie dengan cekatan memakai ide itu lebih dulu memanfaatkan momentum Ramadan.

Dengan merajai pasar mi instan di Indonesia, Indomie kayaknya bebas saja bikin iklan macam-macam. Orang-orang kalau menyebut warung mi instan lebih sering menyebut warung Indomie, ketika bilang sedang makan mi instan juga bilang sedang makan Indomie, dan seterusnya. Mi instan Indomie juga sudah kadung jadi mi favorit kebanyakan masyarakat Indonesia yang memang menggilai mi instan.

Sekadar catatan, katadata.co.id melansir  data World Instant Noodles Asosiation (WINA) yang menyebutkan Indonesia berada di urutan kedua negara pengonsumsi mi instan terbesar di dunia tahun 2018 dengan konsumsi sebanyak 12,54 miliar bungkus. Hanya kalah dari Tiongkok daratan dan Hong Kong yang mencapai 40,25 miliar bungkus. Pasar yang menggiurkan tentu saja.

Merek-merek lain rasanya bakal sangat sukar berhasil menjual produknya dengan masif jika memaksakan diri bikin iklan tanpa wujud mi. Dengan menampilkan visual iklan menarik saja sering bikin orang kecewa, apalagi tanpa visual mi sedang dimasak atau wujud mi di kemasan yang senantiasa menerbitkan rasa lapar itu. Orang-orang bakal mudah memalingkan wajah dan tidak membeli mi instan itu.

Yang perlu digarisbawahi dan jadi pelajaran bersama yaitu Indomie bisa terlihat selow merajai pasar mi instan dan paling dikenal luas di negara ini, ya karena buah dari perjuangan dan kualitas terjaga sejak pertama kali muncul di tahun 1972. Sejak saya kecil sampai sekarang rasa Indomie tetap terenak meski selalu muncul saingan baru, tentu saja ini sangat subjektif.

Indomie sudah pasti tidak perlu bersusah payah menjual produknya, cukup membikin iklan-iklan unik, bakal tetap menjaga ritme penjualannya. Mungkin kalau Indomie menayangkan video sebuah peci teronggok di meja dengan hanya menampilkan logo Indomie, tetap saja bakal laku. Para pencinta Indomie sudah banyak dan militan kok, bahkan ada akun medsos bernama agama Indomie. Mungkin nanti, bakal ada komunitas penyembah Indomie dengan kemasan tanpa wujud mi.

BACA JUGA Menobatkan Diri Sebagai Penyuka Indomie Itu Tidak Sulit dan tulisan Atanasius Rony Fernandez lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 Oktober 2021 oleh

Tags: Iklan RamadanindomiePuasa
Atanasius Rony Fernandez

Atanasius Rony Fernandez

Jurnalis yang tinggal di Mataram, Lombok. Sesekali menulis karya sastra. Tertarik pada isu kesenian, sosial, dan kuliner. Penggemar AS Roma dan musik metal.

ArtikelTerkait

supermi, Jika Makanan Bisa Diberi Gelar Pahlawan, Maka Kami Akan Memilih Mie Instan Sebagai Pahlawan Anak Kosan!

Jika Mie Instan Adalah Agama, Agama Pertama Saya adalah Supermi

15 Juni 2020
Memakai Masker di Bulan Ramadan selain Taat Prokes Juga Bikin PD. #TakjilanTerminal39 terminal mojok.co

Memakai Masker di Bulan Ramadan selain Taat Prokes Juga Bikin PD. #TakjilanTerminal39

3 Mei 2021
Indomie Goreng Kebuli: Varian Menyambut Ramadan yang Kurang Mengena di Hati Pelanggan

Indomie Goreng Kebuli: Varian Menyambut Ramadan yang Kurang Mengena di Hati Pelanggan

13 Maret 2024
info mokel puasa ramadan mojok

Geliat Info Mokel sebagai Ajang Silaturahmi Mereka yang Tidak Puasa. #TakjilanTerminal31

28 April 2021
Lebaran Tahun Ini: Meski Raga Tak Bersama, Silaturahmi Tetap Harus Terjaga Berlutut dan Pakai Bahasa Jawa Kromo Adalah The Real Sungkeman saat Lebaran Selain Hati, Alam Juga Harus Kembali Fitrah di Hari yang Fitri Nanti Starter Pack Kue dan Jajanan saat Lebaran di Meja Tamu Mengenang Keseruan Silaturahmi Lebaran demi Mendapat Selembar Uang Baru Pasta Gigi Siwak: Antara Sunnah Nabi Atau Komoditas Agama (Lagi) Dilema Perempuan Ketika Menentukan Target Khataman Alquran di Bulan Ramadan Suka Duka Menjalani Ramadan Tersepi yang Jatuh di Tahun Ini Melewati Ramadan dengan Jadi Anak Satu-satunya di Rumah Saat Pandemi Memang Berat Belajar Gaya Hidup Eco-Ramadan dan Menghitung Pengeluaran yang Dibutuhkan Anak-anak yang Rame di Masjid Saat Tarawih Itu Nggak Nakal, Cuma Lagi Perform Aja Fenomena Pindah-pindah Masjid Saat Buka Puasa dan Salat Tarawih Berjamaah 5 Aktivitas yang Bisa Jadi Ramadan Goals Kamu (Selain Tidur) Nanti Kita Cerita tentang Pesantren Kilat Hari Ini Sejak Kapan sih Istilah Ngabuburit Jadi Tren Ketika Ramadan? Kata Siapa Nggak Ada Pasar Ramadan Tahun Ini? Buat yang Ngotot Tarawih Rame-rame di Masjid, Apa Susahnya sih Salat di Rumah? Hukum Prank dalam Islam Sudah Sering Dijelaskan, Mungkin Mereka Lupa Buat Apa Sahur on the Road kalau Malah Nyusahin Orang? Bagi-bagi Takjil tapi Minim Plastik? Bisa Banget, kok! Nikah di Usia 12 Tahun demi Cegah Zina Itu Ramashok! Mending Puasa Aja! Mengenang Kembali Teror Komik Siksa Neraka yang Bikin Trauma Keluh Kesah Siklus Menstruasi “Buka Tutup” Ketika Ramadan Angsle: Menu Takjil yang Nggak Kalah Enak dari Kolak Nanjak Ambeng: Tradisi Buka Bersama ala Desa Pesisir Utara Lamongan

Keluh Kesah Siklus Menstruasi “Buka Tutup” Ketika Ramadan

30 April 2020
Jangan Makan Indomie Tanpa 6 Bahan Tambahan Ini terminal mojok

Jangan Makan Indomie Tanpa 6 Bahan Tambahan Ini

12 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial Mojok.co

Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial

16 Maret 2026
KA Sri Tanjung, Juru Selamat yang Bikin Menderita para Pekerja (Wikimedia Commons)

KA Sri Tanjung Adalah Juru Selamat Bagi Kaum Pekerja: Tiketnya Murah dan Nyaman tapi Bikin Menderita karena Sangat Lambat

18 Maret 2026
Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar Mojok.co

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

13 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026
Tips Membuka Bisnis Rental Mobil Selama Lebaran untuk Pemula, Alias Nggak Usah!

Tips Membuka Bisnis Rental Mobil Selama Lebaran untuk Pemula, Alias Nggak Usah!

14 Maret 2026
KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi (Unsplash)

KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi

17 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 
  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 
  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.