Awal tahun 2026 tepat satu dekade saya lulus kuliah dan menapaki jenjang karier profesional. Ingatan saya terlempar ke masa itu, ketika anak muda awal 20 tahunan sibuk kesana-kemari berharap ada CV-nya nyangkut. Tentu saya memasukkan Jakarta sebagai list tujuan utama, iming-iming UMR yang tinggi membuat anak daerah seperti saya mudah tergiur.
Namun, ada beberapa realitas yang membuat saya shock ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta.
Ditipu ojek online di Jakarta
Awal tahun 2016 saya mendapatkan panggilan tes kerja salah satu perusahaan ritel di Jakarta. Perusahaan tersebut memberikan fasilitas tiket dan penginapan bagi peserta test calon karyawannya. Singkat cerita saya naik kereta dan turun di Stasiun Jatinegara. Teman saya yang lebih paham akan Jakarta mewanti-wanti agar naik taksi Blue Bird saja ke penginapan. Tapi ya, namanya darah muda, saya lebih memilih naik ojek online ke penginapan karena lebih murah meriah.
Itulah kali pertama saya mendownload aplikasi Uber. Sebagai pelanggan baru, saya mendapatkan 1 kali gratis perjalanan. Tarif yang tertera di aplikasi Rp5.000,- dicoret menjadi 0 rupiah. Awalnya saya tidak merasa aneh hingga driver ojol bertanya, “Baru pertama kali ke Jakarta Bang?”
Saya yang masih polos tentu menjawab dengan jujur. Sesampainya di lokasi penginapan si driver meminta ongkos 5 ribu rupiah. Tentu saya mengelak karena di aplikasi tertulis gratis. Si driver tetap ngotot hingga saya mengeluarkan selembar uang lima ribu rupiah daripada ribut. Ketika saya bercerita ke teman dia berkata, “Jangan tolol-tolol amat, Bro, walaupun gratis dia dapat uang dari aplikasinya. Kalo kamu bayar cash berarti dia dapat double,”
Anjir, baru turun dari stasiun saja sudah kena tipu.
Dilarang makan minum di Transjakarta
Di Jogja saya sering bepergian menggunakan bus kota atau Trans Jogja, tapi pengalaman naik Transjakarta sangatlah berbeda. Selain memiliki jalur tersendiri, Transjakarta memiliki kapasitas penumpang yang lebih besar daripada Trans Jogja. Sebelum naik Transjakarta saya menyempatkan diri membeli cakwe di Abang penjual gorengan di sekitar halte. Setelah menunggu agak lama, bus Transjakarta yang kami tunggu akhirnya datang juga. Begitu dapat tempat duduk saya langsung menyantap cakwe tersebut dengan membaluri saos tomat sebelumnya.
Beberapa menit kemudian saya merasa aneh dan bergumam, “Ini kok orang-orang pada lihat ke arah saya?”. Dan selang berapa lama kondektur atau pramugara bus Transjakarta mendatangi saya, “Maaf Mas, dilarang makan-minum di Bus Transjakarta,” Saya yang tidak tahu tentang peraturan tersebut menjadi malu dan langsung berhenti mengunyah.
Merasa kasir Indomaret bekerja tidak memakai hati
“Selamat datang di Indomaret, Selamat Berbelanja!” merupakan SOP yang wajib dilakukan oleh penjaga toko Indomaret ketika ada pelanggan yang singgah. Tapi anehnya saya merasa kasir Indomaret di Jakarta menyampaikan hal tersebut hanya sebatas prosedural SOP saja, terkesan dingin tanpa tersenyum dan pakai hati.
Lain halnya dengan di Jogja, bukan bermaksud meromantisasi, pelayan Indomaret menyampaikan salam khas Indomaret tersebut dengan senyum, sapa dan santun. Entah rasanya saat itu pengin cepet-cepet selesai urusan di Jakarta dan segera pulang ke Jogja.
Itulah 3 culture shock sederhana yang saya alami ketika menapakkan kaki di Jakarta untuk pertama kalinya. Tampaknya doktrin Ibu Kota lebih kejam daripada Ibu Tiri membuat Jakarta selalu serba salah di mata saya.
Penulis: Arief Nur Hidayat
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Derita Pekerja Jogja Pindah Jakarta: Gaji Lebih Tinggi, tapi Semua Serba Cepat dan Nggak Pakai Hati
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
