Como 1907 Memang Tempat yang Pas untuk Nico Paz  

Como 1907 Memang Tempat yang Pas untuk Nico Paz  

Como FC Memang Tempat yang Pas untuk Nico Paz (Pixabay.com)

Tahun lalu, saya menulis di Como Indonesia tentang Nico Paz. Kemunculannya mengobrak-abrik Serie A bikin pemuda jebolan La Fabrica ini menarik perhatian dunia. Saat itu, saya menulis agar Nico tetap bertahan di Como 1907, jangan balik dulu ke Real Madrid, sebab memang Como lah tempat yang tepat untuknya.

Lalu yang terjadi di tahun ini pun seperti itu. Meski Real Madrid mengaktifkan klausul buyback-nya, entah bagaimana, tahun depan (hampir pasti) Nico Paz akan bertahan di Como 1907. Detilnya seperti bagaimana, mungkin hanya Mirwan dan Perez yang tahu. Tapi yang jelas, untuk tim yang baru saja lolos ke Liga Champions pertama kali sepanjang sejarah, ini adalah kabar yang baik.

Mungkin ini langkah terbodoh yang dilakukan Madrid, mengingat Nico adalah talenta yang amat bersinar. Mungkin juga tidak, mengingat Madrid melepas bintang dengan begitu mudah. Saya tak sedang berbicara tentang Ceballos, yang saya maksud adalah Hakimi, Odegaard, Eto’o, dan lain-lain.

Yang jelas, kita masih bisa menikmati magis yang Nico persembahkan untuk Como 1907, tim kecil yang mendobrak logika di Serie A.

BACA JUGA: 4 Alasan Kenapa Serie A Tidak Menarik untuk Ditonton

Bukan tempat yang pas untuk Nico Paz

Kita mulai dulu dengan bicara tentang berita yang selama hampir 6 bulan digoreng terus-terusan oleh Fab Romano, jurnalis tap-in yang kerap dianggap sebagai nabi transfer itu. Nico Paz katanya akan kembali ke Real Madrid, dan jadi salah satu pemain andalan. Jujur saja saat itu saya senang juga mendengarnya. Tapi logika saya mengatakan sebaliknya.

Fans Madrid beneran pasti akan mikir, mau ditaruh di mana Nico nanti? Di AMF, jelas sudah ada Arda Guler dan Jude Bellingham. Menggeser dua pemain tersebut hampir mustahil. Ditaruh di kanan, makin tak mungkin. Ada Rodrygo, Brahim Diaz, Mastantuono.

Ini kita belum bicara Bernardo Silva yang datang secara tiba-tiba. Lalu, Endrick yang diproyeksikan jadi winger kanan. Ini juga belum bicara tentang kabar santer Enzo Fernandes dan Michael Olise akan bergabung ke Madrid.

Singkatnya, kembali ke Madrid, jelas bukan langkah yang amat bijak untuk Nico Paz. Jelas tidak. Kecuali kamu mau jadi cadangan mati macam Fran Garcia, Luka Jovic, dan Odriozola. Tapi saya rasa tak ada orang yang cukup waras mau jadi cadangan mati.

Praktis, bertahan di Como 1907 sembari mengasah diri tidak bisa tidak adalah keputusan yang tepat. Como mungkin tim kecil. Kilau tim Premier League bisa jadi bikin mata Nico silau. Tapi, kenapa harus pindah demi yang berkilau, jika kamu bisa jadi pusat semesta dan membangun dinastimu sendiri?

Desir tenang air Danau Como

Gara-gara Mbappe yang menggila di Final Piala Dunia 2018, diperparah oleh Vini, Jude, Ansu Fati (sempat), dan Lamine Yamal, standar kita pada pemain muda ini mulai tidak sehat. Kita punya ekspektasi pemain umur 17-19 tahun punya kemampuan dan composure ala seasoned player yang sudah makan asam garam sepak bola.

Padahal normalnya anak usia segitu ya bikin kesalahan, belajar, bangkit lagi. Jatuh bangun dan melihat bagaimana dunia bekerja adalah langkah yang harusnya mereka jalani. Bukan malah tiba-tiba diberi beban menggendong dunia di pundak.

Makanya, langkah bertahannya Nico Paz di Como 1907 adalah keputusan terhebat yang bisa dia ambil. Dia bisa tetap mengasah diri, tanpa terbebani ekspektasi, sembari ditenangkan oleh desir air Danau Como yang indah. Apa yang lebih indah dari berangkat/pulang latihan lalu disambut kemilau air danau yang tersinari matahari?

Nico Paz biarkan tetap mengolah bola bersama Como 1907. Tak perlu dia balik ke Bernabeu dan harus beradu sikut dengan para veteran bintang dunia. Bukan karena dia tak pantas, tapi dia sudah jadi pangeran yang dibutuhkan di tempat lain. Memang, Real Madrid adalah kiblat tim terbaik dunia. Pemain terbaik di dunia, berkumpul di Real Madrid.

Tapi haruskah kamu kembali dan mempertaruhkan semuanya, jika kau bisa mendapatkan hal yang sama di tempat yang menerimamu dengan tangan terbuka?

Maka dari itulah, Como adalah tempat yang paling pas untuk Nico Paz.

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Real Madrid, Klub yang Tidak Punya Zaman

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version